Kerajaan Banten

Assalammualaikum, Selamat datang di Kelas IPS. Disini Ibu Guru akan membahas tentang pelajaran Sejarah yaitu Tentang “Kerajaan Banten“. Berikut dibawah ini penjelasannya:

Silsilah Kerajaan Banten

Sejarah Kerajaan Banten

Pada tahun 1522 Jorge d’ Albuquerque, Gubernur Portugis di Malaka, mengirim Henrique menemui Raja Samiam di Sunda untuk mengadakan perjanjian dagang dengannya. Pada tanggal 21 Agustus kesepakatan dagang antara Portugis dan Sunda Kelapa akhirnya disepakati.

Dalam perjanjian ini, Kerajaan Sunda berkewajiban membayar 1000 bahar lada setiap tahunnya dan Kerajaan Sunda Padjajaran memberikan sebuah wilayah untuk dijadikan benteng Portugis. Sebagai imbalannya, Portugis akan melindungi Kerajaan Sunda Padjajaran dari serangan Kerajaan Islam yang saat itu telah berkembang di Pulau Jawa bagian  tengah. Akhrinya, Portugis diberikan izin untuk mendirikan kantor dagang di Sunda kelapa.

Perjanjian dagang antara Portugis dan Sunda Kelapa tersebut tidak berhasil. Hal ini dikarenakan pada tahun 1925 wilayah Banten berhasil direbut dari kekuasan Sunda Padjajaran oleh pasukan dari Kesultanan Demak, salah satu kerajaan Islam di pulau Jawa. Pasukan ini dipimpin oleh seorang guru besar serta panglima militer yang handal yang berasal dari sebenarnya berasal dari Pasai, yaitu Fatahillah.

Beliau diutus langsung oleh Kerajaan Demak yang saat itu diperintah oleh seorang sultan yang bernama Sultan Trenggono. Alasan mengapa Fatahillah diutus untuk menaklukkan Jawa Barat sebenarnya adalah untuk menghalau pengaruh Portugis yang saat itu sudah melakukan perjanjian dagang dengan kerajaan Sunda Padjajaran.

Pada tahun 1526, Sultan Trenggono mengutus Syarif Hidayatullah beserta pasukannya untuk menaklukkan Jawa Barat agar Portugis tidak dapat memasuki wilayah tersebut. Penyerangan yang dilakukan oleh Fatahillah beserta pasukannya berhasil. Wilayah Banten akhirnya jatuh ke tangan Kesultanan Demak. Sebagai orang yang memimpin penaklukan tersebut, Syarif Hidayatullah langsung diberikan wewenang oleh Sultan Trenggono untuk memimpin wilayah Banten.

Pada tahun 1552, Syarif Hidayatullah diharuskan kembali ke Cirebon. Cirebon merupakan wilayah yang dipimpin oleh Syarif Hidayatullah sebelum Banten. Setelah berhasil menaklukkan Banten, Syarif Hidayatullah diperintahkan oleh Sultan Trenggono untuk mengatur wilayah tersebut sehingga wilayah Cirebon diserahkan kepada salah seorang putra dari Syarif Hidayatullah yang bernama Pangeran Pasarean.

Namun, putra yang diberikan mandat untuk memimpin wilayah Cirebon tersebut wafat mendahului ayahnya. Alhasil, Syarif Hidayatullah pun hijrah ke Cirebon untuk menggantikan putranya tersebut. Daerah Banten diserahkan kepada putra lainnya yang bernama Hassanudin.

Pada tahun 1546, Sultan Trenggono, Sultan kerajaan Demak gugur dalam penyerangan Kerajaan Demak ke Pasuruan. Hal ini menyebabkan terjadinya kekacauan dalam tubuh Kerajaan Demak sendiri. Negara-negara bagian atau kadipaten berusaha untuk memisahkan diri.

Kerajaan Banten yang saat itu dipimpin oleh Hassanudin merupakan salah satu kadipaten yang ikut berusaha melepaskan diri dari kerajaan induknya, Demak. Akhirnya pada tahun 1568, Banten benar-benar terlepas dari kerajaan Demak. Pada tahun tersebut pula, Kerajaan Banten resmi berdiri dengan Maulana Hassanudin sebagai Sultan pertamanya.


Letak Kerajaan Banten

Kerajaan Banten yang menjadi salah satu dari kerajaan Islam di Indonesia terletak di Barat Pulau Jawa. Pada mulanya kerajaan Banten di kuasai oleh kerajaan Pajajaran. Raja kerajaan Pajajaran bersekutu dengan bangsa Portigis untuk membendung kerajaan Demak untuk memperluas wilayahnya.

Oleh karena itu, raja Demak yaitu Sultan Trenggana memerintahkan Faletehan atau Fatahillah untuk merebut kerajaan Banten dari tangan kerajaan Pajajaran. Ternyata usaha tersebut berhasil dengan gemilang. Pasukan kerajaan Demak di bawah pimpinan Faletehan berhasil menaklukkan kerajaan Banten yang sedang berusaha menghalangi Demak memperluas wilayahnya.


Silsilah Raja Kerajaan Banten

Berikut ini terdapat beberapa silsilah raja kerajaan banten, sebagai berikut:


  1. Sultan Maulana Hasanuddin

Dia merupakan Raja pertama di Banten. Dia mendapat gelar Pangeran Sabakingking atau Seda Kikin. Sultan Maulana Hasanuddin adalah putera dari Syaikh Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Djati) dan Nyi Kawunganten (Putri Prabu Surasowan= Bupati Banten tempo dulu). Dengan meletakkan dasar-dasar pemerintahan, Kerajaan Banten dan mengangkat dirinya sebagai raja pertama. Pada masa pemerintahannya, agama Islam dan kekuasaan Kerajaan Banten berkembang cukup pesat.

Dibawah pemerintahannya, Banten mengalami kemajuan yang pesat dan wilayahnya meliputi Sunda Kelapa, Bengkulu, dan Lampung. Maulana Hasanuddin, dalam usahanya membangun dan mengembangkan Kota Banten, lebih menitikberatkan pada pengembangan di sector perdagangan, disamping memperluas daerah pertanian dan perkebunan. Ia berusaha mendorong peningkatan pendapatan rakyatnya dengan melalui pertumbuhan pasar yang sangat cepat, Karena Banten menjadi tempat persinggahan perdagangan rempah-rempah.


  1. Maulana Yusuf (Panembahan Yusuf)

Dia adalah putra dari Maulana Hasanuddin dengan Ratu Ayu Kirana. Dia adalah anak ke 2 sultan Hasanuddin. la berupaya untuk memajukan pertanian dan pengairan. la juga berusaha untuk memperluas wilayah kekuasaan kerajaannya. Kerajaan Pajajaran yang merupakan benteng terakhir Kerajaan Hindu di Jawa Barat berhasil dikuasainya.

Pada masa pemerintahan Maulana Yusuf, perdagangan sudah begitu pesat hingga Banten dikenal sebagai tempat penimbunan barang-barang dari segala penjuru dunia yang nantinya disebarkan ke seluruh Nusantara. Para pedagang dari cina membawa uang kepeng (uang yg terbuat dari timah), porselen, kain sutra, benang emas, jarum, sisir, payung, dsb.

Pulangnya mereka membeli rempah-rempah, kulit penyu, gading gajah. Dengan majunya perdagangan ini, maka kota Banten menjadi ramai baik oleh penduduk dari Banten sendiri maupun oleh pendatang. Dari perkawinannya dengan Ratu Hadijah, Maulana Yusuf dikaruniai dua orang anak, yaitu : Ratu Winaon dan Pangeran Muhammad. Sedangkan dari istri-istrinya yang lain, dikaruniai anak antara lain : Pangeran Upapati, Pangeran Dikara, Pangeran Mandalika atau Pangeran Padalina, dsb.


  1. Maulana Muhammad

Dia adalah anak dari Maulana Yusuf dan Ratu Hadijah. Ketika Panembahan Yusuf sedang sakit, saudaranya yang bernama Pangeran Jepara datang ke Banten. Ternyata Pangeran Jepara yang dididik oleh Ratu Kalinyamat ingin menduduki Kerajaan Banten. Tetapi mangkubumi Kerajaan Banten dan pejabat-pejabat lainnya tidak menyetujuinya.

Mereka mengangkat putra Panembahan Yusuf yang baru berumur sembilan tahun bernama Maulana Muhammad menjadi raja Banten dengan gelar Kanjeng Ratu Banten Surosowan. Karena masih kecil, sehingga yang menjadi wali atau pengganti adalah Mangkubumi. Mangkubumi menjalankan seluruh aktivitas pemerintahan kerajaan sampai rajanya siap untuk memerintah. Peristiwa yang menonjol pada masa pemerintahan Maulana Muhammad adalah peristiwa penyerbuan ke Palembang.

Kejadian ini bermula dari hasutan Pangeran Mas yang ingin menjadi raja di Palembang. Pangeran Mas adalah putra dari Aria Pangiri. Dan Aria Pangiri adalah putra dari Sunan Prawoto. (Aria Pangiri tersisih dua kali dari haknya menjadi raja di Demak, dan terakhir karena ketahuan hendak melepaskan diri dari kuasa Mataram, Sutawijaya hendak membunuhnya, akan tetapi atas bujukan istrinya hal itu tidak dilakukannya setelah Aria Pangiri berjanji tidak akan kembali ke daerah Mataram untuk selamanya.

Artikel Terkait:  Latar Belakang Peradaban Mesopotamia

Akhirnya dia menetap di Banten sampai dia meninggal). Penyebabnya Maulana Muhammad yang masih muda dan penuh semangat untuk memakmurkan Banten dan mengembangkan Islam ke seluruh Nusantara dihasutnya (aria pangiri). Dikatakan bahwa Palembang dulunya adalah daerah kekuasaan ayahnya sewaktu menjadi sultan Demak, kemudian membangkang dan melepaskan diri.

Disamping itu dikatakan bahwa sebagian besar rakyatnya masih kafir, sehingga perlulah Banten menyerang ke sana untuk menyebarkan agama Islam. Maka terjadilah pertempuran hebat di sungai Musi sampai berhari-hari. Akhirnya pasukan Palembang dapat dipukul mundur. Tapi dalam keadaan yang hampir berhasil itu, sultan yang memimpin pasukan dari kapal Indrajaladri tertembak yang mengakibatkan kematian beliau.

Penyerangan tidak dilanjutkan, pasukan Banten pun kembali tanpa mendapat hasil. Adapun Pangeran Mas, diceritakan bahwa setelah pulang dari Palembang, dia tidak berani menetap lama di Banten. Rakyat Banten menganggap bahwa dialah penyebab kematian sultan.


  1. Abdul Mufakir

Dia memerintah banten pada usia 5 bulan. Dia merupakan anak dari Maulana Muhammad. Pada zaman kesultanan ini banyak terjadi peristiwa-peristiwa penting terutama pada akhir abad ke-16 (Juni 1596) di mana orang- orang Belanda datang untuk pertama kalinya mendarat di Pelabuhan Banten di bawah pimpinan Cornellis de Houtman dengan maksud untuk berdagang. Kemudian di susul Jacob Van Neck, dibantu Van Waerwijk dan Var Heemskerck.

Persaingan tidak sehat yang dilakukan banten terhadap belanda ternyata menimbulkan kerugian besar akhirnya Belanda mendirikan VOC. Namun sikap yang kasar dari bangsa Belanda tidak menarik simpati pemerintah dan rakyat Banten sehingga sering terjadi perselisihan di antara orang-orang Banten dengan orang-orang Belanda. Kesultanan mengangkat seorang mangkubumi untuk memerintah Banten yaitu Pangeran Arya Ranamenggala (karena abdul mufakir belum cukup umur).

Sultan Abdul Mufakir mulai berkuasa penuh dari tahun 1624-1643 dengan Ranamenggala sebagai patih dan penasehat utamanya. Usaha yang dilakukan ranamenggala adalah  mengadakan penertiban-penertiban baik keamanan dalam negeri maupun kebijakan terhadap para pedagang eropa. Pajak ditingkatkan terutama bagi belanda agar membayar pajak ke banten.

Hal ini dimaksudkan agar orang belanda tidak betah tinggal di banten. Setelah abdul mufakir dewasa, ia mengembangkan sektor pertanian yang berupa lada, cengkeh, dsb. dalam bidang politik, ia juga berhasil menjalin hubungan dengan negara lain terutama negara islam. Dia merupakan penguasa banten yang mendapat gelar dari Mekkah.

Ia bersikap tegas terhadap siapa saja yang memaksakan kehendaknya kepada Banten, misalnya menolak mentah-mentah Belanda hendak memaksakan monopoli perdagangan di Banten. Akan tetapi, kenyataan selanjutnya berbeda. Sultan Abdul Mufakir melakukan kerjasama dengan Belanda. Karena ia merasa Belanda akan memberikan keuntungan kepada Banten. Hubungan antara Belanda dan sultan ini sangat baik, karena sultan ini bersikap lunak terhadap Belanda. Akan tetapi hubungan baik ini mulai merenggang setelah kematian Abdul Mufakir.


  1. Sultan Ageng Tirtayasa

Seharusnya yang menggantikan abdul mufakir adalah anaknya yaitu Abu Al Mu’ali, tetapi karena dia meninggal terlebih dahulu sebelum ayahnya. Jadi yang menggantikan Abu Al Mu’ali adalah anaknya yang bernama Sultan Ageng Tirtayasa. Ibunya bernama Ratu Marta Kusuma. Sultan Ageng merupakan seseorang yang taat beragama. Gelarnya dia adalah Sultan Abu Al Fattah Muhammad Syifa Zainal Arifin atau Pangeran Ratu ing Banten. Pada masa dia, kerajaan Banten mencapai puncak kejayaan.

Usaha pertama yang dilakukan sultan ageng adalah memperbaiki hubungan dengan Lampung, Bengkulu dan Cirebon untuk hubungan pelayaran dan perdagangan. Ia adalah seorang yang ahli strategi perang, kemampuannya tidak diragukan lagi. Ia juga menaruh perhatian besar terhadap pendidikan keislaman. Pada masanya, ia membangun sebuah kraton yang diberi nama Kraton Tirtayasa.

Alasan sultan ageng membuat kraton tirtayasa adalah mempermudah dalam mengamati gerak-gerik kapal yang keluar masuk pelabuhan banten, kraton ini juga di gunakan sebagai tempat tinggal sultan. Akhirnya sultan ageng pindah ke Tirtayasa dan Kraton Surosowan diserahkan kepada anaknya yang bernama sultan Haji. Ia berhasil menjalin sistem perdagangan bebas dengan negara Eropa, seperti Inggris, Perancis, Denmark dan Portugis.

Sultan Ageng sangat memusuhi Belanda, karena bagi dia Belanda menghalang-halangi perkembangan perdagangan di Banten. Konflik antar Belanda dengan Banten memuncak lagi, bersamaan dengan konflik tersebut, ia harus mengahdapi penghianatan yang dilakukan oleh putra kandungnya sendiri yaitu sultan Haji.

Penyebab dari penghianatan tersebut karena Sultan Haji termakan hasutan Belanda yang mengatakan bahwa, Sultan Haji tidak bisa menggantikan ayahnya sebab masih ada Pangeran Arya Purbaya (Saudara Sultan Haji). Maka terjadilah persengketaan antara Sultan Haji dan ayahnya yaitu Sultan Ageng Tirtayasa.


  1. Sultan Haji

Sultan Haji diberi wewenang untuk mengatur semua urusan dalam negeri di Surosowan. Sedangkan di luar surosowan yang mengatur adalah masih sultan ageng bersama anaknya yaitu pangeran purbaya. Kepindahan Sultan Ageng ke Tirtayasa, dimanfaatkan oleh belanda untuk mendekati putra mahkota agar terpengaruh oleh hasutan Belanda. Belanda dapat mendapat kemudahan sehingga dalam setiap upacara penting di istana belanda selalu diundang dan turut hadir.

Hubungan belanda dan sultan sangat dekat bahkan belanda merubah semua tingkah laku sultan seperti cara berpakaian, cara makan, dsb. Sehingga gaya hidupnya lebih condong ke Belanda drpd ke Bangsanya sendiri. Melihat tingkah laku anaknya yang berubah, sultan Ageng prihatin dan menyuruh guru spiritual anaknya yang bernama Syekh Yusuf supaya memerintahkan sultan untuk melaksanakan ibadah haji di mekkah. Dengan kepergian sultan ke mekkah, sultan ageng berharap anaknya akan berubah dan memiliki sikap kedewasaan untuk kemajuan Banten. Tahun 1674, sultan menunaikan ibadah Haji bersama rombongannya

Selama sultan bepergian kekuasaan sementara dipegang oleh adiknya yaitu Pangeran Purbaya. Sultan pergi ke Mekkah selama 2 tahun oleh karena itu ia lebih dikenal dengan sebutan Sultan Haji. Bukannya dia berubah sifatnya, justru setelah pulang dari mekkah dia lebih terpengaruh dengan hasutan Belanda. Oleh karena itu, terjadilah konflik antara Sultan Ageng dan Sultan Haji. Dalam hal ini Sultan haji didukung oleh VOC, tetapi VOC mengajukan persyaratan yaitu:

  • Banten harus menyerahkan Cirebon kepada VOC
  • Monopoli lada di Banten di pegang oleh VOC dan harus menyingkirkan Persia, Cina, India karena mereka saingannya Belanda
  • Banten harus membayar 600.000 ringgit apabila ingkar janji
  • Pasukan Banten yang menguasai daerah pantai dan pedalaman  priyangan segera ditarik kembali.

Perjanjian tersebut akhirnya disetujui oleh sultan Haji. Atas bantuan Belanda Sultan Haji menyerang Kraton Tirtayasa. Sikap yang ditunjukkan oleh sultan haji terhadap belanda dengan mengirimkan ucapan selamat atas pergantian Gubernur Jenderal belanda sangat menyakitkan hati Sultan Ageng Tirtayasa. Oleh karena itu, tanggal 27 februari 1682 sultan ageng mengeluarkan perintahnya untuk menyerang Surosowan.

Artikel Terkait:  Pertempuran Puputan Margarana

Hal yang dilakukan pertama adalah membakar kampung-kampung dekat kraton surosowan dan setelah itu menyerang kraton surosowan. Pembakaran kampung tersebut membuat gentar belanda yang tinggal di daerah tsb. Pembakaran tersebut terjadi semalam suntuk. Sultan Haji melarikan diri dengan meminta perlindungan kepada orang belanda yang bernama Jacob De Roy.

Setelah siang, pertempuran tersebut terhenti. Pihak belanda menambah pasukannya sehingga perang yang tadinya di kuasai sultan ageng berbalik ke Belanda. Sampai pada akhirnya kraton Tirtayasa dikepung oleh belanda selama berbulan-bulan dan terjadi kelaparan. Sampai pengikut sultan ageng bersama sultan ageng melarikan diri. Tanggal 14 maret Sultan Ageng sampai di Kraton Surosowan dan akhirnya Sultan Ageng di penjara di Batavia sampai akhirnya dia meninggal.


Kehidupan Ekonomi Kerajaan Banten

Banten tumbuh menjadi pusat perdagangan dan pelayaran yang ramai karena menghasilkan lada dan pala yang banyak. Pedangang Cina, India, gujarat, Persia, dan Arab banyak yang datang berlabuh di Banten. Kehidupan sosial masyarakat Banten dipengaruhi oleh sistem kemasyarakatan Islam. Pengaruh tersebut tidak terbatas di lingkungan daerah perdagangan, tetapi meluas hingga ke pedalaman.

Kerajaan Banten tumbuh menjadi pusat perdagangan dan pelayaran yang ramai karena menghasilkan lada dan pala yang banyak. Ada beberapa factor yang mempengaruhinya, antara lain:

  • Kerajaan Banten terletak di Teluk Banten dan pelabuhannya memilki syarat menjadi pelabuhan yang baik. Dengan pelabuhan yang memadai itu, kerajaan Banten dapat di datangi oleh pedagang-pedagang dari luar, seperti pedagang dari China, India, Gujarat, Persia dan Arab yang setelah berlabuh di Aceh, banyak yang melanjutkan pelayarannya melalui pantai Barat Sumatra menuju Banten. Selain pedagang dari luar, ada juga pedagang yang dating dari kerajaan-kerajaan tetangga, seperti dari Kalimantan, Makasar, Nusa Tenggara, dan Maluku.
  • Kedudukan kerajaan Banten yang sangat strategis di tepi Selat Sunda, karena aktivitas pelayaran perdagangan dari pedagang Islam makin ramai sejak bangsa Portugis berkuasa di Malaka.
    Kedua faktor ini merupakan salah satu faktor yang sangat penting dalam perkembangan perdagangan dan pelayaran, sehingga pada saat itu kerajaan Banten sangat cepat mengalami perkembangan yang bias di bilang sangat pesat.

Kehidupan Sosial Kerajaan Banten

Kerajaan Banten merupakan salah satu kerajaan Islam di Pulau Jawa selain Kerajaan Demak, Kasepuhan Cirebon, Giri Kedaton, dan Mataram Islam. Kehidupan sosial rakyat Banten berlandaskan ajaran-ajaran yang berlaku dalam agama Islam.

Pada masa pemerintahan Sultan Ageng Tirtayasa, kehidupan sosial masyarakat Banten semakin meningkat dengan pesat karena sultan memperhatikan kesejahteraan rakyatnya. Usaha yang ditempuh oleh Sultan Ageng Tirtayasa adalah menerapkan sistem perdagangan bebas dan mengusir VOC dari Batavia.

Menurut catatan sejarah Banten, Sultan Banten termasuk keturunan Nabi Muhammad SAW sehingga agama Islam benar-benar menjadi pedoman hidup rakyat. Meskipun agama Islam mempengaruhi sebagian besar kehidupan Kesultanan Banten, namun penduduk Banten telah menjalankan praktek toleransi terhadap keberadaan pemeluk agama lain. Hal ini dibuktikan dengan dibangunnya sebuah klenteng di pelabuhan Banten pada tahun 1673.

Kehidupan sosial masayarakat kerajaan Banten meningkat sangat pesat pada masa pemerintahan Sultan Ageng Tirtayasa, karena ia sangat memperhatikan kehidupan masyarakat dan berusaha untuk memajukan kesejahteraan rakyatnya. Ada usaha yang di tempuhnya untuk mewujudkan rakyat yang sejahtera, yaitu denganmenerapkan system perdagangan bebas dan mengusir Belanda dari Batavia (Jakarta sekarang) walaupun usahanya ini gagal.

Secara pelahan, kehidupan sosial kerajaan Banten mulai berlandaskan pada hokum-hukum Islam. Orang-orang yang menolak ajaran baru memisahkan diri ke daerah pedalaman yaitu di daerah Banten Selatan dan kemudian di kenal dengan nama Suku Badui, kepercayaan ini kemudian disebut dengan Pasundan Kawitan (Pasundan yang pertama).

Kehidupan sosial kerajaan Banten dapat kita lihat pada bidang seni bangunan, yaitu seni bangunan oleh Jan Lucas Cardel (orang Belanda yang masuk Islam) dan bangunan-bangunan gapura di Kaibon Banten.


Kehidupan Politik Kerajaan Banten

Pada awal berkembangnya masyarakat pantai Banten, Banten merupakan daerah kekuasaan Kerajaan Pajajaran. Namun pada tahun 1524 wilayah Banten berhasil dikuasai oleh Kerajaan Demak di bawah pimpinan Syarif Hidayatullah. Pada waktu Demak terjadi perebutan kekuasaan, Banten melepaskan diri dan tumbuh menjadi kerajaan besar.

Setelah itu, kekuasaan Banten diserahkan kepada Sultan Hasanudin, putra Syarif Hidayatullah. Sultan Hasanudin dianggap sebagai peletak dasar Kerajaan Banten. Banten semakin maju di bawah pemerintahan Sultan Hasanudin karena didukung oleh faktor-faktor berikut ini:

  • Letak Banten yang strategis terutama setelah Malaka jatuh ke tangan Portugis, Banten menjadi bandar utama karena dilalui jalur perdagangan laut.
  • Banten menghasilkan rempah-rempah lada yang menjadi perdagangan utama bangsa Eropa menuju Asia.

Kerajaan Banten mencapai puncak kejayaan pada masa pemerintahan Sultan Ageng Tirtayasa. Hal-hal yang dilakukan oleh Sultan Ageng Tirtayasa terhadap kemajuan Kerajaan Banten adalah sebagai berikut:

  1. Memajukan wilayah perdagangan. Wilayah perdagangan Banten berkembang sampai ke bagian selatan Pulau Sumatera dan sebagian wilayah Pulau Kalimantan.
  2. Banten dijadikan sebagai tempat perdagangan internasional yang mempertemukan pedagang lokal dengan para pedagang asing dari Eropa.
  3. Memajukan pendidikan dan kebudayaan Islam sehingga banyak murid yang belajar agama Islam ke Banten.
  4. Melakukan modernisasi bangunan keraton dengan bantuan arsitektur Lucas Cardeel. Sejumlah situs bersejarah peninggalan Kerajaan Banten dapat kita saksikan hingga sekarang di wilayah Pantai Teluk Banten.
  5. Membangun armada laut untuk melindungi perdagangan. Kekuatan ekonomi Banten didukung oleh pasukan tempur laut untuk menghadapi serangan dari kerajaan lain di Nusantara dan serangan pasukan asing dari Eropa.

Sultan Ageng Tirtayasa merupakan salah satu raja yang gigih menentang pendudukan VOC di Indonesia. Kekuatan politik dan angkatan perang Banten maju pesat di bawah kepemimpinannya. Namun akhirnya VOC menjalankan politik adu domba antara Sultan Ageng dan putranya, Sultan Haji. Berkat politik adu domba tersebut Sultan Ageng Tirtayasa kemudian berhasil ditangkap dan dipenjarakan di Batavia hingga wafat pada tahun 1629 Masehi.

Kerajaan Banten adalah kerajaan Islam di Jawa yang menjadi kerajaan penghapus kerajaan Hindu di Jawa. Ini di karenakan usaha kerajaan Banten memperluas wilayahnya. Sultan Maulan Yusuf yang menggantikan ayahnya yaitu Sultan Hasanuddin yang mangkat pada tahun 1570 mempeluas wilayah kekuasaannya ke daerah pedalaman. Pada tahun 1579 kekuasaan kerajaan Pajajaran dapatdi taklukkan, ibu kotanya di rebut sedang rajanya Prabu Sedah tewas dalam pertempuran.

Kerajaan Banten memiliki banyak raja selama berdirinya. Adapun silsilah raja kerajaan Banten secara kronologis adalah sebagai berikut.

  1. Sunan Gunung Jati / Fatahillah
  2. Sultan Maulana Hasanudin 1552 – 1570 (di bawah pemerintahannya kerajaan Banten memperoleh masa kejayaannya)
  3. Maulana Yusuf 1570 – 1580
  4. Maulana Muhammad 1585 – 1590 (diangkat pada usia 9 tahun)
  5. Sultan Abdul Mufahir Mahmud Abdul Kadir 1605 – 1640 (dianugerahi gelar tersebut pada tahun 1048 H (1638) oleh Syarif Zaid, Syarif Makkah saat itu.)
  6. Sultan Abu al-Ma’ali Ahmad 1640 – 1650
  7. Sultan Ageng Tirtayasa 1651-1680
  8. Sultan Abdul Kahar (Sultan Haji) 1683 – 1687
  9. Abdul Fadhl / Sultan Yahya (1687-1690)
  10. Abul Mahasin Zainul Abidin (1690-1733)
  11. Muhammad Syifa Zainul Ar / Sultan Arifin (1750-1752)
  12. Muhammad Wasi Zainifin (1733-1750)
  13. Syarifuddin Artu Wakilul Alimin (1752-1753)
  14. Muhammad Arif Zainul Asyikin (1753-1773)
  15. Abul Mafakir Muhammad Aliyuddin (1773-1799)
  16. Muhyiddin Zainush Sholihin (1799-1801)
  17. Muhammad Ishaq Zainul Muttaqin (1801-1802)
  18. Wakil Pangeran Natawijaya (1802-1803)
  19. Aliyuddin II (1803-1808)
  20. Wakil Pangeran Suramanggala (1808-1809)
  21. Muhammad Syafiuddin (1809-1813)
  22. Muhammad Rafiuddin (1813-1820)
Artikel Terkait:  Ilmu Sunan Bonang: Biografi, Silsilah, Metode dan Karya

Kehidupan Budaya Kerajaan Banten

Masyarakat yang berada pada wilayah Kesultanan Banten terdiri dari beragam etnis yang ada di Nusantara, antara lain: Sunda, Jawa, Melayu, Bugis, Makassar, dan Bali. Beragam suku tersebut memberi pengaruh terhadap perkembangan budaya di Banten dengan tetap berdasarkan aturan agama Islam.

Pengaruh budaya Asia lain didapatkan dari migrasi penduduk Cina akibat perang Fujian tahun 1676, serta keberadaan pedagang India dan Arab yang berinteraksi dengan masyarakat setempat.

Dalam bidang seni bangunan Banten meninggalkan seni bangunan Masjid Agung Banten yang dibangun pada abad ke-16. Selain itu, Kerajaan Banten memiliki bangunan istana dan bangunan gapura pada Istana Kaibon yang dibangun oleh Jan Lucas Cardeel, seorang Belanda yang telah memeluk agama Islam.

Sejumlah peninggalan bersejarah di Banten saat ini dikembangkan menjadi tempat wisata sejarah yang banyak menarik kunjungan wisatawan dari dalam dan luar negeri.


Masa Kejayaan Kerajaan Banten

Banten mencapai puncak kejayaannya pada masa pemerintahan Sultan Ageng Tirtayasa. Kejayaan tersebut berhasil diraih dalam berbagai bidang seperti politik, ekonomi, perdagangan, kebudayaan, maupun keagamaan. Dalam bidang politik misalnya, Banten selalu membangun hubungan persahabatan dengan daerah-daerah lainnya. Daerah-daerah sahabat Banten yang berada di wilayah nusantara antara lain Cirebon, Lampung, Gowa, Ternate, dan Aceh.

Selain itu, Kesultanan Banten juga menjalin hubungan persahabatan dengan negara-negara lain yang jauh dari nusantara. Salah satunya adalah dengan mengirim utusan diplomatik ke Inggris yang dipimpin oleh Tumenggung Naya Wipraya dan Jaya Sedana pada 10 November 1681.

Dalam bidang ekonomi, Sultan Ageng Tirtayasa berhasil mengembangkan perdagangan Banten. Pada masanya, Banten menjadi salah satu tempat transit utama perdagangan internasional. Pedagang-pedagang dari berbagai negara, seperti Inggris, Perancis, Denmark, Portugis, Iran, India, Arab, Cina, Jepang, Filipina, Malayu, dan Turki datang ke sini untuk memasarkan barang komoditas dari negeri mereka.

Walaupun saat itu Banten menghadapi persaingan dengan VOC, tetapi Sultan Ageng Tirtayasa tetap mampu menarik pedagang mancanegara tersebut untuk tetap berdagang di Banten. Hal ini disebabkan Banten tidak menerapkan monopoli perdagangan seperti yang dijalankan oleh VOC.

Sultan Ageng Tirtayasa juga mendirikan keraton baru di wilayah Tirtayasa untuk memperkuat pertahanan kesultanannya. Dengan pembangunan keraton ini, wilayah Tirtayasa terus dibuka. Beliau membangun jalan dari Pontang ke Tirtayasa. Tidak hanya itu, Sultan Ageng juga membuka lahan-lahan persawahan sepanjang jalan tersebut serta mengembangkan pemukiman warga di daerah Tangerang.


Runtuhnya Kerajaan Banten

Pada masa Sultan Ageng Tirtayasa berkuasa, Belanda sudah memulai taktik untuk menghancurkan Banten dari dalam, yakni dengan menghasut Sultan Haji, putra dari Sultan Ageng Tirtayasa. Belanda mengadu domba Sultan Haji dengan ayahnya.

Mereka menyebarkan isu bahwa orang yang akan menjadi pewaris tahta Banten adalah Pangeran Purbaya saudara Sultan Haji. Hal ini membuat Sultan Haji merasa iri hati dan memutuskan untuk melancarkan serangan melawan ayahnya sendiri.

Dengan bantuan Belanda, Sultan Haji akhirnya dapat melumpuhkan kesultanan Banten. Bahkan, karena peperangan antara ayah dan anak ini, Keraton Surosowan yang dibangun oleh nenek moyangnya hancur rata dengan tanah.

Sultan Ageng Tirtayasa akhirnya dipenjara di Batavia hingga meninggal pada tahun 1692. Alhasil, Sultan Haji yang bekerja sama dengan Belanda pun naik tahta.

Sejak saat itu, Kesultanan Banten sangat dipengaruhi oleh Belanda. Terlebih lagi setelah Sultan Haji mengadakan perjanjian dengan pihak Belanda. Namun, perjanjian yang dilakukan oleh Sultan Haji dengan Belanda ini justru merugikan Sultan Haji. Beliau harus membayar 12.000 ringgit dan menyetujui pendirian Benteng Speelwijk. Akibatnya, ekonomi dan politik Banten di monopoli oleh Belanda.

Pergantian sultan selalu dicampuri dengan kepentingan Belanda. Pemberontakan pun terus terjadi. Kesultanan Banten perlahan-lahan mulai mengalami kemunduran. Puncaknya, pada tahun 1808 Belanda menghancurkan Istana Surosowan dan menggantinya dengan Kabupaten Serang, Waringin, dan Lebak di bawah pemerintahan Hindia-Belanda.

Pada tahun 1813, Pemerintahan Inggris membubarkan Kesultanan Banten dan Pangeran Syafiudin yang sedang berkuasa dipaksa untuk turun tahta. Saat itulah Kesultanan Banten runtuh.


Peninggalan Kerajaan Banten

Di Banten Lama dan sekitarnya kini masih terdapat beberapa peninggalan kepurbakalaan yang berasal dari zaman kerajaan Islam Banten (abad XVI – XVIII).

Peninggalan tersebut ada yang masih utuh namun banyak yang tinggal reruntuhannya saja bahkan tidak sedikit yang berupa fragmen-fragmen kecil. Peninggalan berupa artefak –artefak kecil yang dikumpulkan dalam penelitian dan penggalian kepurbakalaan kini telah disimpan di Museum Situs Kepurbakalaan yang terletak di halaman depan bekas Keraton Surosowan.

Peninggalan kepurbakalaan tersebut adalah :

  • Komplek Keraton Surosowan
  • Komplek Mesjid Agung
  • Meriam Ki Amuk
  • Mesjid Pacinan Tinggi
  • Komplek Keraton Kaibon
  • Mesjid Koja
  • Kerkhof
  • Benteng Spelwijk
  • Klenteng Cina
  • Watu Gilang
  • Makam Kerabat Sultan
  • Mesjid Agung Kenari
  • Benda-benda purbakala di Museum Banten

Daftar Pustaka:

  1. Bermana, Nana, 1997, Kerajaan Islam, (Bandung: Irene).
  2. Djajadiningrat, 1983, Cristische Beschowing van de Sadjarah Banten, trj, (Jakarta: Jambatan).
    Hamka, 1967, Sejarah Umat Islam, (Jakarta: Bulan Bintang).
  3. Michrob, Halwani, 1981, Pemugaran dan penelitain Arkeologi Sebagai Sumber Bagan data Bagi Perkembangan Sejar Kerajaan Islam Banten, (Jakarta: IPPM).
  4. Nurhadi, 1969, Catatan Tentang Benteng Surosowann Banten, (Jakarta: DPS4P).
  5. Wiryosoeparto, Soetjipto, 1961, Sejarah Nasional Indonesia jilid !!, (Jakarta: P & K).
  6. Melalatoa, Junus. 1995. Ensiklopedi Sukubangsa di Indonesia. Jilid A—K. Jakarta. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Demikian Penjelasan Pelajaran IPS-Sejarah Tentang Silsilah Kerajaan Banten: Sejarah, Kejayaan, Runtuh & Peninggalan

Semoga Materi Pada Hari ini Bermanfaat Bagi Siswa-Siswi, Terima Kasih !!!


Baca Artikel Lainnya: