Perang Bone (1824-1905)

Assalammualaikum, Selamat datang di Kelas IPS. Disini Ibu Guru akan membahas tentang pelajaran Sejarah yaitu Tentang “Perang Bone (1824-1905)“. Berikut dibawah ini penjelasannya:

Perang-Bone

Latar Belakang Perang Bone

Belanda pernah melancarkan ekspedisi ke Bone pada tahun 1824 dan 1825, dan pada tahun 1838, perjanjian Bungaya diperbaharui. Di tahun-tahun setelahnya, kerenggangan mulai bertambah sementara hubungan perdagangan antara Makassar-Singapura mulai berkembang. Di pantai barat Sulawesi, penduduk Bugis yang tinggal di sana mulai membangkang meskipun sudah berulang kali Gubernur Sulawesi dan Taklukannya memprotes; GubJend. Jan Jacob Rochussen mengunjungi Bone pada tahun 1849 namun tidak berhasil mengakhiri ketegangan yang sedang terjadi.

Atas hal ini, ia menulis dalam sebuah laporan bahwa perang dengan Bone akan dikumandangkan sebentar lagi karena orang Bone harus menisbatkan politik damai dari pemerintah atas kelemahan itu dan menunjukkan keinginan menguasai suatu tempat di Teluk Bone, agar negeri itu tetap mudah dikendalikan.

Dalam masa-masa setelahnya, wacana melancarkan ekspedisi ke Bone muncul lebih dari sekali namun alasan politis dari berbagai kalangan selalu membuat realisasinya oleh pemerintah gagal. Gagasan ini juga diketahui oleh Sultan Bone, yang setelah itu memperbaharui hubungan lama denganKesultanan Soppeng dan Wajo (disebut sebagai Aliansi Tellumpoccoe) dalam masalah serangan gabungan melawan angkatan perang Belanda. Ketika ekspedisi tidak diadakan, orang Bone mengartikannya sebagai kelemahan dan ketakutan.

Ekspedisi juga direncanakan oleh GubJend. Charles Ferdinand Pahud pada tahun 1857 namun niat itu tak terlaksana. Di saat yang sama, Sultan Aru Pugi mangkat dan digantikan oleh jandanya Besse Kajuara, yang dalam sebuah surat pendek terhadap pemerintah diketahui bahwa di sana ada upaya pemulihan hubungan kembali dan berharap bahwa kematian sultan yang bermusuhan akan menjadi awal perubahan ke arah yang lebih baik.

Di akhir tahun 1857, gubernur memberitahukan bahwa Sultan Bone memerintahkan pengibaran bendera Belanda terbalik di seluruh kapal dagang; selanjutnya para penguasa membangkang terhadap pemerintah dan di utara Distrik Pemerintahan Maros, para serdadu pribumi yang ditempatkan di gardu dekat Camba didorong untuk desersi.


Jalannya Perang Bone

Berikut ini terdapat dua (2) jalannya perang bone, yaitu sebagai berikut:


  1. Ekspedisi 1 Perang Bone

Ekspedisi 1 Perang Bone

Setelah jatuhnya Kesultanan Gowa, Kesultanan Bone menjadi yang terkuat di seantero Sulawesi; sejak awal telah merdeka dan menyebarkan pengaruh ke seluruh negeri di Sulawesi; Kesultanan Luwu dan sejumlah negara kecil lain bersekutu dengan Bone, begitupun Kesultanan Soppeng. Setelah peralihan kekuasaan dari Inggris ke Belanda, suasana masih tetap damai, namun setelah Sultan Bone meninggal pada tahun 1823, dan digantikan oleh saudarinya Aru Datu (bergelar I-Maneng Paduka Sri Ratu Sultana Salima Rajiat ud-din), pemerintah kesultanan mencoba merevisi Perjanjian Bongaya, beserta semua anggota persekutuan itu, yang jatuh atas pemerintahan itu, hukum yang sama harus diberlakukan.

Artikel Terkait:  Perlawanan Banten Terhadap VOC

Antara tanggal 8 Maret sampai 21 September 1824, Gub Jend. G.A.G.Ph. van der Capellen mengadakan lawatan ke Sulawesi dan Kepulauan Maluku; semua penguasa datang memberikan penghormatan (juga perwakilan Ratu Bone), kecuali penguasa Suppa dan Tanete. Van der Capellen berharap bahwa perundingan dengan negara-negara tersebut tidak akan membawa keuntungan apapun; sekembalinya ke Batavia, sebuah ekspedisi dipersiapkan dan sekitar 500 prajurit diberangkatkan dengan membawa 4 meriam, 2 howitzer, beserta 600 prajurit pembantu pribumi untuk menghukum Bone.

Sultan yang kini terguling lari ke pedalaman dan penduduk tetap melancarkan serangan atas Belanda namun masalah di Tanete cepat dibereskan dengan baik. Meskipun Suppa masih kuat; LetKol. Reeder melancarkan serangan bersama 240 prajurit yang dipersenjatai sejumlah moncong senjata; pada tanggal 14 Agustus serangan diperbaharui: orang Bugis membiarkan pasukan Belanda mendekat tanpa ancaman apapun hingga di kaki sebuah bukit dan barulah mereka melancarkan serangan; setelah kehilangan sepertiga pasukannya, Belanda harus mundur.

De Stuers menyerbu bersama komisaris pemerintahan Tobias ke Suppa dan makin mendekat; pada pagi hari tanggal 30 Agustus, operasi itu berhasil diselesaikan, setelah tembakan meriam peringatan ke benting musuh, namun kekuatan yang dibawa De Stuers tak cukup kuat. Dengan korban tewas sebanyak 14 jiwa dan 60 korban luka-luka, pasukan Belanda harus kembali dan harus melancarkan ekspedisi lain.


  1. Ekspedisi 2 Perang Bone

Ekspedisi 2 Perang Bone

Gubernur Jenderal G.A.G.Ph. van der Capellen baru meninggalkan Celebes (sekarang Sulawesi) setelah ekspedisi terdahulu atas Bone dilancarkan secara besar-besaran atas batas pemerintahan Hindia-Belanda, di mana pasukan Belanda menaklukkan Pangkajene dan Labakkang, menduduki Tanete dan mengembalikan penguasa terguling ke atas tahta. (Baca Juga : Latar Belakang VOC )

Dengan 25.000 orang, mereka mengendalikan wilayah subur antara Tanete-Maros dan juga menduduki Bantaeng dan Bulukumba di bagian selatan; May. Wachs menaklukkan mereka di dataran Maros dan mengalahkan telak orang Bone; di sisi lain benteng milik pemerintah Maros, Bantaeng dan Bulukumba tak cukup kuat untuk mengalahkan serangan berdarah tersebut dan seluruh Celebes terancam kalah.

Artikel Terkait:  Sejarah Kerajaan Bali

Ekspedisi besar-besaran dilancarkan di bawah pimpinan MayJend. Jozef van Geen; di saat bersamaan ia diangkat sebagai Komisaris Pertama Urusan Celebes dan Tobias dan Van Schelle, pegawai negeri sipil, disertakan untuk membantunya. Pasukan ekspedisi itu terdiri atas 4.100 orang, di mana 2.200 adalah serdadu, 1.100 pasukan dari Sumenep dan 800 jiwa dari pasukan penolong dari sejumlah negeri di Celebes yang menjadi antek Belanda; armada tersebut dipimpin oleh Kapt. Pietersen dan terdiri atas 7 kapal perang, 3 perahu meriam dan perahu panjang bersenjata.

Pada tanggal 20 Januari 1825, Van Geen menerima jabatan komando tinggi dan seminggu kemudian tibalah kapal Louisa bersama komandan dan staf dari Makassar. Teluk Bone dipelajari dengan baik dan pantainya dijelajahi; dengan letak seperti itu, taruna kelas I Jan Carel Josephus van Speijk menandainya; ekspedisi berlanjut ke Bantaeng dan Bulukumba dan semua benteng ditaklukkan; armada tersebut melanjutkan perjalanan ke Bone, di mana angkatan Bone telah berkumpul di Sinjai; sekarang serangan di sayap (dipimpin oleh May. Gey van Pittius) dilancarkan dan orang Bone dihalau, namun berkelompok di mana-mana dan menebar ancaman untuk memotong jalur pulang; barulah mereka dapat dihalau oleh panah api dari perahu-perahu yang dipimpin oleh Zoutman.

Pada tanggal 15 Maret, pendaratan diakhiri, kerja lapangan dilakukan di pesisir dan di sana berdiri 5.000 orang Bone yang siap menyerang pasukan tersebut. Van Geen hanya mengizinkan roket ditembakkan ke arah para penunggang kuda Bone agar menimbulkan kepanikan di antara mereka dan serangan dapat dilanjutkan. Musuh menarik diri ke daerah pegunungan, yang di situ berdiri 7.500 pasukan cadangan, dan serangan mendadak dengan kekuatan besar dilancarkan melalui garis tembak melintasi rawa dan diusir.

Van Geen mengizinkan husar Resimen VII menyerang di sayap, sementara May. Gey van Pittius mencoba mengatur perhatian atas Bone, di mana musuh menarik diri di daerah pegunungan itu. Mangara Bombang ditaklukkan dan di hari berikutnya pusat kekuatan musuh di Sinjai Besar harus ditaklukkan namun saat itu musuh sudah tidak ada. Pada tanggal 22 Maret, pasukan tersebut naik kapal ke Bajoe dan Bone ditaklukkan.

Bajoe dipertahankan, sejam berlalu, di mana pasukan Bajoe mengundurkan diri dengan dikawal melalui kubu, bersandar menuju rawa tak tertembus itu dan di sana dilakukan pertahanan dengan senjata berat. Setelah datang, pasukan Belanda menyerbu Bajoe dan pasukan Bone dihalau dalam misi tersebut. Pada tanggal 30 Maret, pasukan Belanda mencapai kubu pertahanan Bone; kotanya sendiri sudah ditinggalkan oleh penduduknya; sang Ratu juga telah melarikan diri dan di sana Van Geen mengumandangkan proklamasi penguasaan kembali hingga perundingan diselenggarakan.

Artikel Terkait:  Perkembangan Pergerakan Kebangsaan Indonesia

Le Bron de Vexela memimpin pasukan dalam jumlah besar ke Makasaar untuk membantu kekuatan persenjataan Belanda. Pada tanggal 20 Juni, armada tersebut berlayar ke Suppa, yang mempersiapkan diri untuk menyerang dan sebuah pernyataan ditujukan pada sultan. Sultan Suppa menyerahkan diri, senjatanya dilucuti dan ini menandai berakhirnya perang tersebut.


Akhir Perang Bone

Penaklukkan yang terakhir dan menentukan kekalahan Bone, baru terjadi pada tahun 1908. Bone harus menandatangani Perjanjian Pendek.

Perjanjian Pendek ( Korte Verklaring ) berisi :

  • Pernyataan setia kepada raja Belnada atau Gubernur Jendral sebagai wakilnya.
  • Pernyataan tidak akan mengadakan hubungan dengan pihak luar negeri.
  • Pernyataan akan menjalankan segala peraturan dan perintah yang berasal dari Gubernur Jenderal atau wakilnya.

Perjanjian semacam ini sejak berakhirnya Perang Aceh tahun 1904 selalu dipakai dan dimanfaatkan oleh pemerintah kolonial sebagai alat politik mengikat secara hukum (de jure) raja-raja di Indonesia untuk tunduk mengakui kedudukan pemerintah kolonial Hindia Belanda di Indonesia.


Daftar Pustaka:

  1. 1900. W.A. Terwogt. Het land van Jan Pieterszoon Coen. Geschiedenis van de Nederlanders in oost-Indië. P. Geerts. Hoorn
  2. 1900. G. Kepper. Wapenfeiten van het Nederlands Indische Leger; 1816-1900. M.M. Cuvee, Den Haag.
  3. 1876. A.J.A. Gerlach. Nederlandse heldenfeiten in Oost Indië. Drie delen. Gebroeders Belinfante, Den Haag.

Demikian Penjelasan Pelajaran IPS-Sejarah Tentang Perang Bone (1824-1905): Latar Belakang, Jalan dan Akhir Perang

Semoga Materi Pada Hari ini Bermanfaat Bagi Siswa-Siswi, Terima Kasih !!!


Baca Artikel Lainnya:

  1. Perang Jawa (1741-1743)
  2. Perlawanan Banten Terhadap VOC
  3. Perang Mataram Melawan VOC
  4. Materi Perang Padri Lengkap