Sunan Muria

Assalammualaikum, Selamat datang di Kelas IPS. Disini Ibu Guru akan membahas tentang pelajaran Sejarah yaitu Tentang “Sunan Muria“. Berikut dibawah ini penjelasannya:

Sunan-Muria

Biografi Sunan Muria

Beliau adalah putra Sunan Kalijaga dengan Dewi Saroh. Nama aslinya Raden Umar Said. Seperti ayahnya, dalam berdakwah beliau menggunakan cara halus, ibarat mengambil ikan tidak sampai mengeruhkan airnya. Itulah cara yang ditempuh untuk menyiarkan agama Islam di sekitar Gunung Muria.

Tempat tinggal beliau di gunung Muria yang salah satu puncaknya bernama Colo. Letaknya di sebelah utara kota Kudus. Sasaran dakwah beliau adalah para pedagang, nelayan, pelaut dan rakyat jelata. Beliaulah satu-satunya wali yang tetap mempertahankan kesenian gamelan dan wayang sebagai alat dakwah untuk menyampaikan Islam. Dan beliau pula yang menciptakan tembang Sinom dan Kinanti.

Bahwa Sunan Muria itu adalah Wali yang sakti, kuat fisiknya dapat dibuktikan dengan letak Padepokannya yang terletak di atas gunung. Jarak antara kaki undag-undagan atau tangga dari bawah bukit sampai ke makam Sunan Muria tidak kurang dari 750 m.

Bayangkanlah, jika Sunan Muria dan istrinya atau dengan muridnya setiap hari harus naik turun, turun naik guna menyebarkan agama Islam kepada penduduk setempat, atau berdakwah kepada para nelayan dan pelaut serta para pedagang. Hal itu tidak dapat dilakukannya tanpa adanya fisik yang kuat.

Soalnya menunggang kuda tidak mungkin dapat dilakukan untuk mencapai tempat tinggal Sunan Muria. Harus jalan kaki. Itu berarti Sunan Muria memiliki kesaktian tinggi, demikian pula murid-muridnya.

Sunan Muria adalah tokoh agama yang amat bersahaja. Dia tidak berkaitan dengan hal-hal politik atau popularitas  yang memungkinkan kisahnya lebih banyak tertulis dalam sejarah. Sebagai wali, sunan muria lebih banyak membenamkan dirinya dalam kehidupan rakyat kecil, yang miskin dan golongan marhaen. Para muridnya kebanyakan dari kalangan para petani,pedagang, dan nelayan kecil.

Dia berbaur dan menyelami setiap sisi terdalam kehidupan masyarakat. Langkahnya yang sederhana ini telah membawanya menciptakan tembang sinom dan kinanti. Satu tindakan lain yang membuktikan sunan Muria menyusup dalam lubuk hati rakyat adalah tidak dilarangnya tradisi melakukan kenduri setelah kematian seseorang yang dikenal denga tradisi hindu-jawa.

Namun walaupun begitu menurut catatan sejarah, ia tetap melarang tradisi-tradisi yang mutlak sebagai amalan syirik. Contohnya membakar kemenyan dan menaruh sajian ditempat yang di anggap keramat.

Metode yang merupakan lanjutan dari kerja dakwah ayahnya ini menyebabkan sunan muria lebih mengenal tradisi jawa. Dia juga dikenal sebagai seorang seniman yang melestarikan gamelan dan kesenian tradisi lainnya. Melalui cara ini sunan Muria mulai sedikit demi sedikit memasukkan ajaran agama dan syiariat islam. Inilah awal masuknya penyebaran islam yang dilakukan oleh sunan Muria, dengan begitu rakyat tidak terkejut dengan ajaran baru islam.

Pembenaran tentang ajaran islam diterima rakyat secara rasional, sebab berjalan di wilayah yang akrab dengan mereka. Syair-syair jawa diubah liriknya dengan kebajikan-kebajikan Islam. Rakyat mengenal islam sebagai sesuatu yang lembut. Metode ini masih berlangsung hingga saat ini dijawa, Nahdlatul Ulama menggunakan dalam menyebarkan syiar dan memberikan tentang pembenaran ajaran islam kepada rakyat.

Begitu dekatnya sunan Muria dengan rakyatnya hingga luasnya wilayah dakwah merambah sampai daerah permukiman terpencil. Seperti daerah gunung Muria sendiri sangat terpencil namun dakwahnya sampai wilayah ke pati, pesisir jawa, selain tentunya kudus.


Cara Berdakwah Sunan Muria

Berbeda dengan sang ayah, Sunan Muria lebih suka tinggal di daerah yang sangat terpencil dan jauh dari pusat kota untuk menyebarkan agama Islam. Tempat tinggal beliau terletak di salah satu puncak Gunung Muria yang bernama Colo. Di sana Sunan Muria banyak bergaul dengan rakyat jelata sambil mengajarkan keterampilan-keterampilan bercocok tanam, berdagang dan melaut.

Sunan muria menyebarkan agama islam kepada para pedagang, nelayan, pelaut dan rakyat jelata. Cara beliau menyebarkan agama islam dengan tetap mempertahankan kesenian gamelan dan wayang sebagai alat dakwah. Beliau juga yang telah menciptakan berbagai tembang jawa.

Salah satu hasil dakwah beliau melalui media seni adalah tembang Sinom dan Kinanti. Tempat dakwahnya berada di sekitar gunung muria, kemudian dakwahnya diperluas meliputi Tayu, Juwana, kudus, dan lereng gunung muria. Ia dikenal dengan sebutan sunan muria karena tinggal di gunung muria.

Lewat tembang-tembang itulah ia mengajak umatnya mengamalkan ajaran Islam. Karena itulah, Sunan Muria lebih senang berdakwah pada rakyat jelata ketimbang kaum bangsawan. Maka daerah dakwahnya cukup luas dan tersebar.

Mulai lereng-lereng Gunung Muria, pelosok Pati, Kudus, Juana, sampai pesisir utara. Cara dakwah inilah yang menyebabkan Sunan Muria dikenal sebagai sunan yang suka berdakwah topo ngeli. Yakni dengan ”menghanyutkan diri” dalam masyarakat.

Sunan Muria sering berperan sebagai penengah dalam konflik internal di Kesultanan Demak (1518-1530). Beliau dikenal sebagai pribadi yang mampu memecahkan berbagai masalah betapapun rumitnya masalah itu. Solusi pemecahannya pun selalu dapat diterima oleh semua pihak yang berseteru. Sunan Muria berdakwah dari Jepara, Tayu, Juwana hingga sekitar Kudus dan Pati.

Tak ada yang meragukan reputasi Sunan Muria dalam berdakwah. Dengan gayanya yang moderat, mengikuti Sunan Kalijaga, menyelusup lewat berbagai tradisi kebudayaan Jawa. Misalnya adat kenduri pada hari-hari tertentu setelah kematian anggota keluarga, seperti nelung dino sampai nyewu, yang tak diharamkannya.

Hanya, tradisi berbau klenik seperti membakar kemenyan atau menyuguhkan sesaji diganti dengan doa atau salawat. Sunan Muria juga berdakwah lewat berbagai kesenian Jawa, misalnya mencipta macapat, lagu Jawa. Lagu sinom dan kinanti dipercayai sebagai karya Sunan Muria, yang sampai sekarang masih lestari.

Sunan muria adalah wali yang terkenal memiliki kesaktian. Ia memiliki fisik yang kuat karena sering naik turun gunung muria yang tingginya sekitar 750 meter. Bayangkan, jika ia dan istrinya atau muridnya harus naik turun gunung setiap hari untuk menyebarkan agama islam kepada penduduk setempat, atau berdakwah kepada para nelayan dan pelaut serta para pedagang. Hal itu tidak dapat dilakukannya tanpa fisik yang kuat.

Artikel Terkait:  Perang Jagaraga Di Bali

Kesaktian Sunan Muria

Berikut ini terdapat beberapa kesaktian sunan muria, yaitu sebagai berikut:


  1. Fisik kuat

Sunan muria adalah wali yang terkenal memiliki kesaktian. Ia memiliki fisik yang kuat karena sering naik turun gunung muria yang tingginya sekitar 750 meter. Bayangkan, jika ia dan istrinya atau muridnya harus naik turun gunung setiap hari untuk menyebarkan agama islam kepada penduduk setempat, atau berdakwah kepada para nelayan dan pelaut serta para pedagang. Hal itu tidak dapat dilakukannya tanpa fisik yang kuat.


  1. Mengembalikan Serangan Lawan

Bukti bahwa sunan muria adalah guru yang sakti mandraguna dapat ditemukan dalam kisah perkawinan sunan muria dengan dewi Roroyono. Beliau memiliki ilmu yang dapat mengembalikan serangan dari lawannya. Itu terjadi ketika Kapa adik seperguruan beliau yang telah menculik istri sunan muria menyerang sunan muria dengan mengerahkan aji pamungkas. Namun serangan itu berbalik menghantam dirinya sendiri sehingga merenggut nyawanya.


Ajaran Sunan Muria

Sesuai dengan arti kata sunan yang berasal dari istilah sinuhun atau susuhunan yang berarti sangat dihormati. Sunan Muria adalah sosok kharismatik bagi masyarakat pengagumnya. Ia diyakini wali (kekasih Allah) yang memiliki karomah tersendiri. Namanya disebut-sebut dengan penuh kehormatan, Kanjeng Sunan Muria.

Kanjeng berasal dari kata Kang Jumenengyang berarti raja/pemimpin, memiliki makna bahwa sosok Sunan Muria dijunjung dan dihormati sebagai tokoh panutan bahkan ajaran-ajarannya mengilhami kehidupan mansyarakat sampai saat ini. Sunan Muria juga dikenal sebagai guru Sufi yang sederhana dan dekat dengan rakyat.

 Selain itu tangga menuju makam Sunan Muria yang berjumlah kurang lebih 432 anak tangga seolah mengajarkan bahwa segala tujuan dan cita-cita tidak akan terwujud jika seseorang tidak pernah berusaha melangkahkan kakinya (mewujudkannya).

Menapaki satu demi satu tangga ibarat perjalanan dalam proses kehidupan yang pada akhirnya akan sampai pada tujuan akhir kehidupan. Mungkin seolah-olah kebetulan, jumlah 432 jika masing-masing dijumlahkan , 4+3+2 maka akan diperoleh angka 9, angka keramat yang menjadi simbol Wali Songo.

Sebelum kita membahas mengenai apa saja tradisi yang terdapat di Makam Sunan Muria, yang mana terdapat banyak sekali ritual tertentu. Kita harus tahu dulu apa makna dari kata ritual itu.

Ritual merupakan transformasi simbolis dari pengalaman-pengalaman yang tidak dapat diungkapkan denga tepat oleh media lain. Karena berasal dari kebutuhan primer manusia. Maka ia merupakan kegiatan yang spontan dalam arti betapapun peliknya, ia lahir tanpa niat, tanpa disesuaikan dengan suatu tujuan yang disadari, pertumbuhannya tanpa rancangan, polanya benar-benar alamiah.

Ritual mengungkapkan perasaan dalam arti logis ketimbang psikologis. Ia bisa memiliki apa yang oleh Aristoteles disebut sebagai ‘nilai cathartic’ tetapi itu bukan merupakan khasnya, ia semata-mata merupakan suatau artikulasi perasaan. Hasil akhir dari ari artikulasi yang demikian itubukan suatu emosi yang sederhana, tetapi suatu sikap yang kompleks dan permanen.


Makam Sunan Muria

Makam-Sunan-Muria

Sunan Muria dimakamkan di atas puncak bukit bernama bukit Muria. Dari pintu gerbang masih naik lewat beratus tangga (undhagan) menuju ke komplek makamnya, yang terletak persis di belakang Masjid Sunan Muria. Mulai naik dari pintu gerbang pertama paling bawah hingga sampai pelataran Masjid jaraknya kurang lebih 750 meter jauhnya.

Setelah kita memasuki pintu gerbang makam, tampak di hadapan kita pelataran makam yang dipenuhi oleh 17 batu nisan. Menurut Juru Kunci makam, itu adalah makamnya para prajurit dan pada punggawa (orang-orang terdekat, ajudan dan semacam Patih dalam Keraton).

Di batas utara pelataran ini berdiri bangunan cungkup makam beratapkan sirap dua tingkat. Di dalamnya terdapat makamnya Sunan Muria. Di sampingnya sebelah timur, ada nisan yang konon makamnya puterinya perempuan bernama Raden Ayu Nasiki.

Dan tepat di sebelah barat dinding belakang masjid Muria, sebelah selatan mihrab terdapat makamnya Panembahan Pengulu Jogodipo, yang menurut keterangannya Juru Kunci adalah putera sulungnya Sunan Muria.


Upacara Tradisi di Makam Sunan Muria

Berikut ini terdapat beberapa upacara tradisi di makan sunan muria, yaitu sebagai berikut:


  • Upacara Ganti Luwur

Upacara Ganti Luwur Sunan Muriasemula dilaksanakan setiap 10 Muharram. Akan tetapi sejak tahun 1960an oleh juru kunci pada waktu itu, dirubah pelaksanaannya pada tanggal 15 Muharram dengan alasan bahwa tanggal 10 Muharram bertepatan dengan haul sunan Kudus dan haulmbah Mutamakin di Kajen Pati.

Bersamaan dengan kegiatan haul,  diadakan pula upacara ganti luwur yang digunakan untuk mengganti luwur lama dengan luwurbaru. Istilah ganti luwur digunakan pada tahun 1988-an, sebelumnya pengelola dan masyarakat menggunakan istilah “salin luwur”.


  • Guyang Cekathak

Musim kemarau yang berkepanjangan biasanya menyebabkan bencana kekeringan melanda kawasan Pantura Jawa Tengah. Memasuki puncak kemarau atau orang jawa menyebutnya sebagai mangsa ketiga, warga yang tinggal di lereng Pengunungan Muria, Kabupaten Kudus, menggelar tradisi Guyang Cekathak, yang merupakan ritual memohon agar hujan turun. Menurut perhitungan orang jawa,  mangsa ketiga dimulai pada 25 Agustus sampai dengan 24 September. Upacara tradisi ini biasanya diselenggarakan pada hari Jumuah Wage bulan September, atau yang penting hari Jumuah Wage musim Kemarau atau mangsa ketiga .

Ritual diawali dengan membawa cekathak, atau pelana kuda, peninggalan Sunan Muria dari kompleks Masjid Muria menuju mata air Sendang Rejoso, menurut cerita turun temurun, Sendang Rejoso dahulu adalah tempat wudlunya Sunan Muria. Hal ini masuk akal karena Sendang Rejoso adalah satu-satunya mata air yang letaknya dekat dengan Masjid Sunan Muria. Selama ini disendang Rejoso masih dimanfaatkan oleh masyarakat untuk mandi, mengisi gentong peninggalan Sunan Muria.

Tradisi ini semula dilakukan untuk mengajak masyarakat disekitar Gunung Muria untuk melestarikan sumber air yang berada disebelah utara masjid Sunan Muria, tepat di lereng hutan Gunung Muria. Dimata air ini  cekathak kemudian dicuci. Usai dicuci air sendang kemudian dipercik-percikkan kepada warga, sebagai ungkapan kebahagiaan bahwa sendang yang menopang masih tetap memancarkan air. Tradisi Guyang Cekathak merupakan salah satu kearifan lokal, untuk melestarikan alam dilereng Gunung Muria.

Guyangatau ngguyang dalam bahasa Jawa berarti memandikan, dan Cekathakadalah istilah orang Kudus untuk meyebut pelana Kuda yang terbuat dari Kayu. Tradisi  Guyang Cekathaksendiri adalah ritual yang rutin dilakukan warga, pada masa  Sunan Muria.

Usai ritual pencucian pelana, acara dilanjutkan selametandan makan bersama dengan lauk khas desa, yakni sayur-mayur yang dipadu dengan parutan kelapa, opor ayam,  dan gulai kambing. Makanan ditutup dengan minum dawet khas Kudus, yang melambangkan harapan warga agar turun hujan.


  • Parade Sewu Kupat

Rutinitas masyarakat desa Colo setelah perayaan hari raya Idul Fitri tepatnya pada tanggal 7 syawal selalu menggelar acara parade sewu kupat di Taman Ria. Acara tersebut sudah dimulai pada tahun 2007 lalu, dan masih dilestarikan dan menjadi tradisi setiap tahunnya.

Beberapa gunungan kupat dan juga lepet yang dikumpulkan dari warga sekitar serta hasil pertanian lainnya kemudian diarak mulai dari makam Sunan Muria untuk didoakan terlebih dahulu oleh  para kyai, Ulama’ dan masyarakat. Lalu berangkat menuju Taman Ria Colo dengan berjalan kaki sejauh 800 meter.

Warga masyarakat sekitar saling berebut dan meyakini bahwa kupat dan lepet tersebut memiliki keberkahan tersendiri. Begitu juga penuturan dari Bapak Joni Awang Ristihadi, Kepala Desa Colo yang merupakan Kepala Desa termuda di Kudus bahwasanya acara tersebut bertujuan untuk meningkatkan paket wisata di Desa Colo yang merupakan kawasan yang ramai dikunjungi para wiasatawan yang hendak berziarah ke Makam Sunan Muria, selain itu untuk menumbuhkan kesadaran masyarakat akan pentingnya budaya kupatan tersebut, selain itu juga dijadikan moment untuk saling bermaaf-maafan karena masih nuansa lebaran (Sumber: Wawancara bersama Bp. Joni Awang Ristihadi, Kepala Desa Colo. Jum’at 12 Juni 2015).

Selain beberapa tradisi yang berkembang di masyarakat, ada juga beberapa mitos yang berkembang di masyarakat colo sendiri, namun tidak ada salahnya jika kita sedikit menyinggung  mengenai apa mitos itu sendiri. Mitos berasal dari emosi dan latar belakang emosionalnya mengilhami semua hasilnya dengan warna yang khusus.

Manusia primitif bukan kurang memiliki kesanggupan untuk memahami berbagai perbedaan empiris dari sesuatu. Tetapi dalam konsepsinya tentang alam dan kehidupan semua perbedaan ini dihilangkan oleh perasaan yang lebih kuat: keyakinan yang dalam terhadap solidaritas kehidupan yang fundamental dan tidak terelakkan, yang menjembatani keseragaman dan variasi bentuk-bentuk tunggal, kelihatannya merupakan suatu perkiraan umum dari pemikiran mitos.

Cassirer juga menyatakan bahwa mitos adalah dunia yang dramatis, sebuah dunia tindakan, kekuatan, kekuasaan yang saling bertentangan, apapun yang dilihat atau dirasakan dikelilingi oleh suasana khusus, suasana gembira atau suka cita, kesedihan, kegairahan, kegembiraan atau depresi.

Disini kita tidak dapat membicarakan “sesuatu” sebagai yang mati atau sebagai bahan yang tidak perlu ditanggapi. Semua obyek bersifat ganda, bersahabat atau bermusuhan, familiar atau tidak, memikat dan menjemukan, menjijikkan dan menakutkan.

Melalui mitos, manusia tidak hanya “menjelaskan” dunia mereka tetapi secara simbolis juga menampilkannya kembali. Mitos memiliki cara lain dalam melihat dunia, suatu cara yang mengungkapkan kesatuannya bersama dengan keterlibatan emosional manusia dan partisipasi didalamnya.

Mitos adalah ungkapan serius tentang pertalian dengan dunia. “Dalam mitos dan dengan menggunakan citra mitos, terdapat eksternalisasi pengarahan “batin” emoi manusia ketika dia melihat dunia., daya penerimaannya terhadap dorongan yang berasal dari “luar”, komunalitas substansi yang meleburnya kedalam totalitas kedirian.


Peninggalan Sunan Muria

Berikut ini terdapat beberapa peninggalan sunan muria, yaitu sebagai berikut:

Artikel Terkait:  Integrasi Timor Timur

  1. Buah Pari Joto

Buah Pari Joto, berukuran sebesar biji kacang tanah yang berwarna merah muda pada saat masih muda dan berwarna kehitaman jika sudah masak, rasanya getir kemasaman. Mengandung unsur kimia berupa saponin, kardenilin, flavonoid, tanin, nutrisi dan vitamin Bg. Semuanya baik untuk membantu pembentukan otak janin. Mitos tentang Pari Joto tersebar luas ke jagad nusantara.

Ia dielu-elukan si sebagai salah satu “warisan” Sunan Muria. Sejarah lisan yang berkembang, konon, pada saat istri beliau. Dewi Sujinah, mengandung putrinya yang kelak diberi nama Dewi Ayu Nawangsih, Nyai Sujinah tiba-tiba ingin memakan buah yang rasanya masam, atau yang hari ini kita mengenalnya dengan istilah “nyidam” atau “ngidam”.

Saat itu, gunung Muria yang kaya keanekaragaman hayati menyajikan berbagai jenis tumbuhan yang sekiranya dapat mengobati ngidam sang istri. Sunan Muria memerintahkan para santrinya untuk mencari buah dihutan pegunungan Muria yang sekiranya buah itu memiliki ciri dan rasa seperti yang dikehendaki sang istri. Para santri berangkat melakukan pencarian ketengah hutan. Tak lama kemudian,  mereka pulang dengan membawa buah Pari Joto.

Kisah lain, masih tentang Pari Joto, konon ia adalah buah mistik yang berasal dari “kompol” gunung Margojembangan, nama salah satu gunung di pegunungan Muria, letaknya disebelah utara puncak gunung Muria.

Buah Pari Joto buahnya orang hamil. Biasanya dimakan oleh ibu yang tengah nyidam. Menurut mitos yang beredar, jika makan buah Pari Joto ini, jika anaknya nantinya laki-laki, Insya Allah akan ganteng dan sholih, dan jika perempuan, Insya Allah akan cantik dan sholihah (wawancara dengan Siti Amti’ah yang tengah hamil 2 bulan, 17 Mei 2015).

Buah Pari Joto memang berkhasiat membantu perkembangan janin didalam kandungan. Buah ini dipercaya dapat menjadikan bayi yang dalam kandungan berkembang sempurna, baik fisik maupun psikis. Secara fisik, yang dikatakan oleh Siti Amti’ah memang benar adanya.

Dan secara psikis buah ini dipercaya berkhasiat untuk perkembangan otak dan watak calon bayi, sehingga kelak ia terlahir, akan mendewasa sebagai pribadi yang cerdas dan berkarakter saleh ataupun shalehah.


a) Pari Joto, Komunikasi Budaya dan Makna Spiritual

Mitologi buah Pari Joto begitu populer, merasuk hingga kalangan masyarakat lintas daerah, lintas budaya bahkan lintas ideologi. Kenyataan ini telah menjelaskan bahwa Pari Joto tidak hanya memiliki kekuatan mistik seperti terekam dalam imajinasi masyarakat. Ia juga telah menjadi salah satu media komunikasi budaya sekaligus metode penyampaian muatan dakwah khas sunan Muria.

Pari Joto menjadi tali kesinambungan semangat dakwah sunan Muria, yang dalam laporan Umar Hasyim (1985), sunan Muria merupakan kelompok Walisongo “aliran” moderat atau “abangan”. Maksudnya sunan Muria adalah dari Walisongo yang mengembangkan metode dakwah aliran Tuban, yang bersemangat moderat, dekat dengan rakyat jelata, dan penuh toleransi.

Titik semangat dakwah yang kultural dan merakyat itu terjadi apik melalui mitos dari buah Pari Joto. Ia terbukti mampu menjadi irisan budaya masyarakat luas, tanpa menuai perdebatan. Di dukung mitos keramat dan khasiat alamiahnya, buah Pari Joto mampu menjadi “benda multikultural” yang diamini dan bahkan menjadi bagian hidup masyarakat luas selayak air zam-zam bagi masyarakat muslim lintas ideologi.

Suanan Muria, memahami setangkai Pari Joto tidak terbatas benda konsumsi. Pari Joto bagi Sunan Muria ia pahami sebagimana sebagai tanda kuasa cipta kreatif Allah untuk menebar rahmat. Pari Joto adalah rizki sebagaimana potensi alam lainnya. Di dalam Pari Joto tersimpan tanda kekuasaan Allah, sekaligus juga menjelaskan sifat rahmat (kasih sayang Allah).


b) Pari Joto dan Pesan Ibadah

Pari Joto, buah keramat ini sejatinya kaya nutrisi semangat kemanusiaan. Kita perlu mengupasnya dengan kerangka ushul fikih untuk mengeluarkan nutrisi yang dikandungnya. Pari Joto dipercaya memiliki khasiat dapat memberi manfaat alam untuk perkembangan dan pembentukan sel otak janin dalam kandungan. Pari Joto secara faktual melampaui sisi mitologisnya sebagai buah keramat.

Selain bertuah dapat mendukung kualitas fisik keturunan, pari joto juga mengandung berbagai nutrisi dan vitamin yang dapat membantu pembentukan jaringan otak pada janin. Artinya, pari joto secara alamiah memiliki fungsi-nya menciptakan kualitas keturunan, baik secara fisik maupun psikis.

Sedikitnya Pari Joto memuat dua maslahat, yakni hifd al nasl (menjaga dan memperbaiki keturunan) dan hifd al aql (menjaga dan meningkatkan kualitas otak pada janin). Jika demikian, maka Pari Joto adalah mitologi berwawasan ekorolegi bernuansa fikih.

Keyakinan Parijoto sebagai buah bernutrisi spiritual diperkukuh oleh kisah Rosul yang menganjurkan mengonsumsi jintan hitam sebagai ikhtiar untuk menyembuhkan segala macam penyakit.


  1. Pakis Haji

Pakis haji merupakan konstruk mitologis Sunan Muria seperti halnya Pari Joto, masyarakat percaya bahwa pakis haji adalah jenis tumbuhan khas Muria yang dipercaya mendapatkan tsawab berkah kealian Sunan Muria. Ia diyakini memilikin keramat mistik-alamiah dapat mengusir tikus.

Umumnya Pakis Haji digunakan untuk mengusir tikus perumahan. Karena khasiat keramatnya, ia menjadi salah satu komoditas dagang wisata Muria, dijajakkan disepanjang tangga menuju makam Sunan Muria. Untuk layak jual, kayu ini cukup dikupas kulitnya, sehingga tampak motif batik.

Umumnya motif batik ini berwarna cokelat berbentuk jajar genjang tak beraturan, dengan motif titik dibagian dalamnya, sementara bagian dasarnya berwarna putih tulang kecoklatan. Jika dilihat dari kejauhan, batang Pakis Haji nampak seperti Ular Pyton. Karena motif batiknya menyerupai motif kulit Ular Pyton.

Penggunaan Pakis Haji dengan tujuan menguir tikus perlu memerhatikan beberapa hal, diantaranya (1) batangnya harus dikupas, sehingga motif batik yang menyerupai motif kulit Ular Pyton itu nampak. (2) kayu Pakis Haji diletakkan ditemapat tersembunyi, jika diareal pesawahan, baiknya diletakkan ditempat yang sekiranya tidak tampak oleh orang yang lewat, atau jika digunakan di perumahan, sebaiknya diletakkan ditempat tersembunyi.

Kepercayaan masyarakat pada tuah mistik Pakis Haji terilham atas cerita lisan bahwa konon, suatu ketika mewabah hama tikus yang merusak sawah padi Masyarakat Muria, sehingga mengancam gagal panen. Berbagai cara telah dilakukan untuk membasmi hama tikus ini, namun hasilnya tetap nihil.

Tikus-tikus liar itu tetap melahap padi-padi petani. Masyarakat akhirnya mengadukan masalah ini kepada Sunan Muria. Singkat kisah, Sunan Muria memberi ide masyarakat untuk menggunakan pohon Pakis Haji untuk mengusir tikus.


  1. Situs Air Gentong Keramat

Situs air gentong ini berada di dekat pemakaman Sunan Muria. Biasanya, setelah para pengunjung telah selesai berziarah, kuncen menawarkan para pengunjung untuk membawa air tersebut. Konon, air tersebut dapat digunakan untuk mengobati berbagai macam penyakit. Air gentong ini pernah menyembuhkan penyakit yang aneh, bahkan penyakit parah yang tidak pernah sembuh sebelumnya.

Artikel Terkait:  Ilmu Sunan Bonang: Biografi, Silsilah, Metode dan Karya

  1. Bulusan dan Kayu Adem Ati

Peninggalan Sunan Muria yang pertama adalah berupa Bulusan dan Kayu Adem Ati. Saat itu, dikala Sunan Muria masih ada hiduplah seekor bulus atau kura-kura berukuran kecil. Bulus ini dipercaya bukan bulus biasa melainkan jelmaan manusia. Ada juga sebuah pohon keramat yang dinamakan kayu adem ati oleh masyarakat sekitar. Dahulu, bulus dan pohon ini sempat menghilang secara ghaib namun akhirnya dengan sendirinya kedua benda ini kembali lagi tepat disaat hari kemerdekaan Republik Indonesia. tepatnya 17 Agustus 1945.


  1. Pohon Jati Kramat Masin

Peninggalan Sunan Muria berikutnya adalah pohon jati yang ada di daerah Masin. Pohion ini dikeramatkan oleh warga setempat karena mengandung sebuah mitos dimana orang yang menebang pohon jati ini maka ia akan mendapatkan kesialan hidup. Oleh karenanya hingga kini pohon ini masih ada dan tak ada berani yang menebang. Masyarakat setempat meyakini bahwa pohon jati tersebut memiliki ruh yang tidak boleh diganggu oleh siapa pun.


Daftar Pustaka:

  1. Muryono, Widi. 2014. Napak Jejak Pemikiran Sunan Muria, LPS Fikro: Kudus.
  2. Hasyim, Umar.1983. Sunan Muria Antara Fakta dan Legenda, Menara: Kudus
  3. Widodo, Sutejo. 2014. Sunan Muria Today, Tigamedia Pratama: Semarang
  4. Widagdho, Djoko. 1994. Ilmu Budaya Dasar, Bumi Aksara: Jakarta
  5. F. O’dea, Thomas. 1994. Sosiologi Agama, Raja Grafindo Persada: Jakarta
  6. Kahmad, Dadang. 2002. Sosiologi Agama, PT Remaja Rosdakarya: Bandung
  7. Bekker. 1984. Filsafat Kebudayaan, Kanisius: Yogyakarta

Demikian Penjelasan Pelajaran IPS-Sejarah Tentang Pertempuran Medan Area: Latar Belakang, Jalannya, Tokoh, Peran & Dampak

Semoga Materi Pada Hari ini Bermanfaat Bagi Siswa-Siswi, Terima Kasih !!!


Baca Artikel Lainnya: