Perang Melawan Keserakahan Kongsi Dagang

Assalammualaikum, Selamat datang di Kelas IPS. Disini Ibu Guru akan membahas tentang pelajaran Sejarah yaitu Tentang “Perang Melawan Keserakahan Kongsi Dagang“. Berikut dibawah ini penjelasannya:

Perang-Melawan-Keserakahan-Kongsi-Dagang

Awal mula kedatangan Belanda Ke Indonesia yaitu berdagang, karena melihat di Nusantara terdapat banyak rempah-rempah maka Belanda berkeinginan untuk mendapatkan rempah-rempah tersebut. Karena kedatangan Belanda tidak hanya mencari rempah-rempah dan berdagang, namun juga ingin menguasai wilayah Nusantara maka timbulah perlawanan dari rakyat terhadap pemerintah Belanda.


Mengevaluasi Perang Melawan Keserakahan Kongsi Dagang (Abad Ke 16-18)

Disini kami akan membahas perlawanan apa saja dan bagaimana perlawanan dari rakyat terhadap Belanda, berikut di antaranya :


  1. Aceh Versus Portugis dan VOC

Aceh Versus Portugis dan VOC

Setelah Malaka jatuh ke tangan Portugis pada tahun 1511, justru membawa hikmah bagi Aceh. Banyak pedagang menuju Aceh dan perdagangan di Aceh semakin ramai. Perkembangan Aceh yang begitu pesat dipandang sebagai ancaman oleh Portugis maka Portugis berniat untuk menghancurkan Aceh. Tahun 1523 Portugis melancarkan serangan di bawah pimpinan Henrigues, dan menyusul pada tahun 1524 dipimpin oleh de Sauza, akhirnya serangan Portugis mengalami kegagalan. (Baca Juga Artikel Terkait : Perlawanan Aceh Terhadap Portugis)

Portugis menghalalkan segala cara untuk melemahkan posisi Aceh sebagai pusat perdagangan. Misalnya kapal dagang Aceh diburu oleh kapal Portugis untuk ditangkap. Oleh karena sikap Portugis itu, maka muncullah perlawan perlawanan rakyat Aceh. Sebagai persiapan Aceh melakukan langkah-langkah antara lain:

  • Melengkapi kapal-kapal dengan persenjataan, meriam dan prajurit.
  • Mendatangkan bantuan persenjataan, sejumlah tentara dan beberapa ahli dari Turki pada tahun 1567.
  • Mendatangkan bantuan persenjataan dari Kalikut dan Jepara.

Setelah berbagai bantuan berdatangan, Aceh segera melancarkan serangan terhadap Portugis di Malaka. Portugis harus bertahan mati-matian di Formosa/ Benteng. Portugis harus mengerahkan semua kekuatannya sehingga serangan Aceh ini dapat digagalkan.

Sebagai tindakan balasan pada tahun 1569 Portugis balik menyerang Aceh, tetapi serangan Portugis di Aceh ini juga dapat digagalkan oleh pasukan Aceh.
Sementara itu, Portugis mempunyai rencana terhadap Aceh sebagai berikut :

  1. Menghancurkan Aceh dengan jalan mengepungnya selama 3 tahun.
  2. Setiap kapal yang berlayar di selat Malaka akan disergap dan dihancurkan.

Rakyat Aceh dan para pemimpinnya selalu ingin memerangi kekuatan dan dominasi asing, oleh karena itu, jiwa dan semangat juang untuk mengusir Portugis dari Malaka tidak pernah padam. Pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda (1607-1639), semangat juang mempertahankan tanah air dan mengusir penjajahan asing semakin meningkat.

Iskandar Muda adalah raja yang gagah berani dan bercita-cita untuk mengenyahkan penjajahan asing, termasuk mengusir Portugis dari Malaka. Iskandar Muda berusaha untuk melipat gandakan kekuatan pasukannya. Angkatan lautnya diperkuat dengan kapal-kapal besar yang dapat mengangkut 600-800 prajurit.

Pasukan kavaleri dilengkapi dengan kuda-kuda dari Persia, bahkan Aceh juga menyiapkan pasukan gajah dan milisi infanteri. Sementara itu untuk mengamankan wilayahnya yang semakin luas meliputi Sumatera Timur dan Sumatera Barat, ditempatkan para pengawas di jalur-jalur perdagangan.

Para pengawas itu ditempatkan di pelabuhan-pelabuhan penting seperti di Pariaman. Para pengawas itu umumnya terdiri para panglima perang. Setelah mempersiapkan pasukannya, pada tahun 1629 Iskandar Muda melancarkan serangan ke Malaka. Menghadapi serangan kali ini Portugis sempat kewalahan. Portugis harus mengerahkan semua kekuatan tentara dan persenjataan untuk menghadapi pasukan Iskandar Muda.

Namun, serangan Aceh kali ini juga tidak berhasil mengusir Portugis dari Malaka. Hubungan Aceh dan Portugis semakin memburuk. Bentrokan-bentrokan antara kedua belah pihak masih sering terjadi, tetapi Portugis tetap tidak berhasil menguasai Aceh dan begitu juga Aceh tidak berhasil mengusir Portugis dari Malaka. Yang berhasil mengusir Portugis dari Malaka adalah VOC pada tahun 1641. (Baca Juga Artikel Terkait : Sejarah Perang Aceh dengan Belanda (1873-1904) Lengkap)


  1. Maluku Angkat Senjata

Maluku Angkat Senjata

Portugis berhasil memasuki Kepulauan Maluku pada tahun 1521. Mereka memusatkan aktivitasnya di Ternate. Tidak lama berselang Spanyol datang ke Maluku dan memusatkan kedudukannya di Tidore. Dan persaingan tajam antara Portugis dan Spanyol tidak dapat dihindari lagi. Tahun 1529 terjadi perang antara Tidore melawan Portugis, penyebab dari perang ini adalah karena kapal Portugis menembak jung-jung dari banda yang akan membeli cengkih di Tidore.

Tentu saja Tidore tidak dapat menerima tindakan Portugis tersebut. Dan terjadilan perlawanan antara kedua belah pihak.  Dalam perang ini Portugis dibantu oleh Ternate dan Bacan, dan akhirnya Portugis menang. Dengn kemenangan ini Portugis semakin sombong dan sering berlaku kasar terhadap rakyat Maluku dan upaya monopoli terus dilakukan. Akibat perbuatan ini maka terjadilan letupan-letupan perlawanan rakyat.

Sementar itu untuk menyelesaikan persaingan antara Portugis dan Spanyol maka disepakati Perjanjian Saragosa pada tahun 1534. Denagn adanya perjanjian itu Portugis semakin berkuasa dan memakakan kehendaknya untuk melaksanakan monopoli.kedudukan Portugis ini menganggu kedaulatan kerajaan yang ada di Maluku. Maka tahun 1565 terjadi perlawanan di bawah pimpinan Sultan Khaerun/Hairun.

Sultan Khaerun/Hairun menyerukan seluruh rakyat untuk angkat senjata melawan Portugis. Portugis mulai kewalahan dan mengusulkan untuk melaksanakan perundingan kepada Sultan Khaerun/Hairun. Dan Sultan Khaerun/Hairun menerima ajakan Portugis tersebut dan perundingan diadakan di benteng Soa Palo, tetapi itu hanyalah tipu muslihat dari Portugis, pada saat perundingan terjadi, Sultan Khaerun ditangkap dan dibunuh.

Setelah Sultan Khaerun dibunuh, perlawanan terus terjadi di bawah pimpinan Sultan Baabullah(Sultan Khaerun). Melihat tindakan Portugis yang tidak berperikemanusiaan, semangat rakyat Maluku semakin berkorban. Semua rakyat Maluku dipersatukan untuk melawan Portugis. Pada tahu 1575 Portugis dapat didesakdan diusir dari Ternate. Portugis melarikan diri dan menetap di Ambon sampai tahun 1605, dan akhirnya Portugis dapat diusir oleh VOC dari Ambon. Dan kemudian menetap di VOC.

Serangkaian serangan terus terjadi terhadap Portugis maupun VOC  yang melakukan tindakan sewenang-wenangnya.  Misalnya tahu 1635-1646 terjadi serangan sporadis dari rakyat Hitu yang dipimpin oleh Kakiali dan Telukabesi. Namun serangan itu berhasil dipatahkan oleh VOC yang memiliki persenjataan lebih lengkap. Rakyat terus mengalami penderitaan akibat kebijakan onopoli rempah-rempah yang disertai pelayaran Hongi.

Tahun 1680, VOC memaksakan perjanjian terhadap  penguasa Tidore. Kerajaan Tidore yang mulanya sebagai sekutu turun statusnya menjadi vassal VOC. Penempatan Tidore sebagai vassal Voc menimbulkan protes keras dari pangeran Nuku. Maka timbullah perlawan rakyat yang dipimpin oleh Pangeran Nuku melawan VOC. Sultan Nuku mendapat dukungan rakyat Papua di bawah pimpinan Raja Ampat dan juga dari Gamrange dan Halmahera.

Artikel Terkait:  3 Jenis-Jenis Manusia Purba Di Indonesia yang Wajib Diketahui

Sultan Nuku juga berhasil meyakinkan Sultan Aharal dan Pangeran Ibrahin untuk bersama-sama melawan VOC dan Inggris juga memberikan dukungan kepada Sultan Nuku. Belanda kewalahan untuk membendung ambisi Nuku untuk lepas dari dominasi Belanda. Sultan Nuku berhasil mengembangkan Pemerintah yang berdaulat melepaskan diri dari dominasi Belanda di Tidore. (Baca Juga Artikel Terkait: Sejarah Berdirinya Kerajaan Tidore)


  1. Sultan Agung Versus J.P. Coen

Sultan Agung Versus J.P. Coen

Sultan Agung adalah raja yang paling terkenal dari Kerajaan Mataram. Pada masa pemerintahan Sultan Agung, Mataram mencapai zaman keemasan.  Cita-cita Sultan Agung antara lain: (1) Mempersatukan seluruh tanah Jawa, dan  (2) mengusir kekuasaan asing dari bumi Nusantara.

Oleh karena itu, Sultan Agung merencanakan serangan ke Batavia. Alasan Sultan Agung Merencanakan serangan ke Batavia, yakni:

  1. Tindakan monopoli yang dilakukan VOC.
  2. VOC sering menghalang-halangi kapal-kapal dagang Mataram yang akan berdagang ke Malaka.
  3. VOC menolak untuk mengakui kedaulatan Mataram, dan
  4. Keberadaan VOC di Batavia telah memberikan ancaman serius bagi masa depan Pulau Jawa.

Pada tauhun 1628 telah dipersiapkan pasukan dengan segenap persenjataan dan perbekalan. Pada waktu itu yang menjadi gubernur jendral VOC adalah J.P. Coen. Sebagai pimpinan pasukan Mataram adalah Tumenggung Baureksa. Tepat pada tanggal 22 Agustus 1628, pasukan Mataram di bawah pimpinan Tumenggung Baureksa menyerang Batavia. Tumenggung Baureksasendiri gugur dalam pertempuran itu. Dengan  demikian serangan tentara Sultan Agung pada tahun 1628 belum berhasil. (Baca Juga Artikel Terkait : Perang Mataram Melawan VOC)

Tahun 1629 pasukan Mataram diberangkatkan menuju Batavia. Sebagai pimpinan pasukan Mataram dipercayakan kepada Tumenggung Singaranu, Kiai Dipati Juminah, dan Dipati Purbaya. Di Tegal tentara VOC berhasil menghancurkan 200 kapal Mataram, 400 rumah penduduk dan sebuah lumbung beras. Pada saat pengepungan Benteng Bommel, terpetik berita bahwa J.P.Coen meninggal. Peristiwa ini terjadi pada tanggal 21 September 1629.dengan semangat juang yang tinggi pasukan Mataram terus melakukan penyerangan.  Dengan demikian serangan Sultan Agung yang kedua ini juga mengalami kegagalan.

ultan Agung meninggal tahun 1645, Mataram menjadi semakin lemah sehingga akhirnya berhasil dikendalikan oleh VOC. Sebagai pengganti Sultan Agung adalah Sunan Amangkurat I. Ia memerintah pada tahun 1646-1677. Ternyata Raja Amangkurat I merupakan raja yang lemah dan bahkan bersahabat dengan VOC.


  1. Perlawanan Banten

Perlawanan Banten

Banten memiliki posisi yang strategis sebagai bandar pandangan internasional. VOC membangun Bandar di Batavia pada tahun1619. Oleh karena itu, rakyat Banten sering melakukan serangan-serangan terhadap VOC. Tahun 1651, Pangeran Surya naik tahta di Kesultanan Banten. Ia adalah cucu Sultan Abdul Mufakhir Mahmud Abdul Karim, anak dari Sultan Abu al-Fath Abulfatah. Sultan Abu al-Fath Abdulfatah ini lebih dikenal dengan nama Sultan Agung Tirtayasa. Sebagai balasan Sultan Ageng  juga mengirim beberapa pasukannya untuk mengganggu kapal-kapal dengan VOC dan menimbulkan gangguan di Batavia.

Sementara itu untuk kepentingan pertahanan, Sultan Ageng memerintahkan untuk membangun irigasi yang membenteng dari Sungai Untung Jawa sampai Pontang. Oleh karena jasa-jasanya ini maka sultan digelari Sultan Ageng Tirtayas.

Di tengah-tengah mengobarkan semangat anti VOC itu, pada tahun 1671 Sultan Ageng raja pembantu yang lebih dikenal dengan nama Sultan Haji. Pemisahan urusan pemerintahan di Banten ini tercium oleh perwakilan VOC di Banten W.Caeff. karena hasutan VOC ini Sultan Haji mencurigai ayah dan saudaranya. Sultan Haji juga sangat khawatir, apabila dirinya tidak segera dinobatkan sebagai sultan, sangat mungkin jabatan sultan itu akan diberikan kepada Pangeran Arya Purbaya. (Baca Juga Artikel Terkait : Perlawanan Banten Terhadap VOC)

Dalam persekongkolan tersebut VOC sanggup membantu Sultan Haji untuk merebut Kesultanan Banten tetapi dengan empat syarat:

  1. Banten harus menyerahkan Cirebon kepada VOC
  2. Monopoli lada di Banten dipegang oleh VOC dan harus menyingkirkan para pedagang Persia, India, dan Cina.
  3. Banten harus membayar 600.000 ringgit apabila ingkar janji
  4. Pasukan Banten yang menguasai daerah pantai dan pedalaman Priangan segera ditarik kembali. Isi perjanjian ini disetujui oleh Sultan Haji.

Pada tahun 1681 VOC atas nama Sultan Haji berhajil merebut Kesultanan Banten. Istana Surosowan berhasil dikuasai. Sultan Ageng kemudian membangun istana yang baru berpusat di Tirtayasa. Pada tahun 1682 pasukan Sultan Ageng Tirtayasa berhasil mengepung istana Surosowan. Tentara VOC terus memburu. Sultan Ageng Tirtayasa beserta pengikutnya yang kemudian bergerak kearah Bogor.

Baru setelah melalui tipu muslihat pada tahun 1683SultanAgeng Tirtayasa berhasil ditangkap dan ditawan di Batavia sampai meninggalnya pada tahun 1692. Hal ini terbukti setelah  Sultan Ageng Tirtayasa meninggal,perlawanan rakyat Banten terhadap VOC terus berlangsung. Misalnya pada tahun 1750 timbul perlawanan yang dipimpin oleh Ki Tapa dan Ratu Bagus.


  1. Perlawanan Goa

Perlawanan Goa

Kerajan goa merupakan salah satu kerajaan yang sangat terkenal di nusantara. Pusat pemerintahannya berada di somba opu yang sekaligus menjadi pelabuhan kerajaan goa. Banyak para pedagang asing yang tinggal di kota itu. Mereka diizinkan membangun loji di kota itu. Masyarakat goa senantiasa berpegang pada prinsip hidup sesuai dengan kata-kata “tanahku terbuka bagi semua bangsa”.

Pelabuhan somba opu memiliki posisi yang strategis dalam jalur perdagangan internasional. Pelabuhan somba opu telah berperan sebagai Bandar perdagangan tempat persinggahan kapal-kapal dagang dari timur ke barat atau sebaliknya. Begitu juga barang yang dagangan dari barat yang akan masuk ke Maluku juga melakukan bongkar maut di somba opu.

Dengan melihat peran dan posisinya yang stratigis, VOC berusaha keras untuk dapat mengendalikan goa dan menguasai pelabuhan somba opu serta menerapkan monopoli perdagangan. Berbagai upaya dilakukan untuk melemahkan usaha goa terhadap pelabuhan somba opu tetapi gagal karena perahu-perahu makasar yang berukuran kecil lebih lincah dan mudah bergerak di antara pulau-pulau yang ada. Kemudian kapal-kapal VOC merusak menangkap kapal-kapal pribumi maupun kapal-kapal asing lainnya. (Baca Juga Artikel Terkait : Perlawanan Rakyat Makassar Terhadap VOC)

Raja goa, sultan hasanuddin ingin menghentikan tindakan VOC yang anarkis dan propokatif itu. Seluruh kekuatan di persiapkan untuk menhadapi VOC. Beberapa sekutu goa dikordinasikan. Sementara itu VOC juga mempersiapkan diri untuk menundukkan goa. VOC begitu bernafsu untuk segera dapat mengendalikan kekuasaan di goa. Oleh karena itu, pemimpin VOC, Gubernur Jendral Maetsuyker memutuskan untuk menyerang goa.

Dikirimlah pasukan ekspedisi yang berkekuatan 21 kapal dengan mengangkut 600 orang tentara. Pada tanggal 7 juli 1667, meletus perang goa. Tentara VOC dipimpin oleh Cornelis janszoon spelman diperkuat oleh pengikut aru palaka dan ditambah orang-orang ambon di bawah pimpinan jonker van manipa. Kemenangan pihak VOC atas kerajaan goa. Hasanuddin kemudian di paksa untuk menandatangani perjanjian bongaya pada tanggal 18 november 1667, yang isinya antara lain yaitu

  • GOA harus mengakui hak monopoli VOC.
  • Semua orang barat, kecuali belanda harus meninggalkan wilayah GOA.
  • GOA harus membayar biaya perang.
Artikel Terkait:  Materi Perang Dingin Kelas 12

Pada tahun 1668 sultan hasanuddin mencoba menggerakkan kekuatan rakyat untuk kembali melawan kesewenag-wenangan VOC. Namun perlawanan ini segera dapat di padamkan oleh VOC. Dengan sangat terpaksa sultan hasanuddin harus  melaksanakan isi perjanjian bongaya. Bahkan benteng pertahanan rakyat Goa jatuh dan diserahkan kepada VOC. Benteng itu kemudian oleh spelman diberi nama benteng Rootterdam.


  1. Rakyat Riau Angkat Senjata

Rakyat-Riau-Angkat-Senjata

Ambisi untuk melakukan monopoli perdagangan dan menguasai berbagai daerah di nusantara Kerajaan-kerajaan kecil semakin terdesak oleh pemaksaan monopoli dan tindakan sewenang-wenang dari VOC.

Perlawanan di riau adalah perlawanan yang di lancarkan oleh kerajaan siak sri indrapura. Raja Siak Sultan Abdul jalil Rahmat syah memimpin rakyatnya untuk melawan VOC. Dari pertahanan di pulau banten ini pasukan Sultan Abdul jalil mengirim pasukan di bawah komando Raja lela muda untuk menyerang malaka.

Dalam suasana konfrontasi dengan VOC itu, Sultan Abdul jalil Rahmat Syah wafat. Sebagai gantinyya diangkatlah putranyayang bernama Muhammad abdul jalil muzafar syah . pada tahun 1751 berkobar perang melawan VOC. Dengan cara membuat benteng pertahanan di sepanjang jalur yang menghubungkan sungai Indragiri, Kampar sampai pulau guntung yang berada di muara sungai siak. Oleh karena itu segera dipersiapkan kekuatan yang lebih besar untuk menyerang VOC.

Raja indra dan panglima besar tengku muhammad  ali. Dalam serangan ini di perkuat dengan kapal perang “Harimau Buas” yang dilengkapi dengan lancang serta perlengkapan perang secukupnya. Dengan demikian pasukan siak sulit menembus benteng pertahaanan itu. Namun banyak pula jatuh korban dari VOC , sehingga nendatangkan bantuan kekuatan termasuk juga orang-orang cina. Pertemuran hamper berlangsung satu bulan. Melihat situasi yang demikian itu kedua panglima perang siak menyerukan pasukannya untuk mundur kembali ke siak.

Sultan Siak bersama  para panglima dan penasihat mengatur siasat baru. Di sepakati bahwa VOC harus dilaswan dengan tipu daya. Sultan di minta untuk berpura-pura berdamai dengan cara memberikan hadiah kepada belanda. VOC setuju dengan ajakan damai ini. Perundingan damai di adakan di loji di pulau Guntung.

Sultan segera memberi kode pada anak buah dan segera menyerap dan membunuh orang-orang belanda di loji itu. Sekalipun belum berhasil mengenyahkan VOC dari malaka. Siasat perang ini tidak terlepas dari jasa raja indra pahlawan. Oleh karena itu atas jasanya raja indra pahlawan diangkat sebagai penglima besar kesultanan siak dengan gelar :”panglima perang raja indra pahlawan datuk lima puluh”.


  1. Orang-Orang Cina Berontak

Orang-Orang Cina Berontak

Sejak abad ke-5 orang-orang Cina sudah mengadakan hubungan dagang ke Jawa dan jumlahnya pun semakin banyak. Pada masa perkembangan kerajaan-kerajaan Hindu-Buddha dan Islam banyak pedagang Cina yang tinggal di daerah pesisir, bahkan tidak sedikit yang menikah dengan penduduk Jawa. Begitu juga pada masa pemerintahan VOC di Batavia, banyak orang Cina yang datang ke Jawa.

VOC memang sengaja mendatangkan orang-orang Cina dari Tiongkok dalam rangka mendukung kemajuan perekonomian di Jawa. Orang-orang Cina yang datang ke Jawa tidak semua yang memiliki modal. Banyak di antara mereka termasuk golongan miskin. Mereka kemudian menjadi pengemis bahkan ada yang menjadi pencuri. Sudah barang tentu hal ini sangat mengganggu kenyamanan dan keamanan Kota Batavia.

Untuk membatasi kedatangan orang-orang Cina ke Batavia, VOC mengeluarkan ketentuan bahwa setiap orang Cina yang tinggal di Batavia harus memiliki surat izin bermukim yang disebut permissiebriefjes atau masyarakat sering menyebut dengan “surat pas”. Apabila tidak memiliki surat izin, maka akan ditangkap dan dibuang ke Sailon (Sri Langka) untuk dipekerjakan di kebun-kebun pala milik VOC atau akan dikembalikan ke Cina.

Mereka diberi waktu enam bulan untuk mendapatkan surat izin tersebut. Biaya untuk mendapatkan surat izin itu yang resmi dua ringgit (Rds.2,-) per orang. Tetapi dalam pelaksanaannya untuk mendapatkan surat izin terjadi penyelewengan dengan membayar lebih mahal, tidak hanya dua ringgit. Akibatnya banyak yang tidak mampu memiliki surat izin tersebut.

VOC bertindak tegas, orang-orang Cina yang tidak memiliki surat izin bermukim ditangkapi. Tetapi mereka banyak yang dapat melarikan diri keluar kota. Mereka kemudian membentuk gerombolan yang mengacaukan keberadaan VOC di Batavia.

Pada suatu ketika tahun 1740 terjadi kebakaran di Batavia. VOC menafsirkan peristiwa ini sebagai gerakan orang-orang Cina yang akan melakukan pemberontakan. Oleh karena itu, para serdadu VOC mulai beraksi dengan melakukan sweeping memasuki rumah-rumah orang Cina dan kemudian melakukan pembunuhan terhadap orang-orang Cina yang ditemukan di setiap rumah.

Sementara yang berhasil meloloskan diri dan melakukan perlawanan di berbagai daerah, misalnya di Jawa Tengah. Salah satu tokohnya yang terkenal adalah Oey Panko atau kemudian dikenal dengan sebutan Khe Panjang, kemudian di Jawa menjadi Ki Sapanjang. Nama ini dikaitkan dengan perannya dalam memimpin perlawanan di sepanjang pesisir Jawa.

Perlawanan dan kekacauan yang dilakukan orang-orang Cina itu kemudian meluas di berbagai tempat terutama di daerah pesisir Jawa. Perlawanan orang-orang Cina ini mendapat bantuan dan dukungan dari para bupati di pesisir. Bahkan yang menarik atas desakan para pangeran, Raja Pakubuwana II juga ikut mendukung pemberontakan orang-orang Cina tersebut.

Pada tahun 1741 benteng VOC di Kartasura dapat diserang sehingga jatuh banyak korban. VOC segera meningkatkan kekuatan tentara maupun persenjataan sehingga pemberontakan orang-orang Cina satu demi satu dapat dipadamkan. Pada kondisi yang demikian ini Pakubuwana II mulai bimbang dan akhirnya melakukan perundingan damai dengan VOC.


  1. Perlawanan Pangeran Mangkubumi dan Mas Said

Perlawanan Pangeran Mangkubumi dan Mas Said

Perlawan terhadap VOC kembali terjadi di Jawa, kali ini dipimpin oleh bangsawan kerajaan yakni Pangeran Mangkubumi dan Raden Mas Said. Perlawanan berlangsung sekitar 20 tahun. (Baca Juga Artikel Terkait : Perang Jawa (1741-1743))

Pada uraian terdahulu sudah disinggung bahwa beberapa raja Mataram setelah Sultan Agung merupakan raja yang lemah bahkan bersahabat dengan kaum penjajah. Begitu juga pada saat pemerintahan Pakubuwana II terjadi persahabatan dengan VOC. Bahkan VOC semakin berani untuk menekan dan melakukan intervensi terhadap jalannya pemerintahan Pakubuwana II. Wilayah pengaruh Kerajaan Mataram juga semakin berkurang.

Persahabatan antara Pakubuwana II dengan VOC ini telah menimbulkan kekecewaan para bangsawan kerajaan, apalagi VOC melakukan intervensi dalam urusan pemerintahan kerajaan. Hal ini mendorong munculnya berbagai perlawanan misalnya perlawanan Raden Mas Said.

Raden Mas Said adalah putera dari Raden Mas Riya yang bergelar Adipati Arya Mangkunegara dengan Raden Ayu Wulan putri dari Adipati Blitar. Pada usia 14 tahun Raden Mas Said sudah diangkat sebagai gandek kraton (pegawai rendahan di istana) dan diberi gelar R.M.Ng. Suryokusumo. Karena merasa sudah berpengalaman, Raden Mas Said kemudian mengajukan permohonan untuk mendapatkan kenaikan pangkat.

Artikel Terkait:  Peninggalan Kerajaan Samudra Pasai

Akibat permohonan ini Mas Said justru mendapat cercaan dan hinaan dari keluarga kepatihan, bahkan dikait-kaitkan dengan tuduhan ikut membantu pemberontakan orang-orang Cina yang sedang berlangsung. Mas Said merasa sakit hati dengan sikap keluarga kepatihan. Muncullah niat untuk melakukan perlawanan terhadap VOC yang telah membuat kerajaan kacau karena banyak kaum bangwasan yang bersekutu dengan VOC. Ia diikuti R. Sutawijaya dan Suradiwangsa (yang kemudian dikenal dengan Kiai Kudanawarsa) pergi keluar kota untuk menyusun kekuatan. Kemudian Mas Said pergi menuju Nglaroh untuk memulai perlawanan.

Oleh para pengikutnya Mas Said diangkat sebagai raja baru dengan gelar Pangeran Adipati Anom Hamengku Negara Senopati Sudibyaning Prang. Hingga kini sebutan Mas Said yang sangat dikenal masyarakat yakni Pangeran Sambernyawa. Perlawanan Mas Said ternyata cukup kuat karena mendapat dukungan dari masyarakat dan ini merupakan ancaman yang serius bagi eksistensi Pakubuwana II sebagai raja di Mataram.

Oleh karena itu, pada tahun 1745 Pakubuwana II mengumumkan barang siapa yang dapat memadamkan perlawanan Mas Said akan diberi hadiah sebidang tanah di Sukowati (di wilayah Sragen sekarang). Mas Said tidak menghiraukan apa yang dilakukan Pakubuwana II di istana, ia terus melancarkan perlawanan kepada kerajaan maupun VOC.

Mendengar adanya sayembara berhadiah itu, Pangeran Mangkubumi ingin mencoba sekaligus menakar seberapa jauh komitmen dan kejujuran Pakubuwana II. Pangeran Mangkubumi adalah adik dari Pakubuwana II. Pangeran Mangkubumi dan para pengikutnya berhasil memadamkan perlawanan Mas Said. Ternyata Pakubuwana II ingkar janji.

Pakubuwana II kehilangan nilai dan komitmennya sebagai raja yang berpegang pada tradisi, sabda pandhita ratu datan kena wola-wali (perkataan raja tidak boleh ingkar). Karena bujukan Patih Pringgalaya, Pakubuwana II tidak memberikan tanah Sukowati kepada Pangeran Mangkubumi. Terjadilah pertentangan antara Raja Pakubuwana II yang didukung Patih Pringgalaya di satu pihak dengan Pangeran Mangkubumi di pihak lain.

Dalam suasana konflik ini tiba-tiba dalam pertemuan terbuka di istana itu Gubernur Jenderal Van Imhoff mengeluarkan kata-kata yang menghina dan menuduh Pangeran Mangkubumi terlalu ambisi mencari kekuasaan. Hal inilah yang sangat mengecewakan Pangeran Mangkubumi, pejabat VOC secara langsung telah mencampuri urusan pemerintahan kerajaan. Pangeran Mangkubumi segera meninggalkan istana.

Tidak ada pilihan lain kecuali angkat senjata untuk melawan VOC yang telah semena-mena ikut campur tangan pemerintahan kerajaan. Hal ini sekaligus untuk memperingatkan saudara tuanya Pakubuwana II agar tidak mau didikte oleh VOC.

Pangeran Mangkubumi dan pengikutnya pertama kali pergi ke Sukowati untuk menemui Mas Said. Kedua pihak bersepakat untuk bersatu melawan VOC. Untuk memperkokoh persekutuan ini, Raden Mas Said dijadikan menantu oleh Pangeran Mangkubumi. Mangkubumi dan Mas Said sepakat untuk membagi wilayah perjuangan.

Raden Mas Said bergerak di bagian timur, daerah Surakarta ke selatan terus ke Madiun, Ponorogo dengan pusatnya Sukowati. Sedangkan Mangkubumi konsentrasi di bagian barat Surakarta terus ke barat dengan pusat di Hutan Beringin dan Desa Pacetokan, dekat Pleret (termasuk daerah Yogyakarta sekarang). Diberitakan pada saat itu Pangeran Mangkubumi membawahi sejumlah 13.000 prajurit, termasuk 2.500 prajurit kavaleri.

Karena perjanjian itu berisi pasal-pasal antara lain:

  1. Susuhunan Pakubuwana II menyerahkan Kerajaan Mataram baik secara de facto maupun de jure kepada VOC.
  2. Hanya keturunan Pakubuwana II yang berhak naik tahta, dan akan dinobatkan oleh VOC menjadi raja Mataram dengan tanah Mataram sebagai pinjaman dari VOC.
  3. Putera mahkota akan segera dinobatkan. Sembilan hari setelah penandatanganan perjanjian itu Pakubuwana II wafat. Tanggal 15 Desember 1749 Baron van Hohendorff mengumumkan pengangkatan putera mahkota sebagai Susuhunan Pakubuwana III.

Perjanjian tersebut merupakan sebuah tragedi karena Kerajaan Mataram yang pernah berjaya di masa Sultan Agung harus menyerahkan kedaulatan atas seluruh wilayah kerajaan kepada pihak asing. Hal ini semakin membuat kekecewaan Pangeran Mangkubumi dan Mas Said, sehingga keduanya harus meningkatkan perlawanannya terhadap kezaliman VOC.

Perlawanan Pangeran Mangkubumi berakhir setelah tercapai Perjanjian Giyanti pada tanggal 13 Februari 1755. Isi pokok perjanjian itu adalah bahwa Mataram dibagi dua. Wilayah bagian barat (daerah Yogyakarta) diberikan kepada Pangeran Mangkubumi dan berkuasa sebagai sultan dengan sebutan Sri Sultan Hamengkubuwana I, sedang bagian timur (daerah Surakarta) tetap diperintah oleh Pakubuwana III.

Sementara perlawanan Mas Said berakhir setelah tercapai Perjanjian Salatiga pada tanggal 17 Maret 1757 yang isinya Mas Said diangkat sebagai penguasa di sebagian wilayah Surakarta dengan gelar Pangeran Adipati Arya Mangkunegara I.


KESIMPULAN

  1. Perlawanan yang terjadi pada abad ke-16 di berbagai daerah ditujukan kepada Portugis, Spanyol dan Belanda. Kemudian perawanan rakyat pada abad ke 17 dan 18 umumnya ditujukan kepada dominasi kongsi dagang VOC (Belanda).
  2. Perlawanan rakyat Indonesia dilatarbelakangi karena tidakan monopoli, keserkahan dan intervensi politik dengan devide et impera dari pemerintahan kongsi dagang itu.
  3. Perlawanan rakyat Indonesia itu umumnya memang dapat dipatahkan oleh kekuatan musuh yang sering berlaku licik dan memiliki persenjataan yang lebih lengkap.
  4. Akibat dominasi pemerintahan kongsi dagang dan kekalahan perlawanan rakyat berdampak sebagian besar Kepulauan Indonesia dikuasai kekuasaan asing terutama VOC.
  5. Perilaku penjajahan itu tidak sesuai dengan fitrah dan hak asasi manusia maka harus dilawan.

Daftar Pustaka:

  1. Kartodirdjo, Sartono 1987 Pengantar Sejarah Indonesia Baru: Dari Emporium sampai Imperium, Gramedia, Jakarta.
  2. Tjandrasasmita, Uka (ed.) 1977 Sejarah Nasional Indonesia II, Balai Pustaka, Jakarta
  3. Ricklefs, M.C 2005 Sejarah Indonesia Modern, Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.
  4. Nugroho, Notosusanto.dkk.1993.Sejarah Nasional Indonesia IV. Jakarta; Balai Pustaka.
  5. Sartono, Kartodirjo. 1998. Dari Imperium sampai Emporium Jilid II. Jakarta: Gramedia.
  6. Wayan, Badrika. 1999. Sejarah Nasional dan Umum Jilid 2. Jakarta; Erlangga.

Demikian Penjelasan Pelajaran IPS-Sejarah Tentang Mengevaluasi Perang Melawan Keserakahan Kongsi Dagang (Abad Ke 16-18)

Semoga Materi Pada Hari ini Bermanfaat Bagi Siswa-Siswi, Terima Kasih !!!


Baca Artikel Lainnya: