Perang Mataram Melawan VOC

Assalammualaikum, Selamat datang di Kelas IPS. Disini Ibu Guru akan membahas tentang pelajaran Sejarah yaitu Tentang “Perang Mataram Melawan VOC“. Berikut dibawah ini penjelasannya:

Perang-Mataram-Melawan-VOC

Latar Belakang Perlawanan Rakyat Mataram Terhadap VOC

Latar Belakang Perlawanan Rakyat Mataram Terhadap VOC

Sultan Agung adalah raja yang paling terkenal dari Kerajaan Mataram. Pada masa pemerintahan Sultan Agung, Mataram mencapai zaman keemasan. Cita-cita Sultan Agung antara lain:

  • Mempersatukan seluruh tanah Jawa.
  • Mengusir kekuasaan asing dari bumi Nusantara.

Terkait dengan cita-citanya ini maka Sultan Agung sangat menentang keberadaan kekuatan VOC di Jawa. Apalagi tindakan VOC yang terus memaksakan kehendak untuk melakukan monopoli perdagangan membuat para pedagang Pribumi mengalami kemunduran. Kebijakan monopoli itu juga dapat membawa penderitaan rakyat. Oleh karena itu, Sultan Agung merencanakan serangan ke Batavia.

Ada beberapa alasan mengapa Sultan Agung merencanakan serangan ke Batavia, yakni:

  1. Tindakan monopoli yang dilakukan VOC,
  2. VOC sering menghalang-halangi kapal-kapal dagang Mataram yang akan berdagang ke Malaka,
  3. VOC menolak untuk mengakui kedaulatan Mataram, dan
  4. keberadaan VOC di Batavia telah memberikan ancaman serius bagi masa depan Pulau Jawa.

Pada tahun 1628 telah dipersiapkan pasukan dengan segenap persenjataan dan perbekalan. Pada waktu itu yang menjadi gubernur jenderal VOC adalah J.P. Coen. Sebagai pimpinan pasukan Mataram adalah Tumenggung Baureksa. Tepat pada tanggal 22 Agustus 1628, pasukan Mataram di bawah pimpinan Tumenggung Baureksa menyerang Batavia. Pasukan Mataram berusaha membangun pos pertahanan, tetapi kompeni VOC berusaha menghalang-halangi, sehingga pertempuran antara kedua pihak tidak dapat dihindarkan.

Di tengah-tengah berkecamuknya peperangan itu pasukan Mataram yang lain berdatangan seperti pasukan di bawah Sura Agul-Agul yang dibantu oleh Kiai Dipati Mandurareja dan Upa Santa. Datang pula laskar orang-orang Sunda di bawah pimpinan Dipati Ukur. Pasukan Mataram berusaha mengepung Batavia dari berbagai tempat. Terjadilah pertempuran sengit antara pasukan Mataram melawan tentara VOC di berbagai tempat.


Jalannya Perlawanan Mataram Terhadap VOC

Jalannya Perlawanan Mataram Terhadap VOC

Berikut ini terdapat beberapa jalannya perlawanan mataram terhadap voc, yaitu sebagai berikut:


  1. Proses Serangan Pertama Mataram Terhadap VOC (1628)

Konflik kepentingan antara ketiga belah pihak yaitu Mataram, VOC, serta Benten akan menimbulkan perang yang akan terjadi di Batavia. Sejak tahun 1620 telah disebut-sebut adanya maksud Mataram untuk menyerang Batavia, Mataram pernah diberitakan mengumpulkan 100.000 prajurit, untuk menyerang Batavia, namun pasukan ini batal menjalankan misinya karena ada kepentingan kerajaan yang lebih mendesak. Pada 1626 Sultan kembali diberitakan mengumpulkan pasukan sebanyak 900.000 yang akan dipersiapkan untuk menyerang orang kafir (VOC) di Batavia, namun misi ini juga gagal karena pasukan mataram harus memadamkan pemberontakan Pati (1627).

Pada April 1628 Mataram melakukan serangan pertamanya ke Batavia. Kyai Rangga dikirim ke Batavia dengan 14 perahu yang memuat beras, Kyai Rangga ini datang untuk meminta bantuan VOC untuk Mataram yang ingin menyerang Banten, tapi hal ini ditolak pihak VOC. 22 agustus 1628, 50 kapal mendarat di Batavia, dengan perlengkapan yang sangat komplit. 2 hari kemudian muncul 7 perahu meminta izin perjalanan ke Malaka, VOC telah menangkap sinyal serangan yang akan terjadi menyikapi hal itu VOC berusaha tidak mempertemukan kapal yang baru datang dengan yang terakhir datang, karena dikawatirkan terjadi pertukaran senjata antar kapal, namun usaha itu gagal.

Keesokan harinya 20 buah kapal Mataram menyerang pasar dan benteng Batavia, banyak korban yang jatuh. Namun VOC justru tak bergeming karena VOC sudah mensiasati ini agar VOC dapat dengan mudah mengusir pasukan Mataram karena tidak ada tempat persembunyian bagi pasukan Mataram. Melihat keadaan ini terpaksa pasukan Mataram mundur dan mengungsi ke daerah berpohon dan membangun benteng dari bambu anyaman serta membangun parit-parit di sekitar wilayah peperangan. Namun VOC mengirim tentara ke parit tersebut dan mengusir tentara Mataram yang ada di sana.

Tetapi Diceritakan pula di sumber lain bahwa pada 26 agustus 1628, datanglah pasukan Mataram ke Batavia berjumlah sekitar 10.000 pasukan yang dipimpin oleh Tumenggung Bahureksa, dengan cara berbaris mereka mendekati benteng VOC. Menyikapi hal ini pemimpin VOC memerintahkan untuk menebang hutan dan membakar perkampungan disekitarnya untuk membatasi gerak gerik pasukan Mataram.

Artikel Terkait:  12 Macam Organisasi Bentukan Jepang Di Indonesia

Namun pasukan Mataram tak tinggal diam dan membangun benteng pertahanan di daerah perang yang terbuat dari tumpukan pohon kelapa dan tumpukan pohon pisang serta dipagari oleh bambu yang sudah dibelah dua. Bahkan mereka juga membuat parit pertahanan untuk melindungi diri.

Di sumber lain disebutkan juga bahwa Bahureksa menulis surat ancama kepada Coen pada 21 septemeber 1628, yang isinya dalam waktu 10 atau 12 hari akan datang pasukan besar dibawah pimpinan Dipati Madurareja, Dipati Upasanta, Dipati Tohpati, dan Tumenggung Anggabaya kemudian akan datang pula pasukan yang sama besarnya di bawah pimpinan pangeran Adipati Juminah. Namun dalam keadaan berikutnya disebutkan bahwa tentara Baurekasa dipukul mundur dan tercerai berai bahkan peminpinnya pun gugur dalam pertempuran itu, VOC mengira mereka telah bebas dari musuh tetapi setelah pasukan Baureksa hancur, muncullah tentara kedua yang lebih besar panglima tertingginya yakni Tumenggung Sura Agulagul.

Ia berusaha membelokkan arah aliran sungai dan memaksa orang yang terkepung untuk menyerah pada Mataram. Tapi semua usaha ini sia-sia, pasukannya sendiri banyak yang mati karena penyakit dan kelaparan. Pada 3 Desember dia membubarkan pengepungannya dan membunuh panglima-panglima bawahannya yaitu Dipati Madurareja dan Dipati Upasanta bersama dengan orang-orangnya.

Kembali pada pernyatan awal, 21 oktober 1628 hampir seluruh pasukan VOC di Batavia dikerahkan untuk Melakukan serangan pada Mataram, kekuatan pasukan VOC itu sekitar 2.866 serdadu. Komandannya Letkol Jacques le Febvre. Pasukan kompeni dibagi menjadi beberapa kelompok pasukan yang bertugas menyerang pasukan Ukur dan Sumedang antara ialah:

Pasukan berkuda berjumlah 4 orang menyerang dari arah barat laut

Pasukan Avantrgarde, terdiri atas 3 regu yang dipimpin oleh, Kapten Dietloff Specht, ghysbert van Lodensteynx dan kapten Andrian Anthonisz, komandan gernisun benteng Batavia.

  • Batalion di bawah Mayor Vogel
  • Pasukan Arrieregarde
  • Pasukan orang-orang merdeka dan orang Jepang.

Seperti yang telah disebutkan pada di atas. Kegagalan diakibatkan oleh kurangnya persiapan dan juga terbatasnya bahan makanan juga serangan penyakit pada pasukan Mataram. Berhubung karena kegagalan ini maka atas dasar hukum yang berlaku di Mataram sejumlah pimpinan, yaitu pangeran Madurareja dan Upasanta dihukum mati, dan dengan demikian serangan pertama mengalami kegagalan.


  1. Proses Serangan Kedua Mataram Terhadap VOC (1629)

Setelah mengalami kekalahan pada serangan yang pertama(1628) Mataram kembali melakukan serangan yang kedua, maka persiapan pun dilakukan, bahkan dikatakan pasukan Mataram telah menyiapkan perbekalan logistik para prajurit di tempat-tempat tertentu dalam perjalanan ke Batavia. Pasukan Mataram berangkat dalam 2 gelombang, yang pertama berangkat akhir mei 1629 dan yang kedua 20 juni 1629, dan pada Bulan Agustus pasukan Mataram ditargetkan telah di Batavia.

Pada 20 juni 1629 ada kejadian penting yang akan merubah jalannya cerita kemenangan pasukan Mataram dalam menghadapi VOC. Mataram telah mengirim sekelompok utusan sebagai mata mata, namun salah seorang utusan malah membocorkan rahasia dan siasat ini, maka pada para utusan tiba di Batavia yang kedua kalinya, ia ditangkap dan diinterogasi perihal kemungkinan serangan Mataram yang kedua yang bakal terjadi. Mengetahui Mataram hendak melancarkan serangan keduanya VOC lalu membakar seluruh perbekalan logistik Mataram di seluruh tempat.

Pada 8 september 1629 pasukan mataram menggali parit pertahanan yang dilindungi kayu dan bambu, parit ini digali dari markas pertahanan pasukan mataram menuju benteng Holandia VOC, namun seperti biasa VOC selalu bisa menggagalkan proyek pertahanan Mataram tersebut. Terdapat pula kelompok lain yang juga berusaha merongrong pertahanan benteng Bommel.

Beberapa prajurit berusaha masuk ke benteng untuk membuka pintu, namun sebelum hal itu terjadi pasukan VOC telah menembaki prajurit mataram tersebut. Pernah pula pasukan Mataram berencana menyerang tembok benteng VOC dengan serangan meriam Mataram, namun VOC dibawah pimpinan Antonio van Diemen bisa mengatasi serangan itu, bahkan melancarkan serangan balik pada Mataram.

Dalam beberapa sumber disebutkan bahwa pada tanggal 20 September 1629 gubernur Jendral Jan Pieterszoon Coen meninggal dunia karena serangan penyakit. Pada hari yang sama terjadi serangan besar-besaran pasukan Mataram dan serangan puncak, serangan ini tertuju pada benteng Weesp, banyak pasukan Matram tertawan oleh pasukan VOC, maka pada suatu saat tawanan pasukan VOC sudah terlalu banyak yang tentunya menambah dana logistic VOC, maka diputuskan untuk menghentikan penawanan.

Kegagalan pada serangan puncak ini akan berakibat pada hilangnya semangat juang para prajurit Mataram ini, tapi sebenarnya akibat kekalahan tentara Mataram terletak pada kurangnya bahan makanan atau logistic pasukan Mataram, pada umumnya tentara Mataram mengalami kelaparan, bahkan disebutkan banyak yang meninggalkan arena peperangan karena kelaparan.

Artikel Terkait:  Kerajaan Hindu Budha Di Indonesia

Tokoh-Tokoh Perang Mataram Terhadap VOC

Tokoh-Tokoh Perang Mataram Terhadap VOC

Raja Mataram yang paling gigih menyerang VOC di Batavia adalah Sultan Agung Hanyakrakusuma. Perlawanan rakyat Mataram saat diperintah Sultan Agung Hanyakrakusuma untuk menyerang VOC di Batavia terjadi dua kali, meskipun kedua-duanya belum memperoleh keberhasilan.

Perlawanan rakyat Mataram terhadap VOC di Batavia dilakukan pada bulan Agustus 1628 yang dipimpin oleh Tumenggung Bahurekso. Walaupun pasukan Mataram kelelahan akibat menempuh jarak yang sangat jauh dengan persediaan bahan makanan yang mulai menipis, pasukan Mataram mampu melakukan serangan terhadap VOC di Batavia sepanjang hari.

Perlawanan rakyat Mataram kedua terhadap VOC di Batavia dilaksanakan tahun 1629 dan dipimpin oleh Dipati Puger dan Dipati Purbaya. Meskipun persediaan bahan pangan sudah mulai menipis, pasukan Mataram tetap menyerbu Batavia dan berhasil menghancurkan benteng Hollandia. Penyerbuan berikutnya dilanjutkan ke benteng Bommel tetapi belum berhasil karena pasukan Mataram sudah mulai kelelahan dan kekurangan bahan makanan.


Akibat Perang Mataram Terhadap VOC

Akibat Perang Mataram Terhadap VOC

Perlawanan pasukan Sultan Agung terhadap VOC memang mengalami kegagalan. Tetapi semangat dan cita-cita untuk melawan dominasi asing di Nusantara terus tertanam pada jiwa Sultan Agung dan para pengikutnya. Sayangnya semangat ini tidak diwarisi oleh raja-raja pengganti Sultan Agung. Setelah Sultan Agung meninggal tahun 1645, Mataram menjadi semakin lemah sehingga akhirnya berhasil dikendalikan oleh VOC.

Sebagai pengganti Sultan Agung adalah Sunan Amangkurat I. Ia memerintah pada tahun 1646 -1677. Ternyata Raja Amangkurat I merupakan raja yang lemah dan bahkan bersahabat dengan VOC. Raja ini juga bersifat reaksioner dengan bersikap sewenang-wenang kepada rakyat dan kejam terhadap para ulama. Oleh karena itu, pada masa pemerintahan Amangkurat I itu timbul berbagai perlawanan rakyat. Salah satu perlawanan itu dipimpin oleh Trunajaya.


Perjanjian Giyanti

Ketika kerajaan Mataram berada di Keraton Kartasura, terjadi pemberontakan oleh Mas garendi (Sunan Kuning). Alasannya karean ia mendesak Pakubuwana II (anak dari Pangeran Puger) yang berkuasa tahun 1726 sampai 1749, agar tidak berkerja sama dengan Kompeni Belanda. Kebijakannya diantaranya, Belanda diizinkan untuk membuat Benteng-benteng di Karatasura. Begitu juga pemberontakan dilakukan oleh Pangeran Sambernyowo (R.M. Said), karena daerah Sukowati yang diberikan pada ayahnya di cabut pada tahun 1742.

Akibat dari pemberontakan tersebut, akhirnya Pakubuwana II lari ke Ponorogo untuk meminta bantuan kepada Bupati Ponorogo dan kompeni Belanda. Atas bantuan Mayor Baron Van Hanendrof dan Adipati Bagus Suroto (Ponorogo), akhirnya pemberontakan dapat dipadamkan. Karena keadaan keraton Kartasura yang hancur, maka PB II mengutus Tumenggung Tirtowijoyo dan Pangeran Wijil untuk mencari tempat baru. Dengan berbagai pertimbangan, akhirnya pada tahun 1745, Sala dipilih sebagai tempat baru kerajaan dan berubah nama menjadi “Surakarta Hardiningrat”.

Campur tangan Belanda dalam setiap urusan di Mataram Surakarta membuat bangsawan kerajaan Surakarta pecah menjadi dua kelompok yaitu setuju dengan Belanda. Dan yang tidak setuju dengan Belanda. Yang tidak setuju termasuk adalah R. M Said (Pangeran Sambernyowo). Ia sering kali mendatangi tangsi-tangsi Belanda dan Merebut senjata mereka. Belanda dibuat pusing dengan pemberontakan tersebut dan Belanda menghadap PB II untuk meminta bantuan. Akhirnya PB II memberikan sayembara, siapa yang dapat mengatasi pemberontakan tersebut, maka akan di beri hadiah sebidang tanah di Surakarta (Mataram). Kemungkinan itu juga tidak lepas dari desakan Kompeni Belanda. Pangeran Mangkubumi (adik PB II; dan menjabat sebagai penasehat raja Mataram) menyanggupi untuk memadamkan pemberontakan Pangeran Sambernyowo tersebut.

Selain Raden Said, ada juga Ki Martapura (bekas Bupati Grobogan) yang bergabung dengan Raden Said untuk melawan Kompeni Belanda. Sebenarnya Pangeran Mangkubumi juga tidak suka terhadap Belanda. Akhirnya ia berbalik arah, yaitu dengan bergabung dengan Raden Said yang sudah selama sembilan tahun (1743-1752) melawan Kompeni Belanda. Pangeran Mangkubumi mengkabarkan ke Keraton bahwa pemberontakan sudah dipadamkan. Alangkah terkejutnya Pangeran Mangkubumi ketika diadakan Paseban Agung (upacara besar) yang dihadiri oleh segenap pembantu PB II dan pejabat Kompeni Belanda.Dalam acara tersebut Kompeni Belanda mengusulkan agar sebidang tanah tersebut diberikan kepada patih mataram bukan penasehat raja (Pangeran Mangkubumi).

Atas usul tersebut PB II bingung dan meminta pengertian dari adiknya (Pangeran Mangkubumi) untuk bisa menerima. Pangeran Mangkubumi meminta restu kepada PB II, bahwa ia akan mengusir Kompeni Belanda dari bumi Mataram. Mulai sejak itu Pangeran Mangkubumi menghimpun kekuatan dengan mendirikan Pasenggerahan di Sukowati. Selain itu juga ia bergabung denga rakyat Mataram di sebelah barat dan dengan Raden Said. Akhirnya Pemberotakan yang sudah direncanakan matang terjadi, pihak Kompeni Belanda dan Mataram mengalami kekalahan.

Akhirnya Belanda mengangkat topi dan memenuhi janjinya yaitu menyerahkan sebagian wilayah Mataram kepada yang dapat memadamkan pemberontakan (Pangeran Mangkubumi). Diadakan di Giyanti, pada tanggal 13 Februari tahun 1755, diadakan suatu perundingan perdamaian (Perjanjian Giyanti). Intinya Mataram di bagi menjadi dua. Wilayah sebelah timur disebut Kasunanan Surakarta dengan Pakubuwana II sebagai raja dan wilayah Barat disebut Kasultanan Yogyakarta dengan Pangeran Mangkubumi sebagai raja yang bergelar Hamengku Buwono I (HB I).

Setelah diadakan perjajian Giyanti, Pangeran Mangkubumi menghentikan pemberontakannya. Kemudian hidup tentram tanpa gangguan Belanda. Sedangkan Raden Said tetap melakukan pemberontakan terhadap Kompeni Belanda di Surakarta.


Perjanjian Salatiga

Wilayah Mataram sudah dibagi menjadi dua, dan Pangeran Mangkubumi sudah mengakhiri pemberotakannya. Namun tidak begitu dengan Raden Said (Pangeran Sambernyowo; 1725-1795), ia tetap melanjutkan pemberontakannya terhadap Belanda di Surakarta. Raden Said sangat membenci terhadap Kompeni Belanda dan menginginkan adanya persamaan hak dan kewajiban rakyat Mataram. Sejak kecil ia sudah membenci Kompeni belanda. Pada umur 16 tahun ia sudah memberontak bersama Sunan Kuning terhadap belanda. Tepatnya pada 30 Juni 1742.

Dengan adanya perjanjian Giyanti sebenarnya ditentang oleh Raden Said, karena hal tersebut adalah rekayasa Kompeni Belanda untuk memecah mataram. Setelah Pangeran Mangkubumi sudah menjadi Raja Yogyakarta, Raden Said berjuang sendirian memimpin pasukan melawan dua kerajaan yaitu, Pakubuwono III & Hamengkubuwono I (yaitu P. Mangkubumi, yang dianggapnya berkhianat dan dirajakan oleh VOC), padahal Pangeran Mangkubumi dulunya adalah temannya dalam melawan Kompeni Belanda, serta perlawanan pasukan Kumpeni (VOC), pada tahun 1752-1757.

Selama kurun waktu 16 tahun, pasukan Raden Said melakukan pertempuran sebanyak 250 kali.
Karena pemberontakan yang dilakukan terus menerus, akhirnya terjadilah perdamaian dengan Sunan Paku Buwono III. Dengan ditanda tanganinya Perjanjian Salatiga, pada17 Maret 1757 di Salatiga. Isinya adalah untuk menetapkan wilayah kekuasaan Mangkoenagoro.

Perjanjian ini memberi Pangeran Sambernyawa separuh wilayah Surakarta (4000 karya, mencakup daerah yang sekarang adalah Kabupaten Wonogiri dan Kabupaten Karanganyar, dan sedikit wilayah di Yogyakarta).

Dalam perjanjian yang hanya melibatkan Sunan Paku Buwono III, dan saksi utusan Sultan Hamengku Buwono I (Patih Danurejo) dan Kumpeni Belanda, juga disepakati bahwa, Raden Said (pangeran sambernyowo) diangkat menjadi Mangkoenagoro I dan menjadi penguasa kadipaten Mangkunegaran. Mangkunegoro hanya sebagai Adipati Miji (alias mandiri) dan tidak menyandang gelar Sunan atau sultan. Walaupun sebagai Adipati mijil, kedudukan hukum mengenai Mangkunagoro I, tidaklah sama dengan Kasunanan surakarta.


Dampak Perang Mataram Terhadap VOC

Berikut ini terdapat beberapa dampak perang mataram terhadap voc, terdiri atas:

  • Munculnya pemberontakan yang diakibatkan dari kekalahan atas VOC.
  • Berkurangnya kepercayaan rakyat Mataram terhadap Sultan Agung.
  • Banyak daerah Mataram yang melepaskan diri.
  • Berkurangnya pasokan SDA karena telah dibabat habis oleh VOC.
Artikel Terkait:  [Inilah] Kisah Prabu Siliwangi (Sri Baduga Maharaja)

Akhir Perlawanan Rakyat Mataram Terhadap VOC

Akhir Perlawanan Rakyat Mataram Terhadap VOC

Keberhasilan Mataram dapat dibalas oleh VOC. VOC mengalahkan Mataram dengan menghancurkan lumbung-lumbung padi di Cirebon dan Tegal dengan cara dibakar. Akibatnya, pasukan Mataram yang menyerang VOC kesulitan pangan. Selain itu jarak antara Yogyakarta dengan Batavia, kalahnya persenjataan, dan penyakit malaria menjadi alasan kekalahan Mataram dalam menghadapi VOC.

Kegagalan yang kedua kalinya ini tidak membuat Sultan Agung, malah membuat Sultan Agung memunyai keinginan membuat penyerangan yang ketiga. Namun, hal tersebut tidak terwujud karena tahun 1645 Sultan Agung meninggal dunia.


Daftar Pustaka:

  1. Kartodirdjo, Sartono 1987 Pengantar Sejarah Indonesia Baru: Dari Emporium sampai Imperium, Gramedia, Jakarta.
  2. Tjandrasasmita, Uka (ed.) 1977 Sejarah Nasional Indonesia II, Balai Pustaka, Jakarta
  3. Ricklefs, M.C 2005 Sejarah Indonesia Modern, Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.
  4. Nugroho, Notosusanto.dkk.1993.Sejarah Nasional Indonesia IV. Jakarta; Balai Pustaka.
  5. Sartono, Kartodirjo. 1998. Dari Imperium sampai Emporium Jilid II. Jakarta: Gramedia.
  6. Wayan, Badrika. 1999. Sejarah Nasional dan Umum Jilid 2. Jakarta; Erlangga.

Demikian Penjelasan Pelajaran IPS-Sejarah Tentang Perlawanan Rakyat Mataram: Latar Belakang, Jalan, Tokoh, Akibat, Perjanjian, Dampak & Akhir

Semoga Materi Pada Hari ini Bermanfaat Bagi Siswa-Siswi, Terima Kasih !!!


Baca Artikel Lainnya: