Kerajaan Mataram Islam Didirikan Oleh

Assalammualaikum, Selamat datang di Kelas IPS. Disini Ibu Guru akan membahas tentang pelajaran Sejarah yaitu Tentang “Kerajaan Mataram Islam“. Berikut dibawah ini penjelasannya:

Silsilah Kerajaan Mataram Islam

Sejarah Kerajaan Mataram Islam

Setelah kerajaan Demak  berganti nama, kerajaan Pajang merupakan satu-satunya kerajaan di Jawa Tengah. Namun demikian raja Pajang masih mempunyai musuh yang kuat yang berusaha menghancurkan kerajaannya, yaitu seorang yang masih keturunan keluarga kerajaan Demak yang bernama Arya Penangsang.

Raja kemudian membuat sebuah sayembara bahwa barang siapa mengalahkan Arya Penangsang atau dapat membunuhnya, akan diberi hadiah tanah di Pati dan Mataram. Ki Pemanahan dan Ki Penjawi yang merupakan abdi prajurit Pajang berniat untuk mengikuti sayembara tersebut.

Di dalam peperangan akhirnya Danang Sutawijaya berhasil mengalahkan dan membunuh Arya Penangsang. Sutawijaya adalah anak dari Ki Pemanahan, dan anak angkat dari raja Pajang sendiri. Namun karena Sutawijaya adalah anak angkat Sultan sendiri maka tidak mungkin apabila Ki Pemanahan memberitahukannya kepada Sultan Hadiwijaya.Sehingga Kyai Juru Martani mengusulkan agar Ki Pemanahan dan Ki Penjawi memberitahukan kepada Sultan bahwa merekalah yang membunuh Arya Penangsang.

Ki Ageng Pemanahan memperoleh tanah di Hutan Mentaok dan Ki Penjawi memperoleh tanah di Pati.Pemanahan berhasil membangun hutan Mentaok itu menjadi desa yang makmur, bahkan lama-kelamaan menjadi kerajaan kecil yang siap bersaing dengan Pajang sebagai atasannya.

Setelah Pemanahan meninggal pada tahun 1575 ia digantikan putranya, Danang Sutawijaya. Sutawijaya kemudian berhasil memberontak kepada Pajang. Setelah Sultan Hadiwijaya wafat (1582). Sutawijaya mengangkat diri sebagai raja Mataram dengan gelar Panembahan Senapati. Pajang kemudian dijadikan salah satu wilayah bagian dari Mataram yang beribukota di Kotagede. Panembahan Senopati dalam babad dipuji sebagai pembangun Mataram.


Letak Kerajaan Mataram Islam

Kerajaan mataram berdiri pada tahun 1582. Pusat kerajaan ini terletak di sebelah tenggara kota Yogyakarta, yakni di Kotagede. Menurut berita-berita kuno tentang Mataram, wilayahnya Di daerah aliran Sungai Opak dan Progo yang bermuara di Laut Selatan.

Membentang antara Tugu sebagai batas utara dan Panggung Krapyak di batas selatan, antara Sungai Code di timur dan Sungai Winongo sebelah barat. Antara Gunung Merapi dan Laut Selatan, Kraton dalam pikiran masyarakat Jawa, diartikan sebagai pusat dunia yang digambarkan sebagai pusat jagad.

Di daerah aliran Sungai Opak dan Progo yang bermuara di Laut Selatan. Membentang antara Tugu sebagai batas utara dan Panggung Krapyak di batas selatan, antara Sungai Code di timur dan Sungai Winongo sebelah barat. Antara Gunung Merapi dan Laut Selatan, Kraton dalam pikiran masyarakat Jawa, diartikan sebagai pusat dunia yang digambarkan sebagai pusat jagad.


Silsilah Raja Kerajaan Mataram Islam

Berikut ini terdapat beberapa silsilah raja kerajaan mataram islam, sebagai berikut:


  1. Sutawijaya

Setelah menjadi Raja Mataram, gelarnya adalah Panembahan Senopati ing Alaga (Sang Panglima Yang DiJunjung atau Sang Panglima Di Medan Laga). Danang Sutawijaya adalah putra sulung pasangan Ki Ageng Pemanahan (keturunan brawijaya V) dan Nyai Sabinah (keturunan Sunan Giri). Hampir sepanjang Masa pemerintahan digunakan untuk melakukan penaklukan.

Senopati Banyak Melakukan penaklukan ke timur, hinga akhirnya wilayah-wilayah penting seperti Jepara, Madiun, Kediri, Bojonegoro, dan sebagian Surabaya berada dibawah kekuasan Mataram. Senopati telah menjadikan Mataram Yang Semula hanya pemukiman kecil dipedalaman menjadi kerajaan yang memiliki wilayah kekuasaan yang luas di Jawa Tengah dan Jawa Timur.


  1. Sri Susuhunan Adi Prabu Hanyakrawati Senapati ing Ngalaga Mataram

Nama aslinya adalah Raden Mas Jolang. Ayahnya Panembahan senopati, Ibunya Ratu Mas Waskitajawi (putri dari Ki Ageng Penjawi). Punya istri 2, Ratu Tulungayu putri dari Ponorogo anaknya bernama Raden Mas Wuryah alias Adipati Martapura. Istri kedua Dyah Banowati putri Pangeran Benawa (raja Pajang) melahirkan anak bernama Raden Mas Rangsangdan Ratu Pandansari (kelak menjadi istri Pangeran Pekik).

Sejak awal pemerintahannya, ia harus menghadapi pemberontakan dari daerah-daerah yang telah ditundukkan oleh ayahnya. Daerah-daerah tersebut berusaha melepaskan diri dari kekuasaan Mataram dan berusaha menjadi daerah merdeka. Hal ini disebabkan kekuasaan Mataram atas Jawa sejak pemerintahan Panembahan Senapati bukan merupakan kekuasaan yang bulat dan utuh bahkan kekuasaan di tiap-tiap daerah harus ditundukkan dengan kekuatan senjata.

Saat raja baru bertahta, daerah-daerah tersebut berusaha meraih kemerdekaannya kembali. Pada tahun 1602 M Raden Mas Kejuron yang telah diangkat menjadi adipati Demak melakukan pemberontakan (adik tiri yang lahir dari selir bernama Nyai Adisara). Alasan memberontak  karena Raden Mas tidak puas dengan daerah kekuasaannya di Demak sehingga ia mulai menyerang daerah di sebelah utara Pegunungan Kendeng. Mas Jolang malah bersedia menyerahkan wilayah bagian utara kerajaan tersebut kepada kakaknya.

Hal ini dianggap sebagai kelemahan dan ketakutan raja sehingga ia meneruskan penyerangan hingga ke Tambak Uwos. Mas Jolang meninggal saat berada di taman perburuan (krapyak) sehingga kemungkinan besar penyebab kematiannya karena kecelakaan sewaktu berburu. Setelah meninggal, beliau terkenal dengan sebutan Panembahan Seda Ing Krapyak. Beliau kemudian dimakamkan di dekat masjid Kotagede di sebelah bawah makam ayahnya.


  1. Raden Mas Rangsang (Sultan Agung Adi Prabu Hanyakrakusuma)

Putra dari pasangan Mas Jolang dan Ratu Dyah Banowati. Nama gelarnya adalah Sultan Agung . Dia merupakan Sultan ke 3 pengganti ayahnya di Mataram. Pada masa dia, kerajaan Mataram mencapai puncak kejayaan. Sultan Agung memiliki dua orang permaisuri utama.

Yang menjadi Ratu Kulon adalah putri sultan Cirebon, melahirkan Raden Mas Syahwawrat atau “Pangeran Alit”. Sedangkan yang menjadi Ratu Wetanadalah putri Adipati Batang (cucu Ki Juru Martani) yang melahirkan Raden Mas Sayidin (kelak menjadi Amangkurat I).

Pada awal pemerintahannya, Raden Mas Rangsang bergelar “Panembahan Hanyakrakusuma“, Kemudian setelah menaklukkan Madura tahun 1624, ia mengganti gelarnya menjadi “Susuhunan Agung Hanyakrakusuma”. Pada tahun 1614 VOC (yang saat itu masih bermarkas di Ambon) mengirim duta untuk mengajak Sultan Agung bekerja sama namun ditolak.

Pada tahun 1618 Mataram dilanda gagal panen akibat perang yang berlarut-larut melawan Surabaya. Meskipun demikian, Sultan Agung tetap menolak bekerja sama dengan VOC.Menyadari kekuatan bangsa Belanda tersebut, Sultan Agung mulai berpikir untuk memanfaatkan VOC dalam persaingan menghadapi Surabaya dan Banten. Maka pada tahun 1621 Mataram mulai menjalin hubungan dengan VOC.

Kedua pihak saling mengirim duta besar. Akan tetapi, VOC ternyata menolak membantu saat Mataram menyerang Surabaya.Dia mencoba menjalin hubungan dengan Portugis untuk bersama-sama menghancurkan VOC-Belanda. Namun hubungan kemudian diputus tahun 1635 karena menyadari posisi Portugis saat itu sudah lemah.

Seluruh Pulau Jawa akhirnya berada dalam kekuasaan Kesultanan Mataram, kecuali Batavia yang masih diduduki militer VOC-Belanda. Sultan Agung berhasil menjadikan Mataram sebagai kerajaan besar tidak hanya dibangun di atas pertumpahan darah dan kekerasan, namun melalui kebudayaan rakyat yang adiluhung dan mengenalkan sistem-sistem pertanian.

Negeri-negeri pelabuhan dan perdagangan seperti Surabaya dan Tuban dimatikan, sehingga kehidupan rakyat hanya bergantung pada sektor pertanian. Sultan Agung juga menaruh perhatian pada kebudayaan. Dia memadukan Kalender Hijriyah yang dipakai di pesisir utara dengan Kalender Saka yang masih dipakai di pedalaman. Hasilnya adalah terciptanya Kalender Jawa Islam sebagai upaya pemersatuan rakyat Mataram.

Selain itu Sultan Agung juga dikenal sebagai penulis naskah yaitu Sastra Gending ( berisi tetang budi pekerti luhur dan keselarasan lahir batin). Di luar peranan politik dan militer, Sultan Agung dikenal sebagai penguasa yang besar perhatiannya terhadap perkembangan islam di tanah jawa. Ia adalah pemimpin yang taat beragama, sehingga banyak memperoleh simpati dari kalangan ulama.


  1. Amangkurat I (Sri Susuhunan Amangkurat Agung)

Nama aslinya adalah Raden Mas Sayidin. Anak dari Sultan Agung, Ibunya bergelar Ratu Wetan, yaitu putri Tumenggung Upasanta bupati Batang. Pada masa pemerintahannya, banyak terjadi pemberontakan. Amangkurat I memiliki dua orang permaisuri. Putri Pangeran Pekik dari Surabaya menjadi Ratu Kulon yang melahirkan Raden Mas Rahmat, kelak menjadi Amangkurat II. Sedangkan putri keluarga Kajoran menjadi Ratu Wetan yang melahirkan Raden Mas Drajat atau nama lainnya Pangeran Puger, kelak menjadi Pakubuwana I.

Amangkurat I mendapatkan warisan Sultan Agung berupa wilayah Mataram yang sangat luas. Dalam hal ini ia menerapkan sentralisasi atau sistem pemerintahan terpusat. Amangkurat I juga menyingkirkan tokoh-tokoh senior yang tidak sejalan dengan pandangan politiknya. Misalnya, Tumenggung Wiraguna dan Tumenggung Danupaya tahun 1647 dikirim untuk merebut Blambangan yang telah dikuasai Bali, namun keduanya dibunuh di tengah jalan.

Pada tahun 1647 ibu kota Mataram dipindah ke Plered.Perpindahan istana tersebut diwarnai pemberontakan Raden Mas Alit atau Pangeran Danupoyo, adik Amangkurat I yang menentang penumpasan tokoh-tokoh senior. Pemberontakan ini mendapat dukungan para ulama namun berakhir dengan kematian Mas Alit. Amangkurat I menjalin hubungan dengan VOC yang pernah diperangi ayahnya.

Pada tahun 1646 ia mengadakan perjanjian, antara lain pihak VOC diizinkan membuka pos-pos dagang di wilayah Mataram, sedangkan pihak Mataram diizinkan berdagang ke pulau-pulau lain yang dikuasai VOC.

Amangkurat I juga berselisih dengan putra mahkotanya, yaitu Raden Mas Rahmat yang menjadi Adipati Anom (Raja Muda). Perselisihan ini dilatarbelakangi oleh berita bahwa jabatan Adipati Anom akan dipindahkan kepada Pangeran Singasari (putra Amangkurat I lainnya).

Pada tahun 1661 Mas Rahmat melancarkan aksi kudeta tetapi gagal.Amangkurat I menumpas seluruh pendukung putranya itu. Sebaliknya, Amangkurat I juga gagal dalam usaha meracuni Mas Rahmat. Perselisihan memuncak tahun 1668 saat Mas Rahmat merebut calon selir ayahnya yang bernama Rara Oyi (seorang putri cina).

Amangkurat I menghukum mati Pangeran Pekik mertuanya sendiri, yang dituduh telah menculik Rara Oyi untuk Mas Rahmat. Mas Rahmat sendiri diampuni setelah dipaksa membunuh Rara Oyi dengan tangannya sendiri. Mas Rahmat yang sudah dipecat dari jabatan Adipati Anom bertemu dengan Raden Trunajaya menantu Panembahan Rama alias Raden Kajoran tahun 1670.

Panembahan Rama mengusulkan agar ia membiayai Trunajaya untuk melakukan pemberontakan. Kemudian Trunajaya dibiayai untuk melakukan pemberontakan terhadap Amangkurat I. Maka dimulailah pemberontakan Trunajaya (pangeran Madura).Di bawah pimpinan Trunajaya, pasukan gabungan orang-orang Madura, Makassar, dan Surabaya berhasil mendesak pasukan Amangkurat I.

Kemenangan demi kemenangan atas pasukan Amangkurat I menimbulkan perselisihan antara Trunajaya dan Adipati Anom. Trunajaya diperkirakan tidak bersedia menyerahkan kepemimpinannya kepada Adipati Anom. Pasukan Trunajaya bahkan berhasil mengalahkan pasukan Mataram di bawah pimpinan Adipati Anom, dan adipati anom berbalik memihak ayahnya. Tanpa diduga, Trunajaya berhasil menyerbu ibukota Mataram, Plered.

Setelah mengambil rampasan perang dari istana, Trunajaya kemudian meninggalkan keraton Mataram dan kembali ke pusat kekuasaannya di Kediri, Jawa Timur. Kesempatan tersebut diambil oleh Pangeran Puger untuk menguasai kembali keraton yang sudah lemah, dan mengangkat dirinya menjadi raja di Plered dengan gelar Susuhunan ing Alaga.Dengan demikian sejak saat itu terpecahlah kerajaan Mataram.

Karena Plered sudah dikuasai, akhirnya Amangkurat I dan Mas Rahmat melarikan diri ke barat. Pelarian Amangkurat I membuatnya jatuh sakit.Menurut Babad Tanah Jawi, kematiannya dipercepat oleh air kelapa beracun pemberian Mas Rahmat.Meskipun demikian, ia tetap menunjuk Mas Rahmat sebagai raja selanjutnya, tapi disertai kutukan bahwa keturunannya kelak tidak ada yang menjadi raja, kecuali satu orang dan itu pun hanya sebentar.

Amangkurat I meninggal pada 13 Juli 1677 di desa Wanayasa, Banyumas dan berwasiat agar dimakamkan dekat gurunya di Tegal. (Masjid Jami Pekuncen yang terletak di daerah Tegal Arum Kecamatan Adiwerna merupakan salah satu masjid tertua di Kabupaten Tegal.

Masjid ini yang merupakan peninggalan Syekh Samsudin, yang merupakan guru Spiritual Sunan Amangkurat I yang merupakan raja Mataram ). Adapun makam KH Samsudin atau syekh Samsudin terletak di belakang masjid Pekuncen. Sementara masjid  berada di kawasan situs purbakala makam keturunan raja Mataram dan makam para bupati Tegal pada zaman kerajaan Mataram.

Artikel Terkait:  G30S/PKI: Latar Belakang, Peristiwa, Tujuan dan Penumpasan

Sunan Amangkurat I juga dikebumikan di areal wisata religi di dekat masjid tetapi sedikit jauh dari makam gurunya.“Sunan Amangkurat juga merupakan penyebar ajaran agama Islam di wilayah Tegal Arum”.


  1. Sri Susuhunan Amangkurat II

Nama asli dia adalah Raden Mas Rahmat. Dia adalah putra Amangkurat I dengan Ratu Kulon putri (Pangeran Pekik dari Surabaya). Dia adalah pendiri sekaligus raja pertama Kasunanan Kartasura sebagai kelanjutan Kesultanan Mataram. Dengan bantuan VOC, ia berhasil mengakhiri pemberontakan Trunajaya tanggal 26 Desember 1679.Amangkurat II bahkan menghukum mati Trunajaya dengan tangannya sendiri pada 2 Januari 1680.

Pada bulan September 1680 Amangkurat II membangun istana baru di hutan Wanakerta karena istana Plered diduduki adiknya, yaitu Pangeran Puger. Istana baru tersebut bernama Kartasura.Pangeran puger  (anak ke 2 amangkurat 1, sekaligus adik tiri mas rahmat) tidak mau bergabung dengan amangkurat II, akhirnya terjadi peperangan diantara keduanya. Akhirnya pangeran puger mengaku menyerah, sehingga Mataram runtuh dan Kartasura berdiri sebagai pengganti Mataram.

Amangkurat II dikisahkan sebagai raja berhati lemah yang mudah dipengaruhi. Ia naik takhta atas bantuan VOC dengan hutang atas biaya perang sebesar 2,5 juta gulden.Tokoh anti VOC bernama Patih Nerangkusuma berhasil menghasutnya agar lepas dari jeratan hutang tersebut.

Pada tahun 1683 terjadi pemberontakan Wanakusuma, seorang keturunan Kajoran, tetapi akhirnya pemberontakan ini berhasil dipadamkan. Pada tahun 1685 Amangkurat II menampung buronan VOC bernama Untung Suropati yang tinggal di rumah Patih Nerangkusuma. Untung Suropati diberinya tempat tinggal di desa Babirong untuk menyusun kekuatan.

Bulan Februari 1686 Kapten Francois Tack tiba di Kartasura untuk menangkap Untung Suropati. Amangkurat II pura-pura membantu VOC. Pertempuran terjadi. Pasukan Untung Suropati menumpas habis pasukan Kapten Tack. Sang kapten sendiri mati dibunuh oleh pasukan Untung Suropati.

Sikap Amangkurat II yang “berselingkuh” akhirnya terbongkar. Pihak VOC menemukan surat-surat Amangkurat II kepada Cirebon, Johor, Palembang, dan bangsa Inggris yang isinya ajakan untuk memerangi Belanda, membunuh kapten, dsb.

Amangkurat II akhirnya meninggal dunia tahun 1703. Sepeninggalnya, terjadi perebutan takhta Kartasura antara putranya, yaitu Amangkurat III melawan adiknya, yaitu Pangeran Puger.


  1. Amangkurat II

Nama aslinya adalah Raden Mas Sutikna. Ia adalah putra Amangkurat II satu-satunya karena ibunya telah mengguna-guna istri ayahnya yang lain sehingga mandul. Mas Sutikna juga dijuluki Pangeran Kencet, karena menderita cacat di bagian tumit.Dikisahkan pula bahwa Mas Sutikna berwatak buruk, mudah marah dan cemburu bila ada pria lain yang lebih tampan.

Ketika menjabat sebagai Adipati Anom, ia menikah dengan sepupunya, bernama Raden Ayu Lembah putri Pangeran Puger. Namun istrinya itu kemudian dicerai karena berselingkuh dengan Raden Sukra putra Patih Sindureja.Raden Sukra kemudian dibunuh utusan Mas Sutikna, sedangkan Pangeran Puger dipaksa menghukum mati Ayu Lembah, putrinya sendiri. Mas Sutikna kemudian menikahi Ayu Himpun (adik Ayu Lembah).

Amangkurat III naik takhta di Kartasura menggantikan Amangkurat II yang meninggal tahun 1702. Konon, menurut Babad Tanah Jawi, sebenarnya wahyu jatuh kepada Pangeran Puger. Dukungan terhadap Pangeran Puger pun mengalir dari para pejabat yang tidak menyukai pemerintahan raja baru tersebut.

Hal ini membuat Amangkurat III resah. Ia menceraikan Raden Ayu Himpun dan mengangkat permaisuri baru, seorang gadis dari desa Onje.Dukungan terhadap Pangeran Puger untuk merebut takhta kembali mengalir.

Akhirnya, pada tahun 1704, Amangkurat III mengirim utusan untuk membunuh Pangeran Puger sekeluarga, namun sasarannya itu lebih dulu melarikan diri ke Semarang.Pangeran Puger di Semarang mendapat dukungan VOC, tentu saja dengan syarat-syarat yang menguntungkan Belanda. Ia pun mengangkat dirinya sebagai raja bergelar Pakubuwana I.

Amangkurat III membangun pertahanan di Ungaran dipimpin Pangeran Arya Mataram, pamannya, yang diam-diam ternyata mendukung Pakubuwana I. Arya Mataram berhasil membujuk Amangkurat III supaya meninggalkan Kartasura. Ia sendiri kemudian bergabung dengan Pakubuwana I, yang tidak lain adalah kakaknya sendiri.

Pangeran Blitar putra Pakubuwana I datang ke Surabaya meminta Amangkurat III supaya menyerahkan pusaka-pusaka keraton, namun ditolak. Amangkurat III hanya sudi menyerahkannya langsung kepada Pakubuwana I. VOC kemudian memindahkan Amangkurat III ke tahanan Batavia. Dari sana ia diangkut untuk diasingkan ke Srilangka. Amangkurat III akhirnya meninggal di negeri itu pada tahun 1734.


  1. Amangkurat IV

Nama aslinya adalah Raden Mas Suryaputra. Putra dari Pakubuwana I yang lahir dari permaisuri Ratu Mas Blitar. Amangkurat IV memiliki beberapa orang putra yang menjadi tokoh-tokoh penting, dari permaisuri lahir Pakubuwana II pendiri keraton Surakarta, dari selir Mas Ayu Tejawati lahir Hamengkubuwana I raja pertama Yogyakarta, dan dari selir Mas Ayu Karoh lahir Arya Mangkunegara, ayah dari Mangkunegara I.

Pangeran Arya Dipanegara adalah putra Pakubuwana I yang lahir dari selir. Pada tahun 1719 ia ditugasi menangkap Arya Jayapuspita, pemberontak dari Surabaya. Mendengar berita kematian ayahnya yang dilanjutkan dengan pengangkatan Amangkurat IV sebagai raja baru membuat Dipanegara enggan pulang ke Kartasura.

Amangkurat IV kemudian berselisih dengan Cakraningrat IV bupati Madura (barat). Cakraningrat IV ini ikut berjasa memerangi pemberontakan Jayapuspita di Surabaya tahun 1718 silam. Ia memiliki keyakinan bahwa Madura akan lebih makmur jika berada di bawah kekuasaan VOC daripada Kartasura yang dianggapnya bobrok.

Amangkurat IV sendiri jatuh sakit bulan Maret 1726 karena diracun. Sebelum sempat menemukan pelakunya, ia lebih dulu meninggal dunia pada tanggal 20 April 1726.Amangkurat IV digantikan putranya yang baru berusia 15 tahun bergelar Pakubuwana II sebagai raja Kartasura selanjutnya.


  1. Pakubuwana II

Nama aslinya adalah Raden Mas Prabasuyasa. Putra Amangkurat IV dari permaisuri keturunan Sunan Kudus. Pakubuwono II yang peragu ini digulingkan dari kursi kasunanan oleh pemberontakan yang didukung oleh orang Cina dan Jawa yang dikenal sebagai geger pacina. Pemberontakan yang berhasil ini kemudian mengangkat cucu Sunan Mas sebagai raja Mataram dengan gelar Sunan Amangkurat V.


Kehidupan Ekonomi Kerajaan Islam

Letak kerajaan Mataram di pedalaman, maka Mataram berkembang sebagai kerajaan agraris yang menekankan dan mengandalkan bidang pertanian. Sekalipun demikian kegiatan perdagangan tetap diusahakan dan dipertahankan, karena Mataram juga menguasai daerah-daerah pesisir. Dalam bidang pertanian, Mataram mengembangkan daerah persawahan.

Dalam bidang pertanian, Mataram mengembangkan daerah persawahan yang luas terutama di Jawa Tengah, yang daerahnya juga subur dengan hasil utamanya adalah beras, di samping kayu, gula, kapas, kelapa dan palawija. Sedangkan dalam bidang perdagangan, beras merupakan komoditi utama, bahkan menjadi barang ekspor karena pada abad ke-17 Mataram menjadi pengekspor beras paling besar pada saat itu. Dengan demikian kehidupan ekonomi Mataram berkembang pesat karena didukung oleh hasil bumi Mataram yang besar.


Kehidupan Politik Kerajaan Islam

Pendiri kerajaan Mataram adalahSutawijaya. Ia bergelar Panembahan Senopati, memerintah tahun (1586 – 1601). Pada awal pemerintahannya ia berusaha menundukkan daerah-daerah seperti Ponorogo, Madiun, Pasuruan, dan Cirebon serta Galuh. Sebelum usahanya untuk memperluas dan memperkuat kerajaan Mataram terwujud, Sutawijaya digantikan oleh putranya yaitu Mas Jolang yang bergelarSultan Anyakrawati tahun 1601 – 1613.

Sebagai raja Mataram ia juga berusaha meneruskan apa yang telah dilakukan oleh Panembahan Senopati untuk memperoleh kekuasaan Mataram dengan menundukkan daerah-daerah yang melepaskan diri dari Mataram. Akan tetapi sebelum usahanya selesai, Mas Jolang meninggal tahun 1613 dan dikenal dengan sebutan Panembahan Sedo Krapyak.

Untuk selanjutnya yang menjadi raja Mataram adalah Mas Rangsang yang bergelar Sultan Agung Senopati ing alogo Ngabdurrahman, yang memerintah tahun 1613-1645. Sultan Agung merupakan raja terbesar dari kerajaan ini. Pada masa pemerintahannya Mataram mencapai puncaknya, karena ia seorang raja yang gagah berani, cakap dan bijaksana.

Pada tahun 1625 hampir seluruh pulau Jawa dikuasainya kecuali Batavia dan Banten. daerah-daerah tersebut dipersatukan oleh Mataram antara lain melalui ikatan perkawinan antara adipati-adipati dengan putri-putri Mataram, bahkan Sultan Agung sendiri menikah dengan putri Cirebon sehingga daerah Cirebon juga mengakui kekuasaan Mataram.

Di samping mempersatukan berbagai daerah di pulau Jawa, Sultan Agung juga berusaha mengusir VOC Belanda dari Batavia. Untuk itu Sultan Agung melakukan penyerangan terhadap VOC ke Batavia pada tahun 1628 dan 1629 akan tetapi serangan tersebut mengalami kegagalan. Penyebab kegagalan serangan terhadap VOC antara lain karena jarak tempuh dari pusat Mataram ke Batavia terlalu jauh kira-kira membutuhkan waktu 1 bulan untuk berjalan kaki, sehingga bantuan tentara sulit diharapkan dalam waktu singkat.

Dan daerah-daerah yang dipersiapkan untuk mendukung pasukan sebagai lumbung padi yaitu Kerawang dan Bekasi dibakar oleh VOC, sebagai akibatnya pasukan Mataram kekurangan bahan makanan. Dampak pembakaran lumbung padi maka tersebar wabah penyakit yang menjangkiti pasukan Mataram, sedangkan pengobatan belum sempurna. Hal inilah yang banyak menimbulkan korban dari pasukan Mataram. Di samping itu juga sistem persenjataan Belanda lebih unggul dibanding pasukan Mataram.


Kehidupan Sosial dan Budaya Kerajaan Islam

Sebagai kerajaan yang bersifat agraris, masyarakat Mataram disusun berdasarkan sistem feodal. Dengan sistem tersebut maka raja adalah pemilik tanah kerajaan beserta isinya. Untuk melaksanakan pemerintahan, raja dibantu oleh seperangkat pegawai dan keluarga istana, yang mendapatkan upah atau gaji berupa tanah lungguh atau tanah garapan.

Tanah lungguh tersebut dikelola oleh kepala desa (bekel) dan yang menggarapnya atau mengerjakannya adalah rakyat atau petani penggarap dengan membayar pajak/sewa tanah. Dengan adanya sistem feodalisme tersebut, menyebabkan lahirnya tuan-tuan tanah di Jawa yang sangat berkuasa terhadap tanah-tanah yang dikuasainya. Sultan memiliki kedudukan yang tinggi juga dikenal sebagai panatagama yaitu pengatur kehidupan keagamaan. Sedangkan dalam bidang kebudayaan, seni ukir, lukis, hias dan patung serta seni sastra berkembang pesat.

Hal ini terlihat dari kreasi para seniman dalam pembuatan gapura, ukiran-ukiran di istana maupun tempat ibadah. Contohnya gapura Candi Bentar di makam Sunan Tembayat (Klaten) diperkirakan dibuat pada masa Sultan Agung.Contoh lain hasil perpaduan budaya Hindu-Budha-Islam adalah penggunaan kalender Jawa, adanya kitab filsafat sastra gending dan kitab undang-undang yang disebut Surya Alam.

Contoh-contoh tersebut merupakan hasil karya dari Sultan Agung sendiri. Di samping itu juga adanya upacara Grebeg pada hari-hari besar Islam yang ditandai berupa kenduri Gunungan yang dibuat dari berbagai makanan maupun hasil bumi. Upacara Grebeg tersebut merupakan tradisi sejak zaman Majapahit sebagai tanda terhadap pemujaan nenek moyang.


Masa Kejayaan Kerajaan Mataram Islam

Setelah masa Panembahan Senopati (1584- 1601 M) dan Seda Ing Krapyak (1601-1603 M). Selanjutnya bertahtalah Mas Rangsang yang bergelar Sultan Agung Hanyakrakusuma yang menjadi raja ketiga dari kerajaan Mataram. Sesungguhnya pengganti Panembahan Krapyak yang dahulu dijanjikan adalah Raden Martapura (adik dari Den Mas Rangsang).

Saat ia keluar untuk melakukan upacara pengangkatan, ia mendengar  bisikan Ki Adipati Mandraka sehingga Raden Martapura yang pada saat itu baru berumur sekitar 7 hingga 8 tahun meletakkan jabatannya dan menyerahkannya kepada Den Mas Rangsang yang sudah berusia sekitar 20 tahun sebagai raja dengan gelar Sultan Agung Hanyakrakusuma. Sultan Agung memerintah dari tahun 1613-1646 M.

Berbagai penaklukan dan pertempuran pertama Sultan Agung setelah pengangkatannya terjadi antara 1613-1619 M, diawali dengan serangan militer atas sebuah aksi perampokan ke ujung timur jawa pada tahun 1614 M. Kemudian pertempuran di sungai Andaka (1614 M) yang merupakan serangan Pangeran Surabaya bersama dengan rakyat Pasuruan dan Madura terhadap pasukan Mataram.

Selanjutnya penaklukan Wirasaba pada tahun 1615 M karena posisinya yang strategis di pinggir Sungai Brantas sebagai pintu masuk Delta Brantas ke Ujung Timur Jawa. Setelah jatuhnya Wirasaba, pertempuran terjadi di Siwalan (1616 M) yang direncanakan oleh bupati- bupati daerah Timur terhadap Mataram. Mataram melanjutkan lagi dengan penaklukan beberapa daerah meliputi; Lasem (akhir 1616 M), Pasuruan (1617), Tuban (1619).

Rangkaian kemenangan Mataram ini sempat diputus oleh pemberontakan Pajang (1617). Adipati Pajang merasa diperlakukan tidak adil oleh raja Mataram. Permasalahan muncul ketika bawahan Adipati Pajang, Ngabei Tambakbaya menolak perintah raja Mataram untuk menyerahkan kudanya yang bagus, yang bernama Domba. Akhirnya kedua penguasa Pajang tersebut harus menghadapi kemarahan raja Mataram.

Artikel Terkait:  Agresi Militer Belanda 2

Pada awalnya Mataram mengharapkan hubungan yang baik dengan VOC, antara lain karena Sultan Agung membutuhkan sekutu untuk melawan musuh-musuh Mataram, seperti Surabaya yang juga telah menimbulkan kesulitan bagi Kompeni untuk pelayaran bebas di pulau- pulau rempah atau untuk melawan Banten tempat dimana Kompeni tidak mempunyai kedudukan apapun.

Begitu harapan agar Mataram tidak dipandang asing di mata dunia. Berbagai kesepakatan dibuat, seperti pembangunan loji di Jepara untuk Belanda dan pemberian 2 buah meriam Belanda untuk Mataram. Namun pada akhirnya kedua belah pihak merasa kecewa satu sama lain. Sultan Agung melakukan beberapa kali serangan terhadap lawannya yaitu Surabaya. Serangan tersebut dilakukan hingga lima kali berturut- turut, serangan pertama pada tahun 1620 dan serangan kedua pada tahun 1621.

Pada tahun 1622 Mataram berhasil menduduki Sukadana yang merupakan daerah kekuasaan Surabaya, stategi penyerangan dilakukan pada malam hari dengan senjata sumpit panah beracun. Serangan ketiga dilanjutkan pada tahun yang sama. Serangan keempat pada 1623. Penyerangan Mataram dialihkan ke Madura yang diduga sebagai tempat penyuplai makanan untuk Surabaya. Penaklukan atas Madura berhasil pada tahun 1624 M. Nasib raja- raja Madura berakhir tragis dalam pelarian, ada yang berhasil namun lebih banyak mereka tertangkap dan dibunuh.

Mataram kembali pada Surabaya dengan serangannya yang kelima pada 1624. Stategi penyerangan dilakukan oleh Sultan Agung dengan menutup saluran air yang menjadi masalah bagi Surabaya sampai abad ke-19, akhirnya mematahkan pertahanan Surabaya, hingga Surabaya menyerah pada tahun 1625 M. Sampai disini, Sultan Agung telah berhasil menaklukan dua kerajaan besar yang menjadi musuhnya, yaitu kerajaan Surabaya dan Madura.

Sultan Agung memiliki wajah yang kejam, kulit yang lebih hitam dibanding orang- orang jawa pada umumnya, berbadan bagus, memiliki hidung kecil dan tidak pesek, mulut datar dan agak lebar, kasar dalam bahasa, agak lamban dalam berbicara, berwajah tenang dan bulat, dan terlihat cerdas. Ia memerintah dengan sangat keras, memandang sekelilingnya seperti singa.

Ia memiliki sifat ingin tahu, bertindak sangat tegas, dan haus akan ilmu pengetahuan, pemarah, selalu waspada, tidak mempercayai siapapun termasuk keluarganya sendiri, seorang yang arif namun keras hati. Sultan Agung patuh terhadap agama Islam, ia memberlakukan tarikh Islam, secara teratur mengikuti sembahyang Jumat di Mekah. Ia secara teratur pergi ke Mesjid dan para pembesar diharuskan mengikutinya. Pada grebek Puasa 9 Agustus 1622 Sultan Agung pergi ke Mesjid meskipun itu bukan tahun Dal.

Setiap tahun raja menghadiri perayaan tersebut. Sebelum 1633, setiap tawanan perang harus dikhitan juga dengan ancaman mati. Prajurit- prajurit Mataram dapat mudah dikenali karena mereka berambut pendek dan memakai kuluk putih. Tidak lama sebelum Sultan Agung wafat ia menyuruh pangkas rambutnya. Hal inilah yang menandai bahwa ia kuat dalam menjalankan Islam. Dari semua kegemilangan yang diraih oleh Sultan Agung, terdapat juga masalah pada masa pemerintahannya seperti wabah pada 1625- 1627.

Setelah Surabaya menyerah, militer Mataram mengalami kemunduran. Banyaknya kematian, peperangan, kelesuan, bahan makanan yang mahal, pajak yang berat di seluruh tanah Jawa. Di Banten, sepertiga penduduk meninggal. Di Cirebon, 2000 orang meninggal dunia dalam musim panas. Begitu pula di Kendal, Tegal, Jepara, dan semua tempat pantai sampai Surabaya, juga dipedalaman.

Orang meninggal dunia tidak dapat dihitung, kebanyakan disebabkan oleh penyakit paru- paru yang menyebabkan sesak nafas sehingga dalam satu jam saja orang dapat meninggal. Penyakit ini terus mewabah hingga tiga tahun. Mataram mengalami kemunduran dan kemiskinan karena banyak lahan pertanian menjadi gersang.

Pada tahun 1627 terjadi pemberontakan Pati. Sultan Agung mendapat hasutan Tumenggung Endranata (seorang dari enam penasehat raja Mataram) yang kemudian setelah Pati berhasil dikuasai seluruhnya oleh Mataram, Tumenggung Endranata harus membayarnya dengan nyawanya. Setelah berakhirnya pemberontakan Pati, Sultan Agung memfokuskan dirinya untuk merebut kedudukan Kompeni Belanda.

Hal ini sudah lama diinginkan Sultan Agung, mengingat Belanda selalu turut campur pada banyak peperangan Mataram melawan musuhnya saat itu, seperti saat melawan Surabaya. Sultan Agung melakukan pengepungan yang pertama ke Batavia pada tahun 1628 M. Kemudian pengepungan yang kedua terjadi pada tahun 1629 M. Namun sayang, kedua penyerangan ini gagal. Sultan Agung membunuh panglima yang kembali pada penyerangan pertama dalam keadaan hidup.

Pilihannya adalah membawa pulang kemenangan atau mati. Namun pada penyerangan yang kedua Sultan Agung bersikap lebih lunak karena ada tindakan perlawanan dari panglima yang menolak hukuman mati tersebut. Saat itu Sultan Agung adalah penguasa daerah pertama yang berani melakukan penyerangan terhadap VOC.

Setelah kegagalan pengepungan terhadap Batavia, Sultan Agung mengharapkan bantuan Portugis yang pada saat itu sedang mengalami masa kegemilangan setelah berhasil mengusir armada Aceh di Malaka. Susuhunan mengirimkan surat dua kali pada tahun 1628 dan 1630 M kepada Portugis untuk membantu Mataram.

Permintaan ini disambut baik oleh Portugis, apalagi saat itu Portugis menentang VOC. Baginya setiap sekutu harus diterima dengan baik dan kesempatan yang menguntungkan ini pasti akan dimanfaatkan. Untuk bantuan itu didatangkanlah perutusan portugis yang pertama pada tahun 1631 dan yang kedua pada tahun 1632-1633 M.

Setelah dua kali mengalami kegagalan, Sultan Agung tidak lagi sungguh- sungguh mempertahankan peruntungannya yang penting adalah mendapatkan penghormatan yang jelas dan tegas dari Kompeni. Untuk itulah dibuka perundingan pada tahun 1630 M lewat utusan yang dikirim, namun VOC tidak langsung menyetujui perdamaian karena mencurigai pembawa pesan.

Maka VOC mengutus Pieter Franssen ke Mataram, namun misi mencari tahu perdamaian ini gagal, begitu pula dengan perundingan 1632- 1634 M. Kemudian terjadilah Perang Laut (1633- 1634 M), dimana saat itu mataram mengejar armada VOC. Pada saat itu setiap kapal asing yang berlayar antara Banten dan Batavia akan diserang oleh kapal milik Mataram atau VOC. Namun kemudian pada sekitar tahun 1635 Mataram mulai merubah politiknya dengan menarik sekitar 40 hingga 50-an kapak Jawa yang kecil-kecil.

Sesungguhnya kegagalan Mataram hingga dua kali di depan VOC menimbulkan ketegangan dalam kerajaan, berupa pemberontakan Sumedang dan Ukur (1628- 1635 M) dan ketegangan di Pedalaman (1630 M) yaitu wilayah Mataram yang mengancam pusat kerajaan hingga Sultan Agung berziarah ke Tembayat (1633) menghadap makam yang keramat atas masa-masa sulit yang dihadapi kerajaannya.

Hal ini merupakan sebuah pengorbanan diri yang amat besar bagi Sultan Agung karena makam tembayat itu lebih banyak mendapat perhatian orang- orang kecil, pedagang, dan pengrajin. Pada tahun yang sama, Sultan Agung menjadikan awal tarikh Islam Hindu jawa yang baru yaitu pada hari Jumat 8 Juli 1633 M. Dua tahun setelah kunjungannya ke Tembayat dan penggunaan penanggalan yang baru, Mataram mengangkat senjata terhadap raja ulama Giri. Giri takluk pada 1636 M.

Sementara disela itu Mataram berdamai dengan Surabaya (1628-1633 M) tanpa perlawanan karena sikap Pangeran Pekik yang memilih berdamai hingga Sultan Agung menikahkannya dengan adiknya, Ratu Pandan Sari. Perundingan antara Mataram dan Belanda terus berlangsung 1636- 1642 M, hubungan tetap saja memburuk Sultan Agung memanfaatkan usaha perundingan ini untuk meminta berbagai hadiah kepada Pemerintah Tinggi Belanda dengan memanfaatkan tawanan Belanda di Kerajaan Mataram.

Perundingan ini terus berlanjut selama 6 tahun namun tanpa hasil hingga kematian Sultan Agung. Pada tahun sebelumnya (1635 M) Mataram melakukan serangan yang pertama ke Blambangan. Kemudian serangan berikutnya terjadi selama 4 tahun dari tahun1636 M hingga Blambangan berhasil ditaklukan pada 1640 M.

Kerajaan Mataram memiliki pengaruh yang besar bahkan menjangkau jauh hingga luar Jawa terutama setelah Surabaya jatuh pada tahun 1625 M. Hal ini terbukti dari kerajaan di luar Jawa seperti pada musim hujan tahun 1625- 1626 M dimana raja Palembang mengirimkan duta kepada sang penguasa besar dengan tujuh ekor gajah dan hadiah- hadiah lain dengan harapan Mataram akan membantu Palembang untuk melawan Banten.

Begitu pula dengan Jambi yang berdekatan dengan Palembang. Atas prakarsa Palembang, Jambi mengupayakan penyerahan pos- pos diplomatik Belanda kepada Mataram. Sementara dengan Banjarmasin pada bulan Oktober 1641 tibalah seorang utusan raja Banjarmasin di Jepara dengan 500 orang pengiring yang membawa hadiah- hadiah terdiri dari merica, rotan, barang- barang anyaman, dan lilin.

Hal ini dilakukan raja Jambi dengan maksud perdamaian setelah sebelumnya terdengar desas- desus penyerangan yang mengakibatkan hubungan kedua kerajaan ini tegang. Pengaruh kerajaan Mataram bahkan meluas hingga Sulawesi. Pada bulan Juni 1680 utusan Makasar tiba di Mataram dengan membawa dua ekor kuda dan sebuah tempat tidur dari emas untuk Sultan Agung. Sementara dengan Cirebon, Panembahan Ratu yang dianggap sebagai guru raja Mataram, menghadiri Sidang Raya Kerajaan (1636 M) untuk memperbesar kewibawaan susuhunan.

Pada tahun- tahun terakhir sebelum wafatnya Sultan Agung baik di laut maupun  di darat keadaan medan perang tenang sekali meskipun baik Mataram maupun Kompeni masing- masing tidak melepaskan tawanan kedua belah pihak. Usaha perdagangan  terus berkembang dan dari segala sudut tanah Jawa segala macam barang diangkut ke Batavia berlimpah- limpah.

Dalam surat- menyurat yang sering terjadi antara Sultan Agung dan Pemerintah Tinggi Belanda, Pemerintah Tinggi berulang kali menggunakan gelar ”Yang Mulia” yang sangat mengesankan. Bahkan sesudah wafatnya Sultan Agung, karisma ketegasan beliau masih terasa ketika Wiraguna yang mempunyai kekuasaan di pemerintahan kekuasaan, menjatuhkan hukuman kepada beberapa tawanan Belanda yang minta dibebaskan. Tokoh yang kuat ini tidak mudah dilupakan bahkan setelah puluhan tahun wafatnya ketika usia lanjut pada tahun 1648 M.

Sehubungan dengan kematian Sultan Agung yang menarik perhatian bahwa menurut cerita tutur dalam Serat Khanda (hal. 992-926), dewi kematian Lara Kidul meramalkan kematian Sultan Agung dua tahun sebelumnya, yaitu ketika raja mengunjungi Nyi Lara Kidul di istananya di bawah laut.  Jadi, awal 1644 raja telah mengetahui atau merasa bahwa ia akan meninggal.

Maka, Sultan Agung mempersiapkan diri untuk menghadapi kematiannya, antara lain dengan pembangunan makam di bukit pada tahun 1629- 1630 M di Imogiri. Pembangunan makam di atas bukit ini harus dihubungkan dengan pengangkatannya sebagai Susuhunan pada tahun 1624 M. Dimana dahulu gelar ini hanya diberikan untuk para wali dan diberikan hanya setelah mereka wafat. Pemakaman di atas bukit ini merupakan usaha melestarikan pengaruh dalam bidang spiritual.

Sultan Agung meninggal di pendapa keratonnya. Mungkin ia meninggal karena wabah yang menyerang Mataram pada masa itu. Selama penyakitnya terakhir, raja mengadakan peraturan untuk mencegah perebutan tahta antara putra mahkota dan saudaranya pangeran Alit. Oleh karena itu ia memanggil Tumenggung Wiraguna dan pembesar lainnya yang tidak disebut namannya, mungkin Pangeran Surabaya, agar pilihan penggantinya disetujui dan diperkuat oleh mereka. Untuk mencegah segala kemungkinan, ia menahan mereka di istana dan semua gerbang tol dijaga oleh para prajurit. Tidak lama kemudian raja wafat, mungkin sekitar tengahan pertama bulan Februari 1646 M.


Runtuhnya Kerajaan Mataram Islam

Sultan Agung tidak mempunyai pengganti yang mumpuni sepeninggalnya. Putra mahkota sangat bertolak belakang sifat dan kepribadiannya dengan sang ayah. Kegemarannya pada kehidupan keduniawian telah mendorongnya ke jurang kehancuran kerajaan. Maka dimulailah pemerintahannya sebagai raja Mataram bergelar Sunan Amangkurat I (1646-1677).

Raja ini mempunyai kebiasaan yang berbeda dengan para pendahulunya. Gaya pemerintahannya cenderung lalim, tidak suka bergaul (terasing) dan terlalu curiga dengan semua orang. Para pejabat di zaman pemerintahan ayahnya dihabisi dengan bengis, entah dengan hukuman cekik sampai mati untuk perkara-perkara yang sudah diatur (jebakan) atau dengan cara dikorbankan menjadi memimpin armada perang ke luar Mataram.

Hubungan antar kerabat pun tidak berjalan baik. Bahkan dengan putra mahkotanya, Sunan Amangkurat I terlibat bersaing dalam urusan wanita pilihan sebagai istri. Kejadian ini memunculkan tragedi berupa tewasnya mertua dan saudara-saudara raja. Karena putra mahkota didukung oleh kakeknya, P. Pekik (mertua Amangkurat I) untuk menikahi seorang gadis cantik bernama Rara Oyi, putri Ngabehi Mangunjaya dari tepi Kali Mas Surabaya.  P. Pekik berasal dari Surabaya terlibat membantu putra mahkota yang merupakan saingan sang raja dalam perebutan putri tersebut.

Artikel Terkait:  Sistem dan Struktur Politik-Ekonomi Indonesia Masa Orde Baru

Kebengisan sunan dapat dilacak dari catatan pejabat Belanda maupun dalam babad Jawa.Banyak kejadian tidak masuk akal pada pemerintahannya. Pernah sang raja mengatur pembunuhan untuk adiknya, P. Alit. Karena  sang adik dihasut para pangeran di kerajaan untuk menuntut tahta. Bahkan raja pernah melakukan genocide terhadap lima ribu ulama.

Sifat bengis sunan ini telah menimbulkan sikap anti pati dan ketakutan rakyatnya. Oleh sebab itu ketika terjadi serbuan dari kelompok P. Trunajaya dari Madura, raja tidak mampu menangkisnya. Karena rakyat bersatu padu menyerang istana. Sunan Amangkurat I menyingkir hingga meninggal karena sakit dalam pelariannya di Wanayasa, Banyumas utara.

Konon pula, untuk mempercepat kematiannya, putra mahkota yang kelak menjadi Amangkurat II memberi sebutir pil racun pada sang ayah. Amangkurat I dimakamkan di Tegalwangi, dekat dengan gurunya yaitu Tumenggung Danupaya.

Bagaimanapun buruknya Amangkurat I, beliau tetap mempunyai karya besar.  Dalam bidang arsitektur, sunan membuat istana baru di Plered (selatan Kuta Gede) dengan konsep pulau ditengah laut. Pembangunan istana Mataram tersebut dilandasi oleh sifatnya yang tidak mau kalah dengan keberhasilan sang ayah.

Untuk pekerjaan ini, sunan mengerahkan para penduduk hingga luar ibu kota agar membuat batu bata sebagai tembok kraton dan membendung sungai Opak menjadi danau besar. Utusan VOC, Rijklof van Goens mencatat bahwa ia sangat takjub dengan kraton Plered yang seolah-olah mengapung di lautan. Untuk mencapai alun-alun sebelum ke istana, orang harus melewati jembatan batang yang dibangun permanen.

Wafatnya Amangkurat I, membuat Putra mahkota mempunyai modal besar menggantikan tahta Mataram. Dengan  bekal pusaka-pusaka kerajaan, beliau berusaha mengusir gerakan Trunajaya dengan meminta dukungan VOC. Putra mahkota  naik tahta bergelar Sunan Amangkurat II (1677-1703).

Ibu kota Mataram dipindah, bergerak ke timur di Kartasura. Karena  P. Puger (adik Amangkurat II) tetap berdiam di istana Plered, setelah Amangkurat I wafat. Beliau berpendapat bahwa dirinya yang berhak atas tahta Mataram. Karena dirinya yang mendapat wahyu dari sang ayah (Amangkurat I) bukan putra mahkota (Amangkurat II). Kejadian tersebut ketika P. Puger menunggui ajal sang ayah.

Namun akhirnya P. Puger mengakui kekuasaan Amangkurat II di Kartasura tahun 1680. setelah terjadi pertikaian alot. Meskipun pada masa-masa sesudahnya, P. Puger tetap membara semangatnya untuk mencapai tahta Mataram. Kelak akhirnya sang pangeran bertahta sebagai Sunan Paku Buwana I.

Pemerintahan Amangkurat II (1677-1703) di Kartasura dibangun dengan dukungan penuh VOC. Oleh karena itu, dirinya terikat dengan segala macam permintaan VOC. Di sisi lain, sang raja sangat melindungi para pejuang dalam melakukan perlawanan terhadap VOC, diantaranya adalah Untung Suropati.  Ia merupakan mantan perwira VOC yang akhirnya memusuhi resimennya karena tindakannya yang sewenang-wenang.

Ketika VOC meminta sang raja untuk menyambut Kapten Tack di Kartasura, muncullah ambivalensinya. Meskipun Kapten Tack ini sangat berjasa dengan berhasil membunuh P. Trunajaya di Kediri, namun karena sifatnya yang arogan di mata sang raja, maka Amangkurat II sangat membenci Kapten Tack. Apalagi kedatangannya ke kraton Mataram adalah untuk mengusir gerakan Untung Suropati.

Untuk menutupi sikap ambivalensinya, Amangkurat II menyambut baik kedatangan Kapten Tack di depan istana Kartasura. Namun, beliau telah mengatur siasat dengan pasukan Suropati untuk menyamar sebagai prajurit Mataram. Tiba-tiba terjadi  huru hara di saat Kapten Tack datang di istana yang menyebabkan dirinya terbunuh (Feb 1686).

Sayang, tindakan sunan tersebut diketahui oleh sang adik, P. Puger. Kelak  beliau menunjukkan bukti-bukti kuat kepada VOC soal keterlibatan sang raja dalam peristiwa itu. Inilah senjata ampuh P. Puger dalam mendongkel tahta keturunan Sunan Amangkurat II.

Dalam kehidupan seni budaya,  dukungan kuat VOC telah  mempengaruhi Amangkurat II untuk  menerapkan etiket Eropa di dalam istana. Tata cara adat sembah untuk menghormat raja mulai diubah tidak dengan cara duduk bersila, melainkan dengan berdiri tegak lurus tangan dan kaki, topi diletakkan di lengan. Ini berlaku bagi orang-orang Eropa. Bahkan mereka diperkenankan duduk di bangku, bukan duduk bersila di lantai seperti layaknya pada pejabat Mataram. Inilah revolusi sosial yang mulai berlaku di istana Mataram.

Ketika Amangkurat II wafat, tahta Mataram masih diteruskan oleh putra mahkota bergelar Amangkurat III (1703-1708). Raja ini juga menggalang persahabatan dengan Untung Suropati, seperti ayahnya. Sementara itu, di istana terjadi konflik lama. Sang paman, P. Puger tetap ngotot menginginkan tahta. Dengan bukti-bukti kuat keterlibatan Amangkurat II dan III soal wafatnya Kapten Tack, maka P. Puger dinaikkan tahta sebagai raja Mataram oleh VOC, bergelar Sunan Paku Buwana I (1704-1719). Beliau bertahta di Semarang.

Amangkurat III diserang oleh VOC dan Sunan PB I. Beliau melarikan diri ke Jawa Timur, akhirnya dapat ditawan VOC (1708) kemudian diasingkan ke Sri Lanka. Sunan PB I kemudian bertahta di Kartasura. Masa-masa pemerintahannya dibayar mahal dengan menyerahkan daerah-daerah pesisir kepada VOC. Suatu kesalahan besar. Karena sumber pendapatan Mataram berkurang drastis. Ianilah yang memancing konflik intern berkepanjangan.

Kondisi kerajaan tidak pernah stabil. Para pangeran merasa bahwa pengaruh dan kebijakan VOC sangat menancap di Mataram. Terjadi beberapa pemberontakan yang dilakukan para pembesar kerajaan yang tidak puas dengan kondisi pemerintahan. Keadaan ini berlangsung terus bahkan hingga wafatnya Sunan PB I dan digantikan sang putra dengan gelar Sunan Amangkurat IV (1719-1726).

Catatan Belanda menunjukkan bahwa Amangkurat IV seperti seorang raja yang telah ditinggalkan rakyatnya. Kerajaan sangat rapuh, potensi perpecahan dan konflik  intern merebak.  Bahkan hingga wafatnya, sang raja pengganti (Sunan PB II) mewarisi kerapuhan tersebut.

Sunan PB II (1726-1749) memegang tampuk pemerintahan dalam usia muda belia, 16 tahun. Hal itulah yang membuat sang bunda, Ratu Amangkurat IV yang mendukung VOC melakukan intervensi pada pemerintahannya. Sementara itu patihnya, Danurejo sangat anti VOC.

Sebagaimana sang ayah yang mewarisi kondisi kerajaan tidak solid, Sunan PB II pun dirongrong oleh hutang-hutang yang harus dibayarkan kepada VOC. Bahkan kerajaan mengalami perang besar, yaitu pemberontakan orang-orang Cina yang semula terjadi di Batavia (1740) kemudian merembet hingga Kartasura. Perang yang dikenal sebagai Geger Pacina ini telah membuat sunan bersama gubernur pesisir van Hohendorff harus melarikan diri ke Jawa Timur karena istana Mataram diduduki kaum pemberontak.

Beruntung, VOC dapat menyusun kekuatan dan berhasil menduduki kembali Kartasura tahun 1742. Namun kondisi istana yang sudah poranda tidak layak sebagai ibukota kerajaan dan paham Jawa mengatakan bahwa istana yang sudah diduduki musuh, tidak lagi suci sebagai ibukota.

Dengan dukungan VOC, Sunan PB II membangun istana baru. Desa Sala atau kemudian dikenal dengan Surakarta Hadiningrat terpilih dari 3 alternatif yang diajukan dan sunan  mulai mendiaminya pada 1745(1746). Arsitek pembangunan kraton adalah adik sunan, P. Mangkubumi (kelak bergelar Sultan HB I).

Harga mahal yang harus dibayar raja kepada VOC karena berhasil memadamkan perang pacina adalah kesepakatan bahwa VOC memperoleh daerah pesisir, yaitu Madura, Sumenep dan Pamekasan. Selain itu, VOC lah yang menentukan pejabat patih Mataram serta penguasa pesisir.

Akibat jatuhnya pesisir ke tangan VOC, para pejabat Mataram geram. Bermunculan para pemberontak yang merongrong istana Surakarta Hadiningrat. Diantaranya yang terkenal adalah pasukan Raden Mas Said (1746), keponakan raja. Untuk memadamkan pemberontakan itu, sunan mengadakan sayembara berupa pemberian tanah Sokawati bagi yang berhasil memadamkannya. Maka tampillah adik raja, P. Mangkubumi. Dengan kemampuannya mengatur strategi perang dan penguasaan medan yang jitu, akhirnya gerakan Mas Said dapat ditumpas. Namun sunan mengampuni keponakannya itu.

Masalah timbul, ketika dalam pertemuan agung kerajaan, langkah sunan hendak menyerahkan hadiah tanah Sokawati kepada P. Mangkubumi dihalangi oleh patihnya, Pringgalaya dan gubernur van Imhoff. Menurut gubernur VOC tersebut, Mangkubumi tidak layak mendapat hadiah 4000 cacah.  Seakan-akan hendak menandingi kekuasaan raja.

Mangkubumi kecewa, dipermalukan dihadapan umum oleh van Imhoff. Maka 19 Mei 1746, beliau berontak pada VOC , keluar dari Surakarta, lalu mendiami Sokawati dengan kekuatan 2500 kavaleri (pasukan berkuda) serta 13000 anak buah dan punggawa yang mendukungnya. Beliau melancarkan serangan kepada VOC di Grobogan, Juana, Demak, Jipang (Bojonegoro). Pasukannya bertambah kuat dengan bergabungnya RM. Said, sang keponakan yang sempat ditundukkannya. Persatuan paman dan keponakan ini bahkan hampir menguasai istana Surakarta (1748).

Kondisi kerajaan yang tidak stabil membuat Sunan PB II jatuh sakit. Seakan sudah pasrah dengan kerajaannya yang tidak solid, beliau menyerahkan Mataram kepada gubernur Baron von Hohendorff (11 Desember 1749). Inilah kesalahan terbesar yang dilakukan raja. Keputusan tersebut menyulut P. Mangkubumi untuk bergerak, agar dapat menarik kembali kerajaan tetap dalam pangkuan dinasti Mataram.

Beliau mengangkat dirinya sebagai Sunan Pakubuwana di desa Bering, Yogyakarta (12 des 1749). Tindakan ini sebagai langkah mendahului keponakannya (putra mahkota PB II yang baru 16 tahun), yang akan dinaikkan tahta oleh VOC sebagai Sunan PB III.

Inilah babak baru periode kerajaan Mataram terbagi dua. P. Mangkubumi sebagai raja didampingi RM. Said sebagai patihnya. Kedua tokoh ini merupakan dwi tunggal kekuatan yang sulit ditembus VOC maupun Surakarta Hadiningrat dibawah PB III. Sayang persekutuan sultan dan patihnya yang juga merupakan menantu, akhirnya pecah di tahun 1753 akibat benturan konflik pribadi soal tahta Mataram yang masih dipegang Sunan PB III.

VOC yang sudah lelah dengan panjangnya peperangan, mulai menempuh jalur perundingan. Bahkan RM. Said pernah menulis surat ke VOC bersedia berunding dengan syarat diangkat sebagai sunan. Rupanya VOC tidak mengindahkannya, namun melirik pada P. Mangkubumi. VOC mendekatinya bahkan mengganti pejabatnya yang tidak disukai P. Mangkubumi dalam upaya perundingan, yaitu van Hohendorff.

VOC menggantikannya dengan Nicolaas Hartingh. Seorang Belanda yang sangat mengerti tata krama Jawa, pribadi yang lebih disukai P. Mangkubumi. Dalam hal ini Hohendorff sadar diri,  ia tidak akan bisa kontak dengan Mangkubumi dan hal tersebut sangat merugikan VOC. Selain itu, citranya sudah buruk di Surakarta. Oleh karena itu pengunduran diri Hohendorff merupakan langkah maju bagi VOC guna membuka perundingan dengan P. Mangkubumi.

Kesepakatan tercapai melalui Perjanjian Giyanti (13 Februari 1755). Menyatakan  Mataram dibagi dua. Sunan PB III tetap bertahta di Surakarta Hadiningrat dengan kekuasaan meliputi : Ponorogo, Kediri, Banyumas. P. Mangkubumi bertahta di desa Bering yang lebih dikenal dengan Ngayogyakarta Hadiningrat, dengan wilayah meliputi Grobogan, Kertasana, Jipang, Japan, Madiun. Sementara Pacitan dibagi untuk keduanya, termasuk Kotagede dan makam Kerajaan Imogiri.

Sunan PB III yang tidak diikutkan dalam perundingan tersebut tidak dapat berbuat banyak, hanya bisa menerimanya. Sementara itu, RM. Said semakin kecewa karena tidak mendapatkan kekuasaan. Oleh karena itu dirinya semakin gencar melakukan perlawanan baik kepada Sultan HB I, Sunan PB III, dan VOC.

Merasa tidak mampu menanganinya, VOC pun menawarkan jalan damai, melalui perundingan Salatiga (1757). Dalam perundingan tersebut Mas Said menyatakan kesetiaannya pada raja Surakarta Hadiningrat dan VOC. Sunan PB III memberikan tanah 4000 cacah dengan wilayah meliputi Nglaroh, Karanganyar, Wonogiri. Sementara, Sultan HB I tidak memberikan apa-apa. Kemudian RM. Said dinobatkan sebagai adipati Mangkunegara I. Kerajaannya  bernama Mangkunegaran.


Demikian Penjelasan Pelajaran IPS-Sejarah Tentang Silsilah Kerajaan Mataram Islam: Sejarah, Masa Kejayaan, Runtuhnya

Semoga Materi Pada Hari ini Bermanfaat Bagi Siswa-Siswi, Terima Kasih !!!


Baca Artikel Lainnya: