Pengertian Lembaga Keluarga

Assalammualaikum, Selamat datang di Kelas IPS. Disini Ibu Guru akan membahas tentang pelajaran Sosiologi yaitu Tentang “Lembaga Keluarga“. Berikut dibawah ini penjelasannya:

Pengertian-Lembaga-Keluarga

Pengertian Lembaga Keluarga

Lembaga keluarga adalah lembaga yang bersifat universal artinya seluruh masyarakat didunia mengenal akan lembaga tersebut. Dalam kajian sosiologi, keluarga merupakan salah satu bentuk masyarakat dalam kesatuan sosial yang terkecil yang berfungsi untuk melangsungkan eksistensi kemasyarakatan melalui fungsi reproduksi dan sosial lembaga.

Lembaga tidak terlepas dari masa lasing yang diatur melalui perkawinan pemeliharaan anak, kekerabatan pemenuhan kebutuhan pokok pencapaian tujuan dan pembinaan masalah kewargaan. Kelansungan hidup dalam keluarga akan tergantung dari partisipasi sluruh anggota keluarga untuk membinanya.

Ayah berfungsi sebagai kepala keluarga yang berperan sebagai pemimpin dalam aktivitas keluarga. Ibu berperan sebagai pengayong membina anak-anak dan sebagai tempat untuk bertukar pikiran diantara keluarga-keluarga. Begitu pula dengan anggota yang lain anak dan kerabat menjadi satu unit keluarga, memiliki kewajiban untuk ikut menjaga keluarga dan juga kelansungan keluarga.


Ciri-Ciri Lembaga Keluarga

Berikut ini terdapat beberapa ciri-ciri lembaga keluarga, yaitu sebagai berikut:

  1. Merupakan suatu kelompok sosial yang terdiri dari berbagai usia dan jenis kelamin.
  2. Minimal 2 orang dari mereka mempunyai hubungan sebagai suami dan istri yang diakui oleh masyarakat dan mepunyai anggota keluarga melalui suatu pernikahan yang sah.
  3. Mempunyai seperangkat aturan sosial tetentu yang diakui dan dijalankan bersama-sama oleh seluruh anggota keluarga.
  4. Mempunyai fungsi pokok, diantaranya fungsi reproduksi,ekonomi,sosialisasi dan perlindungan.
  5. Menempati tempat tertentu dalam jangka waktu tertentu.

Fungsi Lembaga Keluarga

Setelah sebuah keluarga terbentuk ,anggota keluarga yang ada di dalamnya memiliki tugas masing-masing. Suatu pekerjaan yang harus dilakukan dalam kehidupan keluarga inilah yang di sebut fungsi. Jadi,fungsi keluarga adalah suatu pekerjaan atau tugas yang harus dilakukan didalam atau di luar keluarga. Fungsi keluarga terdiri dari:


  1. Fungsi Biologis

Fungsi ini berkaitan erat dengan pemenuhan kebutuhan seksual suami istri. Keluarga ialah lembaga pokok yang secara abash memberikan uang bagi pengaturan dan pengorganisasian kepuasan seksual. Kelangsungan sebuah keluarga, banyak di tentukan oleh keberhasilan dalam menjalani fungsi biologis ini. Apabila salah satu pasangan kemudian tidak berhasil menjalankan fungsi biologisnya, dimungkinkan akan terjadinya gangguan dalam keluarga yang biasanya berujung pada perceraian dan poligami.

Inti dari fungsi biologis ini yaitu bahwa funsi keluarga yaitu untuk memperkembangkan keturunan.


  1. Fungsi Sosialisasi Anak

Fungsi sosialisasi menunjuk pada peranan keluarga dalam membentuk kepribadian anak. Melalui fungsi ini keluarga berusaha mempersiapkan bekal selengkap-lengkapnya kepada anak dengan memperkenalkan pola tingkah laku, sikap, keyakinan, cita-cita dan nilai-nilai yang di anut oleh masyarakat serta mempelajari peranan yang diharapkan akan dijalankan mereka. Sosialisasi berarti melakukan proses pembelajaran terhadap seorang anak.


  1. Fungsi Afeksi

Salah satu kebutuhan dasar manusia ialah kebutuhan kasih sayang atau rasa di cinta. Kebutuhan kasih sayang merupakan kebutuhan yang sanga penting bagi seseorang yang diharapkan bisa di perankan oleh keluarga. Kecenderungan dewasa ini menunjukkan fungsi afeksi telah bergeser kepada orang lain, terutama bagi mereka yang orang tuanya bekerja diluar rumah. Konskuensinya anak tidak lagi dekat secara psikologis karena anak akan menganggap orang tuanya tidak memiliki perhatian. Sehingga dengan fungsi ini akan menjalin keharmonisan dalam keluarga.


  1. Fungsi Edukatif

Keluarga merupakan guru pertama dalam mendidik manusia. Dalam hal itu dapat dilihat dari pertumbuhan seorang anak dimulai dari bayi,belajar jalan-jlan hingga mampu berjalan. Semuanya diajari oleh keluarga. Tanggung jawab keluarga untuk mendidik anak-anaknya sebagian besar atau bahkan mungkin seluruhnya telah diambil oleh lembaga pendidikan formal maupun non formal.

Oleh karena itu, muncul fungsi laten pendidikan terhadap anak yaitu melemahnya pengawasan dari orang tua.


  1. Fungsi Religius

Dalam masyarakat Indonesia dewasa ini fungsi keluarga semakin berkembang, diantaranya fungsi keagamaan yang mendorong dikembangkannya keluarga dan seluruh aggotanya menjadi insan-insan agama yang penuh keimanan dan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Fungsi Religius dalam keluarga merupakan salah satu indicator keluarga sejahtera.

Model pendidikan agama dalam keluarga dapat dilakukan dengan berbagai cara yaitu:

  • Cara hidup yang sungguh-sungguh dengan menampilan penghayatan dan perilaku keagamaan dalam keluarga
  • Menampilkan aspek fisik berupa sarana ibadah dalam keluarga berupa hubungan social antara anggota keluarga dan lembaga-lembaga keagamaan.

Pendidikan agama dalam keluarga, tidak saja bisa dijalankan dalam keluarga, akan tetapi dapat pula dengan menawarkan pendidikan agama, seperti pesantren,tempat pengajian,majelis taklim,dan sebagainya.


  1. Fungsi Protektif

Keluarga merupakan tempat yang nyaman bagi para anggotanya. Fungsi ini bertujuan agar para anggota keluarga dapat terhindar dari hal-hal yang negatif. Dalam setiap masyarakat, keluarga memberikan perlindungan fisik, ekonomi, dan psikologis bagi seluruh anggotanya. Sebagian masyarakat memandang bahwa serangan terhadap salah seorang keluarga berarti serangan bagi seluruh keluarga dan semua anggota keluarga wajib membela atau membalaskan penghinaan itu.

Namun demikian, Fungsi perlindungan dalam keluarga itu lambat laun bergeser dan sebagian telah diambil alih oleh lembaga lainnya seperti tempat perawatan anak, anak cacat tubuh dan mental,anak nakal,anak yatim piatu, orang-orang lanjut usia.

Artikel Terkait:  Materi Perubahan Sosial

  1. Fungsi Rekreatif

Fungsi ini bertujuan untuk memberikan suasana yang segar dan gembira dalam lingkungan. Fungsi Rekreatif dijalankan untuk mencari hiburan. Dewasa ini tempat-tempat hiburan banyak berkembang di luar rumah karena berbagai fasilitas dan aktivitas rekreasi berkembang dengan pesatnya. Media TV termasuk dalam keluarga sebagai sarana hiburan bagi anggota keluarga.


  1. Fungsi Ekonomis

Keluarga berusaha menyelenggarakan kebutuhan pokok, seperti :

  • Kebutuhan akan makanan dan minuman
  • Pakaian untuk menutupi tubuhnya
  • Kebutuhan akan tempat tinggal.

Pada masa lau keluarga di Amerika berusaha memproduksi beberapa unit kebutuhan rumah tangga dan menjualnya sendiri.Keperluan rumah tangga itu, seperti seni membuat kursi, makanan dan pakaian di kerajakan sendiri ayah, ibu, anak, dan sanak saudara yang lain untuk menjalankan fungsi ekonominya sehingga mereka mampu mempertahankan hidupnya.

Seiring dengan perubahan waktu dan pertumbuhan perusahaan serta mesin-mesin canggih, peran keluarga yang dulu sebagai lembaga ekonomi secara perlahan-lahan hilang. Bahkan keluarga yang ada pada mulanya disatukan dengan pekerjaan yang mampu memenuhi kebutuhan sendiri dalam rumah tangganya. Kini keluarga merupakan suatu kesatuan konsumsi ekonomis yang di persatukan oleh persahabatan.


  1. Fungsi Penentuan Status

Dalam sebuah keluarga, seseorang menerima serangkaian status berdasarkan umur, urutan kelahiran, dan sbagainya. Status/kedudukan ialah suatu peringkat atau posisi seseorang dalam suatu kelompok atau posisi kelompok dalam hubungannya dengan kelompok lainnya. Status tidak dapat di pisahkan dari peran.

Peran adalah perilaku yang diharapkan dari seorang yang mempunyai status. Status dan peran terdiri atas dua macam yaitu status dan peran yang ditentukan oleh masyarakat dan status dan peran yang diperjuangkan oleh usaha-usaha manusia. Misalnya wanita adalah status yang ditentukan (ascribed), seseorang mencapai status melalui tahapan tersendiri yang di usahakan (achieved).


  1. Funsi Manifest

Dengan adanya keluarga mereka dapat melanjutkan keturunan (fungsi biologis). Penduduk lama di daerah ini rata-rata merupakan kelurga besar (memiliki banyak anak). Hal ini mungkin dipengaruhi dengan adanya semboyan orang zaman dulu ‘banyak anak banyak rejeki’. Namun, sejalan dengan berkembangnya zaman, penduduk di daerah ini mulai menerapkan KB sehingga  semboyann tersebut mulai menghilang.

Jadi, keluarga mempunyai fungsi manifest sebagai pengaturan hubungan biologis atau reproduksi. Melalui hubungan biologis inilah keluarga memperoleh keturunan sehingga keberadaan keluarga dapat terus berlanjut.

Keluarga juga mempunyai fungsi manifest sebagai tempat untuk menapatkan kasih saying (afeksi). Di daerah ini, fungsi keluarga sebagai fugsi afeksi berjalan dengan sangat baik. Masing-masing orang tua memiliki cara tersendiri untuk mencurahkan rasa kasih saying terhdap keluarganya.

Fungsi manifest yang paling tampak adalah fungsi edukatif (mendidik keluarga). Keluarga merupakan tempat pertama bagi orang anak untuk menerima pendidikan dan pembinaan. Melalui keluarga, kepribadian anak akan terbentuk melalui proses inteaksi yang terjadi dalam keluaraga. Dalam hal ini, yang paling berperan adalah orang tua. Jadi, Orang tua harus menjadi figure yang baik bagi anak-anaknya.


  1. Fungsi Laten (Tersembunyi)

Lembaga keluarga memiliki fungsi ekonomi (mengatur masala ekonomi keluarga) yang berbeda-beda. Mayoritas, dalam pemenuhan kebutuhan, keluarga di daerah ini saling melengkapi. Artinya, tidak hanya ayah (kepala keluarga) saja yang mencari nafkah, tetapi istripun juga berperan dalam pemenuhan kebuuhan keluarga.

Keluarga juga berperan penting dalam fungsi religius. Keluarga yang ada di daerah ini mayoritas beragama islam, secara turun temurun, mereka juga mengajarkan ajaran agama islam kepada anak-naknya. Jadi, dalam hal ini, keluarga memunyai fungsi untuk memperenalkan anggota keluarganya untuk hidup beragama.


Bentuk Lembaga Keluarga

Berikut ini terdapat beberapa bentuk lembaga keluarga, yaitu sebagai berikut:


1. Berdasarkan Jumlah Anggota Keluarga

Yaitu sebagai berikut:


  • Keluarga Batih (Nuclear family)

Keluarga Batih adalah kelompok orang yang terdiri dari ayah, ibu, dan anak-anaknya yang belum memisahkan diri dan membentuk keluarga tersendiri. Keluarga ini bisa juga disebut keluarga conjugal (conjugal family), yaitu keluarga yang terdiri dari pasangan suami istri bersama anak-anaknya. Keluarga Batih (keluarga inti) terdapat pada masyarakat praindustri.

Meskipun keluarga lain tidak lepas dari perhatian tekanan pada hubungan antar keluarga rumah tangga tempat dia tinggal. Pola keluarganya berupa pada keluarga inti ialah tempat tinggal yang sama dengan jumlah anggota terbatas.


  • Keluarga Luas (Extended family)

Keluarga luas yaitu keluarga yang terdiri dari semua orang yang berketurunan dari kakek dan nenek yang sama termasuk keturunan masing-masing istri dan suami. Dengan kata lain keluarga luas ialah keluarga batih ditambah kerabat lain yang memiliki hubungan erat dan senantiasa di pertahankan. Sebutan keluarga yang diperluas digunakan bagi suatu system yang masyarakatnya mengiginkan beberapa generasi yang hidup dalam suatu atap rumah tangga.

Istilah keluarga luas seringkali digunakan untuk mengacu pada keluarga batih berikut keluarga lain yang memilki hubungan baik dengannya dan tetap memelihara dan mempertahankan hubungan tersebut. Keuntungan keluarga luas yaitu pertama:keluarga luas banyak ditemukan di desa-desa dan bukan pada daerah industry. Keluarga luas sangat cocok dengan kehidupan desa, yang dapat memberikan pelayanan sosial bagi  anggota-anggotanya. Kedua, keluarga luas mampu mengumpulkan modal ekonomi secara besar.


2. Berdasarkan Sistem yang Digunakan

Yaitu sebagai berikut:


  1. Keluarga Pangkal (Steam Family)

Keluarga Pangkal yaitu sejenis keluarga yang menggunakan system pewarisan kekayaan pada satu anak yang paling tua.Keluarga pangkal ini banyak terdapat di Eropa zaman feudal. Para petani imigran AS dan di zaman Tokugawa Jepang. Pada masa tersebut seorang anak yang paling tua bertanggung jawab terhadap adik-adiknya yang perempuan sampai ia menikah, begitu pula terhadap saudara laki-lakinya yang lainnya. Dengan demikian, pada jenis keluarga ini pemusatan kekayaan hanya pada satu orang.

Artikel Terkait:  38 Pengertian Sosiologi Menurut Para Ahli dalam Bukunya

  1. Keluarga Gabungan (Joint family)

Keluarga Gabungan yaitu keluarga yang terdiri atas orang-orang yang berhak atas hasil milik keluarga antara lain saudara laki-laki pada setiap generasi. Disini tekananya hanya pada saudara laki-laki karena menurut adat Hindu anak laki-laki sejak kelahirannya mempunyai hak atas kekayaan keluarga. Kendatipun antar saudara laki-laki itu tinggal terpisah mereka menganggap dirinya sebagai suatu keluarga gabungan dan tetap menghormati kewajiban mereka bersama termasuk membuat anggran perawatan harta keluarga dan menetapkan anggaran belanja.

Disini terlihat bahwa keluarga gabungan didasarkan atas hubungan antara laki-laki yang telah dewasa dan bukan padahubungan suami istri.


3. Berdasarkan Status Individu dalam Keluarga

Yaitu sebagai berikut:


  • Keluarga Prokreasi dan Keluarga Orientasi

Keluarga Prokreasi adalah sebuah keluarga yang individunya merupakan orang tua. Adapun orientasi adalah keluarga yang individunya merupakan salah seorang keturunan. Ikatan pernikahan ini tidak dengan sendirinya  perkawinan merupakan dasar bagi terbentuknya suatu keluarga baru (keluarga prokreasi) sebagai unit terkecil dalam masyarakat.

Namun demikian, perkawinan ini tidak dengan sendirinya menjadi sarana bagi penerimaan anggota dalam keluarga asal (orientasi). Hubungan suami dan istri dengan keluarga orientasinya sangat erat dan kuat. Otonomi dalam mengatur keluarga kadang-kadang berbenturan dengan kepentingan keluarga orientasi bahkan dalam batas-batas tertentu, keluarga orientasi bisa ikut campur dalam mengatur rumah tangga yang mengakibatkan putus ikatan perkawinan.


Peranan  Lembaga Keluarga

Keluarga memiliki suatu tugas yang mana dalam tugas ini merupakan sebagai salah satu peran yang memang dibutuhkan dalam keluarga. Baik bersifat khusus maupun umum. Dalam hal ini, penulis akan mengutarakan peranan keluarga baik kepada masyarakat maupun bagi keluarga itu sendiri. Dengan demikian penulis mengklasifikasikan keluarga sebagai berikut :


  • Keluarga Sebagai Lembaga Sosial

Konsep sosiologis mengenai lembaga berbeda dengan konsep yang umum digunakan. Sebuah lembaga bukanlah sebuah bangunan sekelompok orang dan bukan juga sebuah organisasi. Lembaga (institution) adalah suatu system norma untuk mencapai suatu tujuan atau kegiatan yang oleh masyarakat dianggap penting.

Dalam masyarakat yang paling sederhana, keluarga adalah lembaga sosial satu-satunya. Pekerjaan diatur oleh unit-unit keluarga, sedangkan anak-anak dididik oleh anggota keluarga. Dalam masyarakat seperti ini, tidak dibutuhkan struktur lain diluar keluarga.

Suatu lembaga tidak lagi memiliki anggota, melainkan pengikut. Perbedaan anggota dan pengikut sangatlah tipis, misalnya lembaga perbankan adalah prosedur yang dibekukan untuk mengelola transaksi keuntungan tertentu. Bankir adalah orang yang memimpin transaksi tersebut. Bank adalah sekelompok bankir yang terorganisasi. Pendidikan adalah lembaga yang berupaya mengatur mekanisme pendidikan. Dalam bentuknya yang kongkrit pendidikan berwujud sebagai universitas, sekolah dasar dan sebagainya.

Proses terjadinya suatu lembaga sangatlah panjang. Mula-mula orang mencari cara praktis dalam memenuhi kebutuhannya. Dalam pemenuhan kebutuhan itu, dibuatlah norma dan aturan. Dalam terbentuknya aturan bisa tertulis atau tidak tertulis. Aturan itu ada yang mengikat para anggota masyarakat dan ada yang tidak. Kekuatan sebuah aturan dapat diketahui dari acaranya (usage) masyarakat memperlakukannya, kebiasaan (folkways) dan adai istiadat (custom). Bila sudah dilakukan oleh masyarakat, norma tersebut telah melembaga.

Norma yang telah melembaga itu pada akhirnya tumbuh dan berkembang dimasyarakat kemudian membentuk intitusi atau pranata. Terbentuknya pranata dalam sebuah masyarakat, pada dasarnya mempunyai tiga fungsi, yaitu untuk memberikan pedoman pada anggota masyarakat untuk bertindak, menjaga keutuhan masyarakat, dan mengadakan system pengendalian social (social control) Akhirnya, muncullah lembaga keluarga dalam masyarakat sebagai bagian dari pemenuhan kebutuhan seksual, perlindungan, kasih sayang dsb. Lembaga keluarga ini kemudian memberikan pengaturan tertentu yang dapat diikuti manusia.


  • Keluarga sebagai inti masyarakat

Keluarga sebagai inti masyarakat dapat dilihat dari dua segi yaitu:

  1. Dari urgensi keluarga itu sendiri di tengah-tengah masyarakat. Pada bagian ini keluarga di temapatkan sebagai lembaga sosial yang sangat penting dibandingkan dengan lembaga lainnya. Penjelasannya mengarah pada argumen-argumen yang menempatkan keluarga sebagai lembaga yang tiada bandingannya.
  2. Dapat juga di jelaskan melalui sejarah keluarga. Pada bagian ini peran keluarga di tengah-tengah masyarakat memiliki kontribusi penting bagi terbentuknya lembaga-lembaga social pada umumnya.

Keluarga merupakan kelompok sosial pertama dalam kehidupan sosial. Didalam kelompok primer ini terbentuklah norma-norma sosial berupa frame of reference  dan sense of belonging. Didalam keluarga manusia pertama kali memperhatikan keinginan orang lain, belajar sama dan belajar membantu orang lain.

Para sosiolog keluarga meyakini, meskipun perubahan besar terjadi pada setiap lapisan masyarakat, keluarga mendapat tugas penting untuk ikut ambil bagian di dalamnya. Bahkan, keluarga menjadi sumber kepuasan emosional yang terbesar. Secara historis, peran keluarga di tengah-tengah masyarakat jauh lebih penting dari pada lembaga sosial lainnya.

Keluarga merupakan kelompok primer dalam masyarakat. Kelompok primer adalah suatu kelompok yang menyebabkan dapat mengenal orang lain sebagai suatu pribadi secara akrab. Hal tersebut dilakukan melalui suatu hubungan social yang bersifat informal, akrab, personal, dan total yang mencakup banyak aspek dari pengalaman hidup seseorang.

Kelompok primer dipandang penting karena perasaan dan perilaku yang dijalankannya memiliki arti tersendiri. Dalam kelompok primer, seseorang mengemukakan keakraban, simpati dan rasa kebersamaan yang menyenangkan.


  • Keluarga Sebagai Sumber Nilai, Sikap, dan Norma

Keluarga merupakan sumber utama dan pertama dalam proses penanaman nilai dan norma. Penanaman ini dilakukakan lewat interaksi sosial. Nilai ialah  gagasan mengenai suatu perbuatan atau pengalaman yang mempunyai arti atau tidak. Seseorang yang telah melakukan interaksi dengan berbagai pengaruhnya akan memberikan kesadaran mengenai adanya nilai-nilai yang ada di sekitarnya. Nilai itu dapat diartikan sebagai sikap dan perasaan yang diperlihatkan oleh seseorang  tentang baik-buruk, benar-salah, suka-tidak suak terhadap objek material maupun non material.

Artikel Terkait:  Struktur Sosial

Setelah seseorang mengetahui adanya tata nilai disekelilingnyayang positif dan negative dia akan berfikir dan mengetahui nilai-nilai yang perlu ia kerjakan. Dalam proses berfikir ia kemudian memahami nilai-nilai itu sehingga tertanam (internalisasi) dalam dirinya. Selanjutnya ia mempraktekkan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Nilai-nilai yang sudah dipraktekkan itu lama kelamaan berubah menjadi norma-norma. Norma adalah aturan yang mengandung sanksi untuk mendorong bahkan menekankan orang perongan secara keseluruhan.

Norma-norma dibedakan dalam 4 macam yaitu berikut ini:

  1. Norma agama,yaitu norma yang berasal dari Tuhan melalui para nabi untuk disampaikan kepada umat manusia.
  2. Norma Kesusilaan,yaitu norma yang berasal dari hati nurani manusia yang biasanya ditampakkan orang sesuai dengan keyakinan terhadap agama.
  3. Norma kesopanan,yaitu norma yang berasal dari pergaulan masyarakat.
  4. Norma Hukum,yaitu norma yang dibuat oleh pemerintah demi terciptanya kehidupan bermasyarakat.

  • Sosialisasi Dalam Keluarga

Sosialisasi bagi manusia berlangsung terus selama dia hidup yaitu sejak ia dilahirkan sampai ia meninggal dunia. Setidaknya siklus kehidupan manusia ditentuka oleh beberapa masa yaitu masa kanak-kanak, masa remaja, masa dewasa, masa tua, dan masa kematian.


  1. Sosialisasi Pada Masa Kanak-Kanak

Orang tua memilki kewajiban kepada anak-anaknya tentang segala hal. Kewajiban ini merupakan bentuk peran orang tua merupakan bentuk peran orang tua dalam sosialisasi. Pada masa kanak-kanak orang tua merupakan agen tunggal bagi anak dalam bersosialisasi.Proses sosialisasi pada tahap ini digambarkan melalui konsep A-G-I-L yang diperkenalkan Talcott Parsons dalam menganalisis tindakan sosial. (adaption), (goal attainment), (integration), dan (latent).


  1. Sosialisasi Pada Masa Remaja

Pada masa ini seseorang berada pada masa transisi,yaitu meninggalkan masa kanak-kanak dan memasuki usia remaja. Masa ini disebut juga sebagai reverse socialization, yaitu orang lebih muda dapat menggunakan pengaruh mereka kepad orang yang lebih tua. Dengan kata lain recerse socialization berarti orang yang seharusnya disosialisasikan tetapi justru menyosialisasikan. Agen sosialisasi pada masa remaja bukan lagi orang tua melainkan bteman sebaya,kelompok sepermainan dan mungkin juga lawan jenisnya.


  1. Sosialisasi Pada Masa Dewasa

Proses sosialisasi dialami oleh orang dewasa pada saat mereka mendapatkan peran yang baru, bagi orang dewasa, peran baru itu dapat berupa mendapatkan pekerjaan, menikah, peran baru itu dapat berupa mendapatkan pekerjaan, menikah, dan memilki anak. Tiga bentuk peran itu menuntut seseorang melakukan pembelanjaran.Semua peran baru ini menuntut orang dewasa memulainya lagi dari nol sebab ia belajar bersosialisasi kembali.


  1. Sosialisasi Pada Masa Tua

Orang lanjut usia sama seperti seorang remaja yang mengalami transisi, yaitu  dari masa orang tua yang produktif ke masa menuju kematian. Pada masa ini ia juga banyak bergantung dengan anak atau saudara-saudaranya. Proses sosialisasi bagi mereka dilakukan secara bertahap.

Peran Orang Tua dalam sosialisasi, dalam situasi normal pihak pertama yang dihubungi seorang anak adalah ibunya. Hubungan denga ibu pada tahun pertama lebih erat dibandingkan dengan hubungan terhadap ayah. Semakin anak tumbuh besar pengendalian atau pengawasan dari orang tua perlu semakin ditingkatkan. Pertama-tama perlu disadari bahwa cara pengendalian diri tidak semata-mata terdiri dari paksaan, hukuman, dan seterusnya.

Arti sesungguhnya pengendalian sosial adalah jauh lebih luas yaitu meliputi segala proses baik yang direncanakan atau tidak yang bersifat mendidik, mengajak atau bahkan memaksa warga masyarakatagar mematuhi kaidah dan nilai sosial yang berlaku. Wujud pengendalian sosial dalam keluarga dapat berupa terapi ataupun konsiliasi. Adapun wujudnya dalam masyarakat adalah konsiliasi ditambah dengan pemidanaan dan kompensasi. Terapi dan konsiliasi sifatnya remedial, artinya bertujuan mengembalikan situasi pada keadaan semula yakni sebelum terjadinya perkara atau sengketa.

Hubungan sosial dalam sosiologi senantiasa menggunakan konsep interaksi sosial. Interaksi memegang peranan penting buntuk mengetahui hubungan individu dengan individu, individu dengan kelompok, kelompok dengan individu, dan kelompok dengan kelompok. Hubungan suatu individu dan kelompok biasanya dialakukan dengan kontak sosial dan komunikasi. karena kedua hal itu adalah syarat terjadinya interaksi social.

Uraian mengenai hubungan dalam keluarga dalam bagian ini menggunakan pendekatan interaksionisme melalui suati konsep  interaksi sosial dan dampak yang ditimbulkannya.


Contoh Lembaga Keluarga

Berikut ini terdapat beberapa contoh lembaga keluarga, yaitu sebagai berikut:

  1. Lembaga Sosial Swadaya
  2. BKKBN
  3. LK3
  4. LPA
  5. KPAI
  6. PKK
  7. Posyandu
  8. Karang Taruna

Daftar Pustaka:

  1. Dirdjosisworo, Soedjono, 1973. Pengantar Sosiologi. Bandung : Penerbit Alumni.
  2. Echols, John M. dan Hassan Shadily, 1989. Kamus Inggris-Indonesia. Jakarta: Gramedia.
  3. Horton, Paul B. dan Chester L. Hunt, 1996. Sosiologi Edisi Keenam (Alih bahasa oleh Aminudin Rahman dan Tito Sobari). Jakarta : Penerbit Erlangga.
  4. Mu’in, Idianto, 2004, Sosiologi SMA Kelas X. Jakarta : Erlangga.
  5. Polak, J.B.A.F Mayor, 1960, Sosiologi Suatu Buku Pengantar Ringkas. Malang : Ichtiar.
  6. Saptono dan Bambang Suteng. 2007. Sosiologi untuk SMA Kelas XII. Jakarta: Phibeta.

Demikian Penjelasan Pelajaran IPS-Sosiologi Tentang 11 Fungsi Lembaga Keluarga: Pengertian, Ciri, Bentuk, Peranan dan Contoh

Semoga Materi Pada Hari ini Bermanfaat Bagi Siswa-Siswi, Terima Kasih !!!


Baca Artikel Lainnya: