Perang Melawan Penjajahan Kolonial Hindia Belanda

Assalammualaikum, Selamat datang di Kelas IPS. Disini Ibu Guru akan membahas tentang pelajaran Sejarah yaitu Tentang “Perang Melawan Penjajahan Kolonial Hindia Belanda“. Berikut dibawah ini penjelasannya:

Perang-Melawan-Penjajahan-Kolonial-Hindia-Belanda

Indonesia telah dijajah oleh beberapa negara asing, seperti Portugis, Spanyol, Belanda, Inggris, dan Jepang. Pada masa itu, rakyat hidup dalam penderitaan. Setiap hari bekerja dengan upah yang tidak sepadan. Oleh sebab itu, rakyat pada masing-masing daerah melakukan berbagai perlawanan terhadap para penjajah (bersifat kedaerahan).


Perang Melawan Penjajahan Kolonial Hindia Belanda

Berikut ini terdapat beberapa perang melawan penjajahan kolonial hindia belanda, yaitu sebagai berikut:


  1. Perang Tondano

Perang Tondano

“Perang Tando yang terjadi pada 1808-1809 adalah perang yang melibatkan orang Minahasa di Sulawesi Utara dan pemerintah kolonial Belanda pada permulaan abad XIX. Perang pada permulaan abad XIX ini terjadi akibat dari implementasi politik pemerintah kolonial Hindia Belanda oleh para pejabatnya di Minahasa, terutama upaya mobilisasi pemuda untuk dilatih menjadi tentara.”


  • Perang Tandano I

Sekalipun hanya berlangsung sekitar satu tahun Perang Tonando dikenal dalam dua tahap. Perang Tonando I terjadi pada masa kekuasaan VOC. Orang-orang Spanyol sudah sampai di tanah minahasa Sulawesi utara. Orang-orang spanyol di samping berdngan juga menyebarjan Agama Kristen. Tokoh yang berjasa dalam penyebaran agama kristen di tanah Minahasa adalah Fransiscus Xaverius. Hubungan orang Minahasa dan Spanyol terus berkembang. Tetapi mulai abad XVII hubungan antara keduanya mulai terganggu dengan kehadiran perang VOC.

VOC berusaha memaksa kehendak agar orang-orang minahasa menjual berasnya kepada VOC. Oleh karena VOC sangat membutuhkan beras untuk melakukan monopoli perdagangan beras di sulawesi utara. Orang-orang Minahasa menentang saha monopoli tersebut. Tidak ada pilihan lain bagi VOC kecuali memerangi orang-orang minahasa. Untuk melemahkan orang-orang Minahasa, VOC membendung Sungai temberan. Akibatnya aliran sungai meluap dan menggenangi tempat tinggal rakyat dan para pejuang Minahasa.


  • Perang Tondano II

Perang Tondano II sudah terjadi ketika memasuki abad ke-19, yakni pada masa pemerintahan Kolonial Belada. Perang ini dilatarbelakangi oleh oleh kebijakan gubernur Jenderal Daendels. Daendels yang mendapat mandat untuk emerangi Ingris memerlukan psukan dalam jumlah besar. Untuk menambah jumlah pasukan maka direktur pasukan dari kalangan pribumi. Mereka yang dipilih adalah dari suku-suku yang memiliki keberanian berperang. Suku yang dipilih yaitu oarang Madura, Dayak, dan Minhasa.

Dalam suasana yang kertis itu tidak ada pilihan lain bagi Gubernur Prediger kecuali mengirim pasukan untuk menyerang pertahanan orang-orng minahasa di Tonando, Minawanua. Belanda kembali menerapkan strategi dengan membendung sungai Temberan. Prediger juga membentuk dua pasukan tangguh.

Perang Tondano II berlangsung cukup lama, bahkan sampai Agustus 1809. Dalam suasana kepenatan dan kekurangan mkanan mnusia dan kelompok pejuang yang yang memihak kepada Beanda. Namun dengan kekuatan yang ada para pejuang Tondano terus memberikan perlawanan. Akhirnya pada tanggal 4-5 Agustus 1809 Benteng perthanan Moraya milik para pjuang hancur bersama rakyat yang berusaha mempertahankan. Para pejuang itu memilih mati dari pada menyerah.


  1. Pattimura Angkat Senjata

Pattimura Angkat Senjata

Maluku dengan rempah-rempahnya memang bagaikan “mutiata dari timur”, yang senantiasa dihibur oleh orang-orang Barat. Namun kekuasaan orang-orang barat telah merusak tata ekonomi dan pola pergangan bebas yang telah lama berkembang di nusantara. Pada masa pemerintah Ingris di bawah Reffles keadaan Maluku relatif lebih tenang karena Ingris bersedia membayar hasil bumu rakyat maluku.

Menanggapi konisi yang demikian para tokoh dan pemuda Maluku melakukan serangkaian pertemuan rahasia. Sebagai contoh telah diadakan pertemuan rahasia di pulau Huruku, pulau yang di huni orang-orang Islam. Selanjutnya pada tanggal 14 Mei 1817di Pulau Saparua (Pulu yang dihuni orang-orang Kristen) Kmbali diadakan pertemuan di sebuah tempat yanng sering disebut dengan Hutan Kyuptih.

Gerakan perlawanan dimulai dengan menghancurkan kapal-kapal Belanda di pelabuhan. Para pejuang Maluku kemudian menuju Benteng Duurstede. Ternyata sudah berkumpul pasukan Belanda. Dengan demikian tejadi pertempuran antara para pejuang Maluku melawan pasukan Balanda. Belanda waktu itu di pinpin oleh Residenvan dan Berg. Sementar dari pihak para pejuang selain patimura juga tamppil tokoh-tokoh seperti Christina Martha Tiahahu, Thomas Pattiwwail, dan Lucas Latumahina.

Belanda kemudian mendatangkaan bantuan dari Ambon. Datanglah 300 rpajurit yang dipinpin oleh Mayor Beetjes. Pasukan ini kawal oleh dua kapal perang yakni kapal  Nassau dan Evertsen. Namun bantuan ini dapat digagalkan oleh pasukan patimura, bahkan mayor Beetjes terbunuh. Kembali kemenangan ini semakin menggelora perjuangan para pejuang di berbagai tempat seperti saram, Hitu, Haruku  dan Lerike.

Upaya perlindungan mulai ditawarkan, tetaoi tidak ada kesempatan.. Akhirnya belanda mengerahkan semua kekuatannya termasuk bantuan dari Betavia untuk merebut kembali Benteng Duurstede. Agustus 1817 Saparua diblokade, Bentang Duurstede dikepung disertai tembakan merim yang  bertubu-tubi. Satu persatu perlawanan di luar benteng dapat di patahkan.

Belanda belum uas sebelum dapat menangkap Pattimura. Bahkan Belnda mengumumkan kepada siapa saja yang dapat menangkap Pattimura akan diberi hadiah 1.000 gulden. Setelah enam bulan memimpin perlawanan, akhirnya Pattimura tertangkap. Tepat pada tanggal 16 Desember 1017 Patimura dihukum gantung di alun-alun kota Ambon. Cristin Martha Tihahu yang berusaha melanjutkan perang gerilya akhirnya jug tertangkap.

Ia tidak dihukum mati tetapi bersama 36 orang lainnya dibuang ke jawa sebagai pekerja rodi. Di dalam kapal Christina Martha Tiahahu mogok tidak mau makan dan tidak mau buka mulut. Ia jatuh sakit dan akhirnya meninggal pad tanggal 2 Januari 1818. Jenazahnya dibuang ke laut antara Pulau Baru dan Pulau Tiga. Berakhirlah perlawanan Pattimura.


  1. Perang Padri

Perang Padri

Perang Padri terjadi di tanah Minangkabau, Sumatra Barat pada tahun 1821- 1837. Perang Padri sebenarnya merupakan perlawanan kaum Padri terhadap dominasi pemerintahan Hindia Belanda di Sumatra Barat adanya pertentangan antara kaum Padri dengan kaum adat telah menjadi pintu masuk bagi campur tanggan Belanda.

Sejak akhir abad ke-18 telah datang seseorang ulama dari kampung Kota Tua didaratan agam. Tuanku Kota Tua menyatakan bahwa masyarakat minang kabau sudah begitu jauh menyimpang dari ajaran islam sesuai dengan Al Quran dan Sunah Nabi. Kemudian pada tahun 1803 datang lah tiga orang ulama yang baru saja pulang haji dari tanah suci mekah, yakni: Haji Miskin, Haji Sumanik dan Haji Piabang.

Mereka melanjutkan gerakan pembaruan atau pemurnian pelaksanan ajaran Islam seperti yang pernah dilakukan oleh Tuanku Kota Tua. Orang Belanda menyebutnya dengan Padri yang dapat dikaitkan dengan kata padre dari bahasa Portugis untuk menujukan orang-orang Islam yang berpakian putih sementara kaum adat di Sumatra Barat memakai pakian hitam

Tahun 1821pemerintah India Belanda menggakat James Du Puy sebagai Presiden di Minangkabau. Pad a tanggal 10 februari 1821, Du Puy mengadakan perjajian persahbatan dengan tokoh adat, Tuanku Suruaso dan 14 Penghulu minang kabau. Tindakan Belanda ini ditentang keras oleh kaum Padri, maka tahun 1821 itu meletuslah perang Padri.

Perang Padri di Sumatra Barat ini dapat dibagi dalam tiga fase yaitu:


  • Fase Pertama (1821-1825)

Pada fase pertama,dimulai gerakan kaaum Padri meyerang pos-pos dan pencegatan terhadap patroli-patroli Belanda. Kemudian Pasaman menggerakan sekitar 20.000 sampai 25.000 pasukan  sekitar  hutan disebelah timur gunung. Sedangkan  Belanda  dengan kekuatan 200 orang serdadu Eropa ditambah sekitar 10.000 pasukan orang pribumi. Tuanku Pasama dengan sisa pasukanya kemudian mengundurkan diri ke Lintau.Sementara   pasukan Belanda telah berasil mengyasai seluruh lembah tanah datar, mendirikan benteng bi Batusangkar terkenal dengan sebutan  Front Van der Capellen.

Periode tahun 1821-1825, serangan-serangan kaum Padri memang meluas di seluruh tanah Minangkabau. Bulan September 1822 kaum Padri berasil mengusir Belanda dari sungai paur, Guguk Sigandang dan Tajong Alam. Peto Syarif adalah sejarah Perang  Padri dikenal sebagai Tuanku Iman Bonjol. ia sangat gigih memimpin kaum Padri  untuk melawan kekejaman dan keserakahan Belanda di tanah Minangkabau.

Pada tanggal 26 Januari 1824 perdamaian antara Belanda dengan kaum Padri di wilayah Alahan Panjang. Perundingan ini dikenal dengan Perjajinan Masang. Tindakan Belanda  itu telah menimbulkan amarah kaum Padri Alahan Panjang dan menyatakan pembatalan kesepakatan dalam perjajian Masang.Dengan demikian perlawanan kaum Padri masih terus berlangsung di berbagai tempat.


  • Fase Kedua (1825-1830)

Perlawanan kaum Padri di Sumatra Barat bagi Belanda tahun ini sedikit mengendorkan ofensifnya dalam perang Padri. Oleh kerana itu, Kolonel De Stuersmerupakan penguasa sipil dan meliter di Sumatra Barat tokoh-tokoh kaum Padri untuk menghentikan perang dengan megadakan perjajin perdamaian. Pada tanggal 15 November 1825 ditandatangani Perjajian Padang. Isi perjajian padang antara lain yaitu:

  1. Belanda mengakui kekuasan pemimpin Padri di Batusangkar, Saruaso, Padang Guguk Sikadang, Agam , Bukittinggi dan menjamin pelaksanan system agama didaerahnya
  2. Kedua belah pihak tidak akan saling menyerang
  3. Kedua pihak akan melindungi para pedagang dan oaring-orang yang sedang melakukan perjalanan
  4. Secara bertahan Belanda akan melarang praktik adu ayam.

  • Fase Ketiga (1830-1837/1838)

Peristiwa tahun 1825-1830 di Jawa, peristiwa perang Diponogoro berakhir pada tahun 1830,semua kekuatan Belanda dikonsentarasikan ke Sumatra Barat untuk menghadapi perlawanan kaum Padri. Dimulailah Perang Padri fase ketiga.

 Pada pertemuan  fase ketiga kaum Padri, orang-orang Padri yang mendapatkan dukungan kaum adat itu bergerak ke pos-pos tentara Belanda.tindakan kaum Padri dijadikan Belanda di bawah Gillavry untuk menyerang Koto Tuo di Ampek Angkek.

Tahun 1831 Gillavry digantikan oleh Jacob Elout ini telah mendapatkan pesan dari Gubernur Jenderal Van den Bosch agar melaksanakan seranggan besar-besaran terhadap kaum Padri. Pada  Agustus1831 Belanda dapat menguasai Banteng Marapalam, dengan jatuhnya benteng ini maka beberapa nagari di sekitarnya ikut meyerah.

Pada tahun 1832 maka Belanda semakin meningkat kekuatan kaum Padri di berbagai daerah. Pasukan legium Sentot Ali Basah Prawirodirjo dengan 300 prajurit bersenjata. Tahun 1833 kekuatan Belanda sudah begitu besar dengan melakukan penyerangan terhadap pos-pos pertahanan kaum Padri.

Pada waktu penyerbuan Kamang, pasukan Belanda  termasuk perwirah terbunuh. Dan Belanda dapat menguasai Kamang, dalam serangkaian pertempuran itu banyak kaum Padri telah menjadi korban, termasuk tokoh Tuanku Nan Cerdik dapat di tangkap.

Disamping strategi militer, setelah Van den Bosch berkunjung ke Sumatra Barat,pajak pasar dan berbagai jenisa pajak dihapuskan. Penghulu yang kehilangan pengasilan di beri gaji 25-30 golden. Para kuli yang bekerja untuk pemerintahan Belanda juga di beri gaji 50 sen  sehari.

Elout digantikan oleh E.Francis yang tidak akan mencampuri urusan pemerintahan tradisional di Minangkabau. Plakat  panjan adalah pernyatan atau janji khidmat yang isinya tidak aka nada peperangan antara Belanda dan kaum Padri. Kemudian Belanda mulai menawarkan perdamaian kepada para pemimpin Padri.

Dengan kebijakan tokoh Padri dikontak oleh Belanda dalam rangka mencapai perdamaian. Kekuatan pasukan Tuanku Nan Cerdik dapat dihancurakan. Tahun 1834 Belanda dapat memusatkan kekuatanya untuk menyerang pasukan Iman Bonjol di Bonjol. Tanggal 16 Juni 1835 benteng Bonjol di hujani meriam oleh serdau Belanda. Agustus 1835 benteng di perbukitan dekat Bonjol jatuh ketangan Belanda. Belanda juga mencoba mengontak Tuanku Iman Bonjol untuk berdamai.

Iman Bonjol mau berdamai tapi dengan beberapa persyaratan antara lain Iman Bonjol mintak agar Bonjol dibebeskan dari bentuk kerja paksa dan negri itu tidak di duduki Belanda. Tetapi Belanda tidak memberi jawaban , justru Belanda semakin ketat mengepung pertahanan di Bonjol. Pada tanggal 25 Oktober 1837 Tuanku Iman Bonjol ditangkap.

Artikel Terkait:  Candi Peninggalan Kerajaan Kediri

Pasukan yang dapat meloloskan diri melanjutkan perang gerilnya di hutan-hutan Sumatera Barat. Iman Bonjol sendiri kemudian dibuang ke Cianjur, Jawa Barat. Tanggal 19 Januari 1839 ia dibuang ke Ambon dan tahun 1841 dipindahkan ke Manado sampai meninggalnya pada tanggal 6 November 1864.


  1. Perang Diponegoro

Perang Diponegoro

Memasuki abad ke-19, keadaan di jawa khususnya di Surakarta dan Yogyakarta semakim memprihatinkan. Dominasi pemrintahan colonial juga telah menempatkan raakyat sebagai objek pemerasan, sehingga makin menderita. Perubahan pada masa Van der Capellen juga menimbulkan kekecewaan.

Beban penderitaan rakyat itu semakin erat, karena diwajibkan membayar berbagai macam pajak, seperti:

  • welah-welit (pajak tanah)
  • pengawang-awang (pajak halaman kekurangan)
  • pecumpling (pajak jumlah pintu)
  • pajigar (pajak ternaak)
  • penyongket (pajak pindah nama)
  • bekti (pajak menyewa tanah atau menerima jabatan)

Dalam suasana penderitaan rakyat dan kekacauan itu tampil seorang bangsawan, putera Sultan Hamengkubuwana III yang bernama Raden Mas Ontowiryo atau lebih terkenal dengan nama pangeran Diponegoro. Oleh karena itu, pangeran Diponegoro berusaha menentang dominasi Belanda yang kejam dan tidak mengenal prikemanusiaan. Tanggal 20 Juli 1825 meletuslah Perang Diponegoro.

Bermula Dari Insiden Anjir Sejak tahun 1823, Semissaert di angkat sebagai residen di Yogyakarta. Oleh karena itu, Smissaert bekerja sama dengan Patih Denurejo berusaha menyingkirkan Pangeran Diponegoro dari istana Yogyakarta. Pada suatu hari di tahun 1825 Smissaert dan Patih Danurejo dalam rangka membuat jalan baru memerintahkan anak buahnya untuk memasang anjir (pancang/patok).

Pangeran Diponegoro memerintahkan rakyat untuk mencabuti anjir tersebut. Kemudian Patih Danurejo memerintahkan memasang kembali anjir-anjir itu dengan dijaga pasukan Macanan (Pasukan pengawal kepatihan).

Kala itu tanggal 20 Juli 1825 sore hari, rakyat Tegalreja berduyun-duyun berkumpul di dalem Tegalreja dengan membawa berbagai senjata seperti pedang,tombak,lembing dan lain-lain.

Pangeran Diponegoro adalah pemimpin yang tidak individualitas. Tercatat 15 dari 29 pangeran dan 41 dari 88 bupati bergabung dengan pangeran Diponegoro.


  • Mengatur srategi dari Selarong

Dari Selarong, Pangeran Diponegoro menyusun strategi perang. Kumudian Pangeran Diponegoro menyusun langkah-langkah. (1) Merencanakan serangan kekeraton Yogyakarta dengan mengisolasi pasukan Belanda dan mecegah masuknya bantuan dari luar. (2) Mengirim kurir kepada para bupati atau ulama agar mempersiapkan peperangan melawan Belanda.

(3) Menyusun daftar nama bangsawan, siapa yang sekiranya kawan dan siapa lawan. (4) Membagi kawasan Kesultanan Yogyakarta menjadi bebrapa mandala perang, dan mengangkat para pemimpinnya. Pangeran Diponegoro telah membagi menjadi 16 mandala perang, misallnya: Yogyakarta dan sekitarnya dibawah komando Pangeran Adinegoro (adik Diponegro) diangkat sebagai patih dengan gelar Suryenglogo.

Sebagai pucuk pimpinan Pangeran Diponegoro didampingi oleh pangeran Mangkubumi (paman Pangeran Diponegoro), Nyi Ageng Serang yng sudah berusia 73 tahun bersama cucunya R.M Papak bergabung bersama pasukan Pangeran Diponegoro. Nyi Ageng Serang (nama aslinya R.A Kustiah Retno Edi), sejak sejak remaja sudah anti terhadap Belanda dan pernah membantu ayahnya (Penembahan serang) untuk melawan Belanda.

Misalnya Letkol Clurens dikirim ke Tegal dan Pekalongan, kemudian Letkol Dielll ke Banyumas. Jenderal de Kock sebagai pemimpin perang Belanda berusaha meningkatkan kekuatanya.

Tanggal 4 Okober 1825 pasukan Belanda menyerang pos tersebut. Tetapi ternyata pos Gua Selarong sudah kosong . Ini memang bagian dari strategi Pangeran Diponegro. Pada tahun 1826 pasukan Ali Basyah Sentot Prawirodirjo ini berhasil mengalahkan tentara Belanda di daerah-daerah bagian barat. (Kulo Progo dan sekitarnya).


  • Benteng Stelsel pembawa petaka

Perlawanan pasukan Pangeran Diponegoro senantiasa bergerak dari pos pertahanan yang satu k epos yang lainnya. Untuk menghadapi pasukan Diponegoro yang bergerak dari pos satu k epos yang lainnya, Jenderal de kock kemudian menerapkan strategi dengan system “Benteng Stelsel”atau”Stelsel Benteng”. Dalam tahun 1827 perlawanan Diponegoro di beberapa tempat berhasil di pukul mundur oleh pasukan Belanda, misalnya di Tegal, Pekalongan, Semarang, dan Magelang.

Dengan system “Benteng Stelsel” ruang gerak pasukan Diponegoro dari waktu ke waktu semakin sempit. Namaun perlawanan di Rembang dapat dipatahkan oleh Belanda pada bulan Maret 1828.  Pertahanan hati Sentot Prawirodirjo pun luluh, dan menerima ajakan untuk berunding pada tanggal 17 Oktober 1829 ditandatangani perjanjian Imigiri antara Sentot Prawirodirjo dengan pihak Belanda. Isi pejanjian itu antara lain:

  1. Sentot Prawidirjo diizinkan untuk tetap memeluk agama Islam,
  2. Pasukan Sentot Prawiridirjo tidak di bubarkan dan tetap sebagai komandannya,
  3. Sentot Prawidirjo dengan pasukannya diizinkan untuk tetap memakai sorban,
  4. Sebagai kelanjutan perjanjian itu, maka pada tanggal 24 Oktober 1829 Sentot Prawidirjo dengan pasukannya memasuki ibu kota negeri Yogyakarta untuk secara resmi menyerahkan diri.

Belum ada tanda-tanda perlawanan Diponegoro mau berakhir. Belanda kemudian mengumumkan kepada khalayak pemberian hadiah sejumlah 20.000 ringgit bagi siapa saja yang dapat menyerahkan Pangeran Diponegoro baik dalam keadaan hiup maupun mati.


  1. Perlawanan Di Bali

Perlawanan Di Bali

Abad ke 19 Bali belum banyak menarik perhatian orang-orang Barat untuk menanamkan pengaruhnya. Baru sekitar tahun 1830-an Hindia Belanda aktif menanmkan pengaruhnya di Bali perkembangan dominasi Belanda inilah yang kemudian menyulut api perlawanan rakyat Bali kepada Belanda yang terkena dengan sebutan “Perang Puputan”.


  • Mengapa terjadi perang Puputan di Bali?

Pada abad ke-19 di Bali sudah berkembang kerajaan-kerajaan yang berdaulat. Misalnya kerajaan Buleleng, Krangasem, Klungkung, Gianyar, Badung, Jembrana, Tabanan, Menguri dan Bangli. Pada masa pemerintahan Gubernur Jendral  Daendels mulai terjadi kontak dengan kerajaan-kerajaan di Bali, tidak sekedar urusan dagang  tetapi menyangkut sewa menyewa orang-orang bali untuk dijadikan tentara pemerintah Hindia Belanda.

Tetapi dalam perkembangannya pemerintah Hindia Belanda ingin menanamkan pengaruh dan berkuasa di Bali. Akhirnya dicapai perjanjian atau kontrak politik antara raja-raja di Bali dengan Belanda. Karena kelihaian atau bujukan Belanda, raja-raja di Bali dapat menerima perjanjian untuk meratifikasi penghapusan hukum Tawan Karang. Tetapi sampai tahun 1844 Raja Buleleng dan Karangasem belum melaksanakan perjanjian tersebut.

Terbukti pada tahun 1844 itu penduduk melakukan perampasan atas isi dua kapal Belanda yang terdampar  di pantai Sangsit (Buleleng) dan Jembrana (waktu itu juga daerahnya Buleleng). Belanda memaksa Raja Buleleng, Gusti Ngurah Made Karangasaem agar melaksanakan isi perjanjian yang telah di sepakati. Raja Gusti Ngurah Made karangasem yang mendapat dukungan patihnya, I Gusti Ketut Jelantik, dengan tegas menolak tuntutan Belanda tersebut.

Bahkan I Gusti Ktut Jelantik sudah melakukan latihan dan menghimpun kekuatan untuk melawan kesewenang-wenangan Belanda. Patih Ketut Jelantik terus mempersiapkan prajurit Buleleng dan memperkuat pos-pos pertahanan. Sementara, pada tanggal 27 juni 1846 telah datang pasukan Belanda brkekuatan 1700 orang pasukan darat yang langsung menyerbu kampung-kampung di tepi pantai. Benteng pertahanan Buleleng jebol dan ibu kota singaraja di kuasai Belanda. Perjanjian di tandatangani pada tanggal 6 juli 1846 yang isinya antara lain :

  1. Dalam waktu tiga bulan, Raja Buleleng harus menghancurkan semua benteng Buleleng yang pernah di gunakan dan tidak boleh membangun benteng baru.
  2. Raja Buleleng harus membayar ganti rugi dari biaya perang yang telah di keluarkan Belanda.
  3. Belanda diizinkan menempatkan pasukannya di Buleleng.

Tekanan Belanda itu coba di tandingi dengan tipu daya. Raja dan para pejuang pun merimana isi perjanjian tersebut. Tetapi di balik itu Raja dan patih Ktut Jelantik memperkuat pasukannya dengan cara membangun benteng pertahanan yang kuat bagaikan gelar-supit urang di Jagaraga. Dan rakyat juga tetap mempertahankan Hukum Tawan Karang.

Tahun 1847 ada kapal asing yang terdampar di Pantai Kusamba, Klungkung dan dirampas oleh Kerajaan. Sudah tentu ini menjaikan Belanda marah, dan mengeluarkan ultimatum. Tetapi ultimatum itu tidak dihiraukan oleh Raja di Bali.belanda mengetahui bahwa Raja Buleleng membangkang dan Patih Ktut Jelantik mempertahankan pasukannya.

Menghadapi hal tersebut Belanda terus meningkatkan kekuatannya. Pada tanggal 7 dan 8 juni 1848, telah mendarat bala bantuan Belanda di pantai Sangsit. Tanggal 8 juni serangan Belanda terhadap benteng Jagaraga dimulai. Sebagai pemimpin tentara Belanda antara lain : J. Van sweeten,

Letkol Sutherland benteng Jagaraga terus di hujani meriam. Namun pasukan Buleleng di bawah pimpinan Ketut Jelantik yang di bantu isterinya, Jero Jempiring mampu mengembangkan pertahanan dengan gelar-supit urang sehingga dapat menjebak pasukan Belanda. Lima orang opsir dan 74 orang sedadu dapat di tewaskan di tambah lagi tujuh opsir 98 serdadu mundur.

Tanggal 16 april sore hari semua kekuatan di jagaraga dapat di lumpuhkan oleh Belanda. Dengan terbunuhnya Raja Buleleng dan Patih Ketut Jelantik maka jatuhlah kerajaan Buleleng ke tangan Belanda. Pertempuran demi pertempuran masih terus terjadi. Tahun 1906 terjadi perang puputan di Badung, pada tahun 1908 terjadi perang puputan di klungkung.


  1. Perang Banjar

Perang Banjar

Di Kalimantan selatan pernah berkembang kerajaan Banjar wilayah kesultanan Banjarmasin ini pada abad ke-19 meliputi Kalimantan selatan dan Kalimantan tengah sekarang. Adanya hasil-hasil seperti  emas dan intan, lada, rotan dan damar.hasil-hasil ini termasuk produk yang di minati oleh orang-orang Barat, sehingga orang-orang Barat berminat untuk menguasai kesultanan Banjarmasin.

Setelah melalui bujuk rayu di sertai tekanan-tekanan, maka pada tahun 1817 terjadi perjanjian antara Sultan Banjar (Sultan Sulaiman) dengan pemerintah Hindia Belanda. Bahkan menurut perjanjian yang diadakan tanggal 4 Mei 1826 antara Sultan Adam Alwasikh dengan Belanda, menetapkan bahwa daerah ke Sultanan Banjar tinggal daerah Hulu sungai, Martapura, dan Banjarmasin. Wilayah yang semakin sempit itu telah membawa problem dalam kehidupan sosial ekonomi.

Demikian rakyat menjadi sasaran eksploitasi baik dari pemerintah kolonial maupun para pejabat kerajaan. Dalam suasana social ekonomi yang memperhantinkan itu, di dalam kerajaan sendiri terjadi konflik intern. Hal ini juga karena ulah intervensi Belanda. Hal ini bermula saat putera mahkota Abdul Rakhman meninggal secara mendadak pada tahun 1852. Sementara Sultan Adam memiliki tiga putera sebagai kandidat pengganti Sultan, yakni : Pangeran Hidayatullah, pangeran Tamjidillah, dan Perabu Anom. Tahun 1857 Sultan Adam meninggal.

Dengan sigap Residen E.F.Graaf Von Bentheim Teklenburg mewakili Belanda mengangkat Tamjidillah sebagai Sultan dan Pangeran Hidayatullah di angkat sebagai mangkubumi. Oleh karena itu,wajar kalau pengangkatan Tamjidillah sebagai Sultan Banjarmasin menimbulkan protes dan rasa kecewa dari berbagai pihak. Tamjidillah juga menghapus hak-hak istimewa pada saudara-saudaranya termasuk menganggap tidak ada surat wasiat dari Sultan Adam kepada pangeran Hidayatullah.

Kemudian, setelah hak-haknya di rampas, Pangeran Anom dibuang ke Bandung. Dalam suasana yang penuh ketegangan itu ditambah terjadi gerakan di pedalaman yang dipelopori oleh Aling. Aling yang juga di kenal sebagai Panembahan.

Muning mengatakan dalam semedinya ia mendapatkan firasat agar ke Sultanan Banjarmasin di kembalikan ke pada Pangeran Antasari, sepupu Pangeran Hidayatullah. Pusat gerakan Aling dinamakan Tambai Mekah (Serambi Mekah)yang terletak di tepian sungai Muning. Aling juga memanggil Antasari agar datang di Tambai Mekah. Di samping kekuatan penuh dari pengikut Aling, pangeran Antasari juga mendapat dukungan dari berbagai pihak seperti Sultan Pasir dan Tumenggung Surapati pimpinan orang-orang dayak.

Pada tanggal 28 April 1859 orang-orang Muning di bawah komando Penembahan Aling dan puteranya Sultan Kuning menyerbu kawasan tanmbang batu bara di Pengaron. Dengan peristiwa tersebut, keadaan pemerintahan Kesutanan Banjarmasin semakin kacau. Sultan Tamjidillah yang memang tidak di senangi oleh rakyat itu juga tidak banyak berbuat. Mulai saat itu Kesultanan Banjar berada di Bawah dominasi Belanda. Sementara itu pasukan Antasari sudah bergerak menyerbu pos-pos Belanda di Martapura.

Artikel Terkait:  Latar Belakang Konferensi Asia-Afrika

Bulan Agustus 1859, Antasari bersama pasukan haji Buyasin, kiai Langlang, kiai Demang Lehman berhasil menyerang benteng Belanda di Tabanio. Pada waktu itu memasuki bulan Agustus/September tahun 1859 pertempuran rakyat Banjar terjadi di tiga lokasi, yakni di sekitar Banua Lima, sekitar Martapura dan Tanah laut, serta sepanjang sungai Barito.

Benteng Tabinio bberhasil di kepung oleh Belanda. Demang Lehman dan pasukannya dapat meloloskan diri. Dalam pertemuan di Kandangan itu menghasilkan kesepakatan yang intinya para pemimpin pejuang perang Banjar menolak tawaran berunding dengan Belanda,dengan merumuskan  beberapa siasat perlawanan sebagai berikut :

  1. Pemusatan kekuatan perlawanan di daerah Amuntai.
  2. Membuat dan pemperkuat pertahanan di Tanah Laut, Martapura, Rantau dan Kandangan.
  3. Pangeran Antasari memperkuat pertahanan di Dusun Atas.
  4. Mengusahakan tambahan senjata.

Dalam pertemuan itu semua yang hadir mengatakan sumpah untuk berjuang mengusir penjajah Belanda dari bumi Banjar tanpa kompromi : “Haram Manyarah Wajah sampai Kaputing”. Perlu di ketahui bahwa pangeran Hidayatullah setelah meninggalkan Martapura dan berkumpul dengan seluruh anggota keluarga, kemudian diikuti pasukannya ia berangkat ke Amuntai. Meskipun tidak dengan perangkat kebesaran, oleh para ulama dan semua pengikutnya, Hidayatullah diangkat sebagai Sultan.

Gerakan perlawanan Pangeran Hidayatullah kemudian dipusatkan di Barabai. Datanglah kemudian pasukan Demang Lehman untuk memperkuat pasukan Hidayatullah. Pasukan infanterni dari Batalion VII, IX, XIII semua dikerahkan, ditambah 100 orang petugas pembawa perlengkapan perang dan makanan. Juga mengerahkan kapal-kapal perang dari Suriname, Bone dan kapal-kapal kecil. Terjadilah pertempuran sengit. Kemudian membangun pertahanan di Gunung Madang.

Pertahanan di Gunung Madang  pun jebol. Pangeran Hidayatullah dengan sisa pasukannya  kemudian  berjuang berpindah-pindah, bergerilya dari tempat yang satu ke tempa yang lainnya, dari hutan yang satu ke hutan yang lainnya. Akhirnya pada tanggal 28 Februari 1862 Hidayatullah berhasil di tangkap bersama anggota keluarga yang ikut bergerilya.

Hidayatullah bersama anggota keluarganya kemudian di asingkan ke Cianjur, Jawa Barat. Sementara itu Pangeran Antasari terus melanjutkan perlawanan. Oleh para pengikutnya Antasari kemudian diangkat sebagai pejuang dan pemimpin tertinggi agama Islam dengan gelar : penembahan Amiruddin Kalifatullah Mukminin.


  1. Aceh Berjihad

Aceh Berjihad

Pada 26 desember 2004 terjadi tsunami di aceh  terjadi karena adanya gempa bumi yang begitu dahsyat dengan kekuatan 9,3 skala Richter terletak di samudra Indonesia, kurang lebih 160 km sebelah barat aceh pada kedalaman 10 km . tsunami itu telah meluluhlantakkan aceh.

Aceh juga di kenal sebagai serambi mekah. Aceh merupakan daerah pertama masuknya islam di Nusantara. Di samping itu aceh juga pernah menjadi pangkalan atau pelabuhan haji untuk seluruh Indonesia.

Sungguh Aceh ibarat Serambi Mekah merupakan daerah dan kerajaan yang berdaulat. Tetapi kedaulatan mulai terganggu karena keserakahan dan dominasi belanda. Penjajahan belanda ini telah berimbas ke aceh sehingga melahirkan “perang aceh”, perangnya para pejuang untuk berjihad melawan kezaliman kaum penjajah pada tahun 1873-1912.


  • Terjadinya Perang Di Aceh

Aceh memiliki kedudukan yang strategis daerahnya luas dan memiliki hasil penting. Karena itu dalam  rangka mewujudkan pax neerlandica, belanda sangat berambisi untuk menguasai aceh. Begitu juga zaman pemerintahan Hindia Belanda. Pada tanggal 17 maret 1824 muncul traktat London. traktat London itu adalah hasil kesepakatan antara inggris dan Belanda yang isinya bahwa belanda telah mendapatkan kembali tanah jajahannya di kepulauan nusantara, tidak diberikan menganggu kedaulatan aceh.

Pada tahun 1825  inggris sudah menyerahkan sibolga dan natal kepada belanda. Belanda tinggal menunggu momen yang tepat untuk dapat melakukan intervensi di aceh. Belanda juga bergerak di wilayah perairan aceh dan selat malaka. Dengan alasan menjaga keamanan kapal-kapal yang sering diganggu  oleh para pembajak maka belanda menduduki beberapa daerah seperti Baros dan singkel.

Pada tanggal 1 februari 1858, Belanda menyodorkan perjanjian dengan sultan siak, sultan ismail. Perjanjian inilah yang di kenal dengan Traktat Siak. Ini artinya daerah- daerah yang berada di bawah pengaruh siak dan Indragiri berada di bawah dominasi Hindia belanda. Padahal daerah-daerah itu sebenarnya berada di bawah lindungan kesultanan aceh.

Pada tanggal 2 november 1871. Isi trektat Sumatra itu antara lain inggris memberi kebebasab kepada belanda untuk memperluas daerah kekuasaannya di seluruh Sumatra. Dalam posisi yang terus terancam ini aceh berusha mencari sekutu dengan Negara-negara lain. Pada tahun 1873 aceh kemudian mengirim utusan yakni Habib Abdurrahman pergi ke turki untuk meminta bantuan senjata.

Langkah-langkah itu di ketahui oleh belanda. Oleh karena itu, Belanda mengancam mengancam dan mengultimatum agar kesultanan aceh tunduk di bawah pemerintahan Hindia Belanda. Pada tanggal 26 maret 1873 belanda melalui komisaris Niuwenhuijzen mengumumkan perang terhadap aceh. Para pejuang aceh di bawah pemerintahan sultan Mahmud syah II mengobarkan semangat jihad angkat senjata untuk melawan kezaliman Belanda.


  • Syahid atau Menang

Agresi tentara Belanda terjadi pada tanggal 5 April 1873. Tentara Belanda di bawah pimpinan Jenderal Mayor J.H.R. Kohler terus melakukan serangan terhadap pasukan Aceh. Pasukan Aceh yang terdiri atas para ulebalang, ulama, dan rakyat terus mendapat gempuran dari pasukan Belanda. Dengan memperhatian hasil laporan spionase Belanda yang mengatakan bahwa Aceh dalam keadaan lemah secara politik dan ekonomi, membuat para pemimpin Belanda termasuk Kohler optimis bahwa Aceh segera dapat ditundukkan.

Oleh karena itu, serangan-serangan tentara Belanda terus diintensifkan. Tetapi kenyataannya tidak mudah menundukkan para pejuang Aceh. Dengan kekuatan yang ada para pejuang Aceh mampu memberikan perlawanan sengit. Pertempuran terjadi kawasan pantai, kemudian juga di kota, bahkan pada tanggal 14 April 1873 terjadi pertempuran sengit antara pasukan Aceh dibawah pimpinan Teuku Imeum Lueng Bata melawan tentara Belanda di bawah pimpinan Kohler untuk memperebutkan Masjid Raya Baiturrahman.

Dalam pertempuran memperebutkan Masjid Raya Baiturrahman ini pasukan Aceh berhasil membunuh Kohler di bawah pohon dekat masjid tersebut. Pohon ini kemudian dinamakan Kohler Boom. Banyak jatuh korban dari pihak Belanda. Begitu juga tidak sedikit korban dari pihak pejuang Aceh yang mati syahid.

Terbunuhnya Kohler ini maka pasukan Belanda ditarik mundur ke pantai.Dengan demikian gagallah serangan tentara Belanda yang pertama.Ini membuktikan bahwa tidak mudah untuk segera menundukkan Aceh.Karena kekuatan para pejuang Aceh tidak semata-mata terletak pada kekuatan pasukannya, tetapi juga terkait hakikat kehidupan yang didasarkan pada nilai-nilai agama dan sosial budaya yang sesuai dengan ajaran Al-Qur’an.

Doktrin para pejuang Aceh dalam melawan Belanda hanya ada dua pilihan “syahid atau menang”.Dalam hal ini nilai-nilai agama senantiasa menjadi potensi yang sangat menentukan dalam menggerakkan perlawanan terhadap penjajahan asing. Oleh karena itu, Perang Aceh berlangsung begitu lama

Setelah melipatgandakan kekuatannya, pada tanggal 9 Desember 1873 Belanda melakukan agresi atau serangan yang kedua.Serangan ini dipimpin oleh J. van Swieten. Pertempuran sengit terjadi istana dan juga terjadi di Masjid Raya Baiturrahman. Para pejuang Aceh harus mempertahankan masjid dari serangan Belanda yang bertubi-tubi.

Masjid terus dihujani peluru dan kemudian pada tanggal 6 Januari 1874 masjid itu dibakar.Para pejuang dan ulama kemudian meninggalkan masjid.Tentara Belanda kemudian menuju istana. Pada tanggal 15 Januari 1874 Belanda dapat menduduki

istana setelah istana dikosongkan, karena Sultan Mahmud Syah II bersama para pejuang yang lain meninggalkan istana menuju ke Leueung Bata dan diteruskan ke Pagar Aye (sekitar 7 km dari pusat kota Banda Aceh). Tetapi pada tanggal 28 Januari 1874 sultan meninggal karena wabah kolera.

Jatuhnya Masjid Raya Baiturrahman dan istana sultan, Belanda menyatakan bahwa Aceh Besar telah menjadi daerah kekuasaan Belanda.Para ulebalang, ulama dan rakyat tidak ambil pusing dengan pernyataan Belanda.Mereka kemudian mengangkat putra mahkota Muhammad Daud Syah sebagai sultan Aceh.

Tetapi karena masih di bawah umur maka diangkatlah Tuanku Hasyim Banta Muda sebagai wali atau pemangku sultan sampai tahun 1884. Pusat pemerintahan di Indrapuri (sekitar 25 km arah tenggara dari pusat kota). Semangat untuk melanjutkan perang terus menggelora di berbagai tempat. Pertempuran dengan Belanda semakin meluas ke daerah hulu.

Sementara itu tugas van Swieten di Aceh dipandang cukup. Ia digantikan oleh Jenderal Pel. Sebelum Swieten meninggalkan Aceh, ia mengatakan bahwa pemerintah Hindia Belanda akan segera membangun kembali masjid raya yang telah dibakarnya. Tentu hal ini dalam rangka menarik simpati rakyat Aceh.

Para pejuang Aceh tidak mengendorkan semangatnya.Di bawah pimpinan ulebalang, ulama dan ketua adat, rakyat Aceh terus mengobarkan perang melawan Belanda. Semangat juang semakin meningkat seiring pulangnya Habib Abdurrahman dari Turki pada tahun 1877. Tokoh ini kemudian menggalang kekuatan bersama Tengku Cik Di Tiro.Pasukannya terus melakukan serangan-serangan ke pos-pos Belanda.


Kemudian Belanda menambah kekuatannya sehingga dapat mengalahkan serangan-serangan yang dilakukan pasukan Habib Abdurrahman dan Cik Di Tiro.Di bawah pimpinan Van der Heijden, Belanda berhasil mendesak pasukan Habib Abdurrahman, bahkan Habib Abdurrahman akhirnya menyerah kepada Belanda. Sementara Cik Di Tiro mendur ke arah Sigli untuk melanjutkan perlawanan. Belanda berhasil menguasai beberapa daerah seperti Seunaloh, Ansen Batee.


  1. Perang Sabil

Perang Sabil

Tahun 1884 merupakan tahun yang sangat penting, karena Muhammad Daud Syah telah dewasa maka secara resmi dinobatkan sebagai sultan dengan gelar Sultan Ala’uddin Muhammad Daud Syah bertempat di Masjid Indrapuri. Pada waktu upacara penobatan ini para pemimpin Perang Aceh seperti Tuanku Hasyim, Panglima Polim, Tengku Cik Di Tiro memproklamirkan “Ikrar Prang Sabi” (Perang Sabil).

Perang Sabil merupakan perang melawan kaphee Beulanda (kafir Belanda), perang suci untuk membela agama, perang untuk mempertahankan tanah air, perang jihad untuk melawan kezaliman di muka bumi. Setelah penobatan itu, mengingat keamanan istana di Indrapuri dipindahkan ke Keumala di daerah Pidie (sekitar 25 km sebelah selatan kota Pidie). Dari Istana Keumala inilah semangat Perang Sabil digelorakan.

Dengan digelorakan Perang Sabil, perlawanan rakyat Aceh semakin meluas.Apalagi dengan seruan Sultan Muhammad Daud Syah yang menyerukan gerakan amal untuk membiayai perang, telah menambah semangat para pejuang Aceh.Cik Di Tiro mengobarkan perlawanan di Sigli dan Pidie. Di Aceh bagian barat tampil Teuku Umar beserta isterinya Cut Nyak Dien.

Pertempuran sengit terjadi di Meulaboh.Beberapa pos pertahanan Belanda berhasil direbut oleh pasukan Teuku Umar.Pasukan Aceh dengan semangat jihadnya telah menambah kekuatan untuk melawan Belanda. Belanda mulai kewalahan di berbagai medan pertempuran. Belanda mulai menerapkan strategi baru yang dikenal dengan “Konsentrasi Stelsel atau Stelsel Konsentrasi”.

Strategi Konsentrasi Stelsel itu ternyata juga belum efektif untuk dapat segera menghentikan perang di Aceh. Bahkan dengan strategi itu telah menyebarkan perlawanan rakyat Aceh dari tempat yang satu ke tempat yang lain. Perang gerilya juga mulai dilancarkan oleh para pejuang Aceh.Gerakan pasukan Teuku Umar juga terus mengalami kemajuan. Pertengahan tahun 1886 Teuku Umar berhasil menyerang dan menyita kapal Belanda Hok Canton yang sedang berlabuh di Pantai Rigaih.

Kapten Hansen (seorang berkebangsaan Denmark) nakhoda kapal yang diberi tugas Belanda untuk menangkap Teuku Umar justru tewas dibunuh oleh Teuku Umar. Ditengah-tengah perjuangan itu pada tahun 1891 Tengku Cik Di Tiro meninggal. Perjuangannya melawan Belanda dilanjutkan oleh puteranya yang bernama Tengku Ma Amin Di Tiro. Kemudian terpetik berita bahwa pada tahun 1893 Teuku Umar menyerah kepada Belanda.

Teuku Umar kemudian dijadikan panglima tentara Belanda dan diberi gelar Teuku Johan Pahlawan.Ia diizinkan untuk membentuk kesatuan tentara beranggotakan 250 orang. Peristiwa ini tentu sangat berpengaruh pada semangat juang rakyat Aceh. Nampaknya Teuku Umar juga tidak serius untuk melawan bangsanya sendiri.

Artikel Terkait:  Kehidupan Masyarakat Pada Masa Islam

Setelah pasukannya sudah mendapatkan banyak senjata dan dipercaya membawa dana 800.000 gulden, pada 29 Maret 1896 Teuku Umar dengan pasukannya berbalik dan kembali melawan Belanda. Peristiwa inilah yang dikenal dengan Het verraad van Teukoe Oemar (Pengkhianatan Teuku Umar). Teuku Umar berhasil menyerang pos-pos Belanda yang ditemui.

Peristiwa itu membuat Belanda semakin marah dan geram.Sementara untuk menghadapi semangat Perang Sabil Belanda juga semakin kesulitan. Oleh karena itu tidak ada pilihan lain untuk melaksanakan usulan Snouck Horgronye untuk melawan Aceh dengan kekerasan. Perlu diketahui bahwa sebelum itu Belanda telah meminta Snouck Horgronye agar melakukan kajian tentang seluk beluk kehidupan dan semangat juang orang-orang Aceh, sehingga dapat ditemukan strategi untuk segera mengalahkan para pejuang Aceh.

Snouck Horgronye mulai menyamar memasuki kehidupan di tengah-tengah kehidupan masyarakat Aceh. Ia memakai nama samaran Abdul Gafar. Ia telah mempelajari agama Islam dan adat budaya Aceh. Snouck Horgronye menyimpulkan bahwa para pejuang Aceh itu sulit dikalahkan karena disemangati oleh semangat jihad dengan tali ukhuwah Islamiyahnya. Oleh karena itu Snoukck Horgronye mengusulkan beberapa cara untuk melawan perjuangan rakyat Aceh. Beberapa usulan itu adalah sebagai berikut.

  • Perlu memecah belah persatuan dan kekuatan masyarakat Aceh, sebab di lingkungan masyarakat Aceh terdapat rasa persatuan antara kaum bangsawan, ulama, dan rakyat.
  • Menghadapi kaum ulama yang fanatik dalam memimpin perlawanan harus dengan kekerasan, yaitu dengan kekuatan senjata.
  • Bersikap lunak terhadap kaum bangsawan dan keluarganya dan diberi kesempatan untuk masuk ke dalam korps pamong praja dalam pemerintahan kolonial Belanda.

Belanda segera melaksanakan usulan-usulan Snouck Horgronye tersebut.Belanda harus menggempur Aceh dengan kekerasan dan senjata. Untuk memasuki fase ini dan memimpin perang melawan rakyat Aceh, diangkatlah gubernur militer yang baru yakni van Heutsz (1898-1904) menggantikan van Vliet. Genderang perang dengan kekerasan di mulai tahun 1899.Perang ini berlangsung 10 tahun. Oleh karena itu, pada periode tahun 1899-1909 di Aceh disebut dengan masa sepuluh tahun berdarah (tien bloedige jaren) .

Semua pasukan disiagakan dengan dibekali seluruh persenjataan.Van Heutsz segera melakukan serangan terhadap pos pertahanan para pemimpin perlawanan di berbagai daerah. Dalam hal ini Belanda juga mengerahkan pasukan anti gerilya yang disebut Korps Marchausse (Marsose) yakni pasukan yang terdiri dari orang-orang Indonesia yang berada di bawah pimpinan opsir-opsir Belanda.

Mereka pandai berbahasa Aceh.Dengan demikian mereka dapat bergerak sebagai informan. Dengan kekuatan penuh dan sasaran yang tepat karena adanya informan-informan bayaran, serangan Belanda berhasil mencerai-beraikan para pemimpin perlawanan. Teuku Umar bergerak menyingkir ke Aceh bagian barat dan Panglima Polem dapat digiring dan bergerak di Aceh bagian timur.

Di Aceh bagian barat Teuku Umar mempersiapkan pasukannya untuk melakukan penyerangan secara besar-besaran ke arah Meulaboh. Tetap tampaknya persiapan Teuku Umar ini tercium oleh Belanda. Maka Belanda segera menyerang benteng pertahanan Teuku Umar. Terjadilah pertempuran sengit pada Februari 1899. Dalam pertempuran ini Teuku Umar gugur sebagai suhada.Perlawanan dilanjutkan oleh Cut Nyak Dien. Cut Nyak Dien dengan pasukannya memasuki hutan dan mengembangkan perang gerilya.

Perlawanan rakyat Aceh belum berakhir. Para pejuang Aceh di bawah komando sultan dan Panglima Polem terus berkobar. Setelah istana kerajaan di Keumala diduduki Belanda, sultan melakukan perlawanan dengan berpindah-pindah bahkan juga melakukan perang gerilya.Sultan menuju Kuta Sawang kemudian pindah ke Kuta Batee Iliek.

Tetapi kuta-kuta ini berhasil diserbu Belanda. Sultan kemudian menyingkir ke Tanah Gayo. Pada tahun berikutnya Belanda menangkap istri sultan, Pocut Murong.Karena tekanan Belanda yang terus menerus, pada Januari 1903 Sultan Muhammad Daud Syah terpaksa menyerah.Demikian siasat licik dari Belanda.Cara licik ini.

Kemudian juga digunakan untuk mematahkan perlawanan Panglima Polem dan Tuanku Raha Keumala. Istri, ibu dan anak-anak Panglima Polem ditangkap oleh Belanda.Dengan tekanan yang bertubi-tubi akhirnya Panglima Polem juga menyerah pada 6 Serptember 1903.Dengan demikian dapat dikatakan bahwa Kerajaan Aceh yang sudah berdiri sejak 1514 harus berakhir.

Kerajaan boleh berakhir, tetapi semangat juang rakyat Aceh untuk melawan dominasi asing sulit untuk dipadamkan.Sementara Cut Nyak Dien terus mengobarkan perang jihad dengan bergerilya. Tetapi setelah pos pertahan pasukannya dikepung tentara Belanda pada tahun 1906 Cut Nyak Dien berhasil ditangkap.Ia dibuang ke Sumedang, Jawa Barat sampai meninggal pada tanggal 8 November 1908.

Namun perjuangan rakyat Aceh juga belum berakhir. Di daerah Pidie sejumlah ulama masih terus melancarkan serangan ke pos-pos Belanda.Tokoh-tokoh ulama itu misalnya Teungku Mahyidin Tiro bersama istrinya Teungku Di Bukiet Tiro, Teungku Ma’at Tiro, Teungku Cot Plieng. Semua ulama ini gugur dalam Perang Sabil melawan kezaliman Belanda.

Ulama yang terakhir mengadakan perlawaan di Pidie ini adalah Teungku Ma’at Tiro yang waktu itu baru berusia 16 tahun. Tetapi setelah dikepung di Pegunungan Tangse Teungku Ma’at Tiro berhasil ditembak mati oleh Belanda pada tahun 1911.Ia mati syahid gugur sebagai kusuma bangsa.

Sementara itu di pesisir utara dan timur Aceh juga masih banyak para ulama dan pemimpin adat yang terus melakukan perlawanan. Misalnya Teuku Ben Pirak (ayah Cut Nyak Mutia), Teuku Cik Tinong (suami Cut Nyak Mutia). Setelah ayah dan suaminya gugur, Cut Nyak Mutia melanjutkan perang melawan kekejaman Belanda.

Cut Nyak Mutia sesuai dengan pesan suaminya Teuku Cik Tunong sebelum ditembak mati oleh Belanda disarankan untuk menikah dengan Pang Nanggru. Oleh karena itu, Cut Nyak Mutia dapat bersama-sama melawan Belanda dengan Pang Nanggru.Pada tanggal 26 September 1910 terjadi pertempuran sengit di Paya Cicem.

Pang Nanggru tewas dan Cut Nyak Mutia berhasil meloloskan diri. Bersama puteranya Raja Sabil (baru usia 11 tahun), Cut Nyak Mutia terus memimpin perlawanan. Tetapi Cut Nyak Mutia akhirnya dapat didesak dan gugur setelah beberapa peluru menembus kaki dan tubuhnya.

Ulama yang lain seperti Teungku Di Barat bersama istrinya Cut Po Fatimah masih melanjutkan perlawanan, tetapi suami-istri itu akhirnya juga gugur tertembak oleh keganasan peluru Belanda pada tahun 1912. Demikian Perang Sabil yang digelorakan rakyat Aceh secara massal baru berakhir pada tahun 1912.Tetapi sebenarnya masih ada gerakan-gerakan perlawanan lokal yang berskala kecil yang sering terjadi.Bahkan dikatakan perang-perang kecil itu berlangsung sampai tahun 1942.


  1. Perang Batak

Perang Batak

Setelah Perang Padri berakhir, Belanda terus meluaskan daerah pengaruhnya. Belanda mulai memasuki tanah Batak. Hal ini merupakan ancaman serius bagi kekuasaan Raja Batak, Si Singamangaraja XII. Masuknya dominasi Belanda ke tanah Batak ini juga disertai dengan penyebaran agama Kristen. Penybaran agama Kristen sangat ditentang oleh Si Singamangaraja XII, karena dikhawatirkan  agama Kristen akan menghilangkan tatanan tradisional dan bentuk kesatuan negeri yang ada secara turun-temurun.

Pada tahun 1877 raja Si Singamangaraja XII berkampanye keliling ke daerah-daerah untuk menghimbau agar masyarakat mengusir para zending yang memaksakan agama Kristen kepada penduduk. Akibat kampanye Raja Singamangaraja XII telah menimbulkan ekses pengusiran para zending bahkan ada penyerbuan dan pembakaran terhadap pos-pos zending di Silindung.

Kejadian ini telah memicu kemarahan Belanda dengan alasan melindungi para zending, tanggal 8 Januari 1878 Belanda mengirim pasukan untuk menduduki Silindung. Pecahlah Perang Batak.

Penyebab Perang Batak yaitu Belanda membuat alasan bahwa mereka melawan Silindung karena melindungi para zending. Karena yang jelas Belanda menduduki Silindung sebagai langkaah awal untuk memasuki tanah Batak.mula ertama pasukan Belanda yang dipimpin oleh Kapten Schelten menuju bahal batu. Rakyat batak yang dipimpin langsung oleh Si Singamangaraja XII melakukan erlawanan terhadap gerakan pasukan Belanda di Bahal Batu.

Dalam perang ini rakyat Batak sudah mnenyiapkan benteng pertahanan. Seperti benteng alam yang terletak di dataran tinggi Danau Toba dan Silindung. Di samping itu juga dikembangkan benteng buatan yang adaa di perkampungan. Pertempuran pertama terjadi di Bahal Batu, Si Singamangaraja XII dengan pasukannya berusaha melakukan perlawanan sekuat tenaga.

Tetapi kekuatan pasukan batak tidk sesuai dengan kekuatan asukan Belanda. Sehinnga pasukan si Singamangaraja ditaarik mundur. Karena ada gerakan mundur tadi, pasukan Si Singamangaraja XII juga melakukan penyerangan pada ps-pos Belanda yang lain.

Perang batak ini semakin meluas, setelah berhasil menggagalkan berbagai serangan pasukan Si Singamangaraja XII, Belanda bergerak menuju ke Bakkara. Bakkara merupakan benteng dan istana Kerajaan Si simgamangaraja. Denag jumlah pasukan yang besar, Belanda mengepung bakkara.

Beberapa komandan tempur ingin memasuki benteng Bakkara, tetapi selalu dapat dihalau dengan lemparan batu oleh pejuang batak. Akhirnya benteng dan Istana bakkara dihujani tembakan-tembakan, sehingga bakkara dapat diduduki balanda. Si Singamangarajaa XII bersama pasukannya berhasil meloloskan diri dan menyingkir ke daerah Paranginan.

Belanda terus memburu, Si Singamangaraja menyingkir ke Lintung. Belanda terus mengejar, dan Singamangaraja XII terus bergerak ke tambunan., lagu, Boti, terus ke Baligie. Belanda dapat menguasai daerah itu semua, sehingga semua daerah i sekitar Danau Toba sudah dikuasai Belanda.

Si Singamangaraja XIIdengan sisa pasukannya bergerak menuju Huta Puong. Pada Julitahun 1889 Si Singamangaraja XII kembali angkat senjata melawan ekspedisi Belanda. Pada tanggal 4 september 1899 Huta Puong juga jatuh e tangan Belanda.Si Singamangaraja XII membuat pertahanan di Pakpak dan dairi, dan pasukan belanda melakukan sapu bersih dari Aceh sampai tanah Gayo, termasuk yang ada di Batak.

Tahun 1907 pasukan Belanda di bawah komando Hans Christoffel memfokuskan untuk mengangkap Si Singamangaraja XII. Ia berhasil dikepung rapat didaerah segitiga Barus sidiklang dan Singkel. Dalam pengepungan ini Belanda melakukan cara licik yakini dengan menangkap istrinya yang bernama Boru Sagala dan dua orang putranya. Tetapi dengan beban psikologis yang berat Si Singamangaraja Xii tetap bertahan.

Tanggal 7 juni 1907 siang pasukan belanda dikerahkan untu menangkap Si Singamangaraja XII di pos pertahanannya di Aik Sibulbulon. Dalam keadaan terdesak Si Singamangaraja XII dengan putranya melakukan perlawanan sekuat tenaga. Tetapi dalam pertempuran Si Singamangaraja XII tertembak mati, begitu juga putrinya Lopian dan dua orang putranya Sultan nagari dan Patuan. Dengan demikian berakhirlah perang Batak.


Daftar Pustaka:

  1. Kartodirdjo, Sartono 1987 Pengantar Sejarah Indonesia Baru: Dari Emporium sampai Imperium, Gramedia, Jakarta.
  2. Tjandrasasmita, Uka (ed.) 1977 Sejarah Nasional Indonesia II, Balai Pustaka, Jakarta
  3. Ricklefs, M.C 2005 Sejarah Indonesia Modern, Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.
  4. Nugroho, Notosusanto.dkk.1993.Sejarah Nasional Indonesia IV. Jakarta; Balai Pustaka.
  5. Sartono, Kartodirjo. 1998. Dari Imperium sampai Emporium Jilid II. Jakarta: Gramedia.
  6. Wayan, Badrika. 1999. Sejarah Nasional dan Umum Jilid 2. Jakarta; Erlangga.

Demikian Penjelasan Pelajaran IPS-Sejarah Tentang 9 Mengevaluasi Perang Melawan Penjajahan Kolonial Hindia Belanda

Semoga Materi Pada Hari ini Bermanfaat Bagi Siswa-Siswi, Terima Kasih !!!


Baca Artikel Lainnya: