Konsep Wilayah Dan Perwilayahan

Assalammualaikum, Selamat datang di Kelas IPS. Disini Ibu Guru akan membahas tentang pelajaran Geografi yaitu Tentang “Wilayah Dan Perwilayahan“. Berikut dibawah ini penjelasannya:

Wilayah-dan-Perwilayahan

Pengertian Wilayah

Wilayah atau region diartikan sebagai suatu bagian permukaan bumi yang memiliki karakteristik khusus atau khas tersendiri yang menggambarkan satu keseragaman atau homogenitas sehingga dengan jelas dapat dibedakan dari wilayahwilayah lain di daerah sekitarnya. Karakteristik khas dari suatu wilayah dapat berupa keadaan alam (kondisi fisik), ekonomi, demografi, dan sosial-budaya.

Secara umum suatu wilayah dapat dibedakan menjadi dua, yaitu wilayah formal (formal region) dan wilayah fungsional (functional region atau nodal region). Pengertian wilayah formal identik dengan definisi wilayah secara umum, yaitu suatu daerah atau kawasan di muka bumi yang memiliki karakteristik yang khas sehingga dapat dibedakan dari wilayah lain di sekitarnya.


  1. Wilayah Formal

Wilayah formal adalah kawasan geografis yang melmiliki kritera-kriteria tertentuyang homogen atau seragam misalnya kriteria fisik adalah iklim, vegetasi dan topografi, sedangkan kriteria sosial dan politik adalah partai politik, tipe pertanian, tipe industri, jumlah pengangguran, tingkat pendapatan dan laju pertumbuhan ekonomi. Wilayah formal sering juga disebut uniform regional.


  1. Wilayah Fungsional

Wilayah fungsional adalah kawasan Geografis yang di fungsikan menurut jenis dan kekuasaannya atau suatu wulayah yang sering berhubungan antara bagian satu dengan yang lainnya. Wilayah fungsional sering disebut wilayah nodal atau Polaried Region. Wilayah ini memiliki bagian-bagian yang Heterogon misalnya desa dan kota secara fisik berbeda tetapi secara fungsional saling berhubungan.

Wilayah (region) didefinisikan sebagai suatu unit geografi yang di batasi oleh kriteria tertentu dan bagian-bagiannya tergantung secara internal.

Wilayah dapat di bagi menjadi empat jenis yaitu; (1) wilayah homogen, (2) wilayah nodal, (3) wilayah perencanaan, (4) wilayah administrative.

Wilayah homogen adalah wilayah yang dipandang dari aspek/kriteria mempunyai sifat-sifat atau ciri-ciri yang relatif sama. Sifat-sifat atau ciri-ciri kehomogenan ini misalnya dalam hal ekonomi (seperti daerah dengan stuktur produksi dan kosumsi yang homogen, daerah dengan tingkat pendapatan rendah/miskin dll.),geografi seperti wilayah yang mempunyai topografiatau iklim yang sama), agama, suku, dan sebagainya. Richarson (1975) dan Hoover (1977) mengemukakanbahwa wilayah homogen di batasi berdasarkan keseragamamnya secara internal (internal uniformity).

Wilayah nodal (nodal region) adalah wilayah yang secara fungsional mempunyai ketergantungan antarapusat (inti) dan daerah belakangnya (interland. Tingkat ketergantungan ini dapat dilihat dari arus penduduk, faktor produksi, barang dan jasa, ataupunkomunikasi dan transportasi. Sukirno (1976) menyatakan bahwa pengertian wilayah nodal yang paling ideal untuk digunakan dalam analisis mengenai ekonomi wilayah,mengartikan wilayah tersebut sebagai ekonomi ruang yang dikuasai oleh suatu atau beberapa pusat kegiatan ekonomi. tersebut sebagai ekonomi.

Wilayah administratif adalah wilayah yang batas-batasnya di tentukan berdasarkan kepentingan administrasi pemerintahan atau politik, seperti: propinsi, kabupaten, kecamatan, desa/kelurahan, dan RT/RW. Sukirno (1976) menyatakan bahwa di dalam praktik, apabila membahas mengenai pembangunan wilayah, maka pengertian wilayah administrasi merupakan pengertian yang paling banyak digunakan.

Lebih populernya pengunaan pengertian tersebut disebabkan dua factor yakni: (a) dalam kebijaksanaan dan rencana pembangunan wilayah diperlukan tindakan-tindakan dari berbagai badan pemerintahan. Dengan demikian, lebih praktis apabila pembangunan wilayah didasarkan pada suatu wilayah administrasi yang telah ada; dan (b) wilayah yang batasnya ditentukan berdasarkan atas suatu administrasi pemerintah lebih mudah dianalisis, karena sejak lama pengumpulan data diberbagai bagian wilayah berdasarkan pada suatu wilayah administrasi tersebut.

Artikel Terkait:  Cagar Alam di Indonesia

Namun, dalam kenyataannya, pembangunan tersebut sering kali tidak hanya dalam suatu wilayah administrasi, sebagai contoh adalah pengelolaan pesisir, pengelolaan daerah aliran sungai, pengelolaan lingkungan dan sebagainya, yang batasnya bukan berdasarkan administrasi namun berdasarkan batas ekologis dan seringkali lintas batas wilayah administrasi.

Boudeville (dalam Glasson, 1978) mendefinisikan wilayah perencanan (planning region atau programming region) sebagai wilayah yang memperlihatkan koherensi atau kesatuan keputusan-keputusan ekonomi. Wilayah perencanaan dapt dilihat sebagai wilayah yang cukup besar untuk memungkinkan terjadinya perubahan-perubahan penting dalam penyebaran penduduk dan kesempatankerja, namun cukup kecil untuk memungkinkan persoalan-persoalan perencanaannya dapatdipandang sebagai satu kesatuan.

Berdasarkan pada suatu kenyataan bahwa wilayah berada dalam satu kesatuan politis yang umumnya dipimpin oleh suatu sistem birokrasi atau sistem kelembagaan dengan otonomi tertentu. wilayah yang dipilih tergantung dari jenis analisis dan tujuan perencanaannya. Sering pula wilayah administratif ini sebagai wilayah otonomi. Artinya suatu wilayah yang mempunyai suatu otoritas melakukan keputusan dan kebijaksanaan sendiri-sendiri dalam pengelolaan sumberdaya-sumberdaya di dalamnya.


Konsep Wilayah Menurut Para Ahli

Rustiadi, et al. (2006) wilayah dapat didefinisikan sebagai unit geografis dengan batas-batas spesifik tertentu dimana komponen-komponen wilayah tersebut satu sama lain saling berinteraksi secara fungsional. Sehingga batasan wilayah tidaklah selalu bersifat fisik dan pasti tetapi seringkali bersifat dinamis. Komponen-komponen wilayah mencakup komponen biofisik alam, sumberdaya buatan (infrastruktur), manusia serta bentuk-bentuk kelembagaan.

Dengan demikian istilah wilayah menekankan interaksi antar manusia dengan sumberdaya-sumberdaya lainnya yang ada di dalam suatu batasan unit geografis tertentu. Konsep wilayah yang paling klasik (Hagget, Cliff dan Frey, 1977 dalam Rustiadi et al., 2006) mengenai tipologi wilayah, mengklasifikasikan konsep wilayah ke dalam tiga kategori, yaitu:

  1. wilayah homogen (uniform/homogenous region);
  2. wilayah nodal (nodal region); dan
  3. wilayah perencanaan (planning region atau programming region).

Sejalan dengan klasifikasi tersebut, (Glason, 1974 dalam Tarigan, 2005) berdasarkan fase kemajuan perekonomian mengklasifikasikan region/wilayah menjadi :

  • fase pertama yaitu wilayah formal yang berkenaan dengan keseragaman/homogenitas. Wilayah formal adalah suatu wilayah geografik yang seragam menurut kriteria tertentu, seperti keadaan fisik geografi, ekonomi, sosial dan politik.
  • fase kedua yaitu wilayah fungsional yang berkenaan dengan koherensi dan interdependensi fungsional, saling hubungan antar bagian-bagian dalam wilayah tersebut. Kadang juga disebut wilayah nodal atau polarized region dan terdiri dari satuan-satuan yang heterogen, seperti desa-kota yang secara fungsional saling berkaitan.
  • fase ketiga yaitu wilayah perencanaan yang memperlihatkan koherensi atau kesatuan keputusan-keputusan ekonomi.

Saefulhakim, dkk (2002) wilayah adalah satu kesatuan unit geografis yang antar bagiannya mempunyai keterkaitan secara fungsional. Wilayah berasal dari bahasa Arab “wālā-yuwālī-wilāyah” yang mengandung arti dasar “saling tolong menolong, saling berdekatan baik secara geometris maupun similarity”. Contohnya: antara supply dan demand, hulu-hilir.

Oleh karena itu, yang dimaksud dengan pewilayahan (penyusunan wilayah) adalah pendelineasian unit geografis berdasarkan kedekatan, kemiripan, atau intensitas hubungan fungsional (tolong menolong, bantu membantu, lindung melindungi) antara bagian yang satu dengan bagian yang lainnya. Wilayah Pengembangan adalah pewilayahan untuk tujuan pengembangan/pembangunan/development. Tujuan-tujuan pembangunan terkait dengan lima kata kunci, yaitu:

  1. pertumbuhan;
  2. penguatan keterkaitan;
  3. keberimbangan;
  4. kemandirian;
  5. keberlanjutan.

Pengertian Perwilayahan

Regionalisasi di dalam geografi adalah suatu upaya mengelompokkan atau mengklasifikasikan unsur-unsur yang sama. Mengingat lokasi di muka bumi memiliki jumlah tak terbatas dan cenderung saling berdekatan, maka lokasi-lokasi tersebut harus disusun dan dikelompokan menurut kriteria tertentu. Dengan demikian informasi yang diperlukan dapat diperoleh secara efisien dan ekonomis. Salah satu prinsip pembuatan suatu region adalah menyederhanakan wilayah tersebut dengan cara menyatukan tempat-tempat yang memiliki kesamaan atau kedekatan tersebut menjadi satu kelompok.

Artikel Terkait:  Pengertian Wilayah Menurut Para Ahli, Ciri dan Macam Lengkap

Regionalisasi selalu didasarkan pada kriteria dan kepentingan tertentu. Misalnya, pada pembagian region permukaan bumi berdasarkan iklim maka kriteria yang digunakan adalah unsur cuaca, seperti temperatur, curah hujan, penguapan, kelembapan, dan angin. Regionalisasi menurut iklim ini sangat berguna untuk mengetahui persebaran hewan dan tumbuhan, tetapi mungkin kurang berguna dalam hal komunikasi atau transportasi. Karena itulah pengelompokkan region dapat disesuaikan dengan kebutuhan pengguna, tergantung pada kepentingan atau tujuan pengelompokkan region tersebut.

Regionalisasi suatu fenomena atau gejala di muka bumi memberikan berbagai manfaat.


Manfaat Perwilayahan

Beberapa manfaat tersebut antara lain sebagai berikut.

  • Membantu memisahkan sesuatu yang berguna dari yang kurang berguna.
  • Mengurutkan keanekaragaman permukaan bumi.
  • Menyederhanakan informasi dari suatu gejala atau fenomena di permukaan yang sangat beragam.
  • Memantau perubahan-perubahan yang terjadi baik gejala alam maupun manusia.

Pendekatan Kajian Geografi Regional

Dinamika adalah sifat dari kehidupan, temasuk ilmu pengetahuan. Perkembangan materi, ruang lingkup, metode dan analisis merupakan bagian dari perkembangan pemikiran manusia untuk mencari suatu kebenaran secara ilmiah. Geografi sebagai bidang ilmu yang berkaitan, dengan kehidupan manusia dan dalam analisisnya menyentuh berbagai bidang ilmu lainnya, maka dalam menganalisis fakta secara total memerlukan integritas semua cabang ilmu geografi.

Dalam hal ini Geografi regional menduduki peranan yang sangat strategis. Karena memang gejala dan fenomena yang ada di permukaan bumi pada dasarnya selalu saling terkait dan dalam pemecahannya memerlukan integritas berbagai bidang ilmu. Pemahaman akan keterkaitan gejala-gejala di permukaan bumi di suatu wilayah tertentu merupakan inti dari geografi.

Dalam mengapresiasikan tempat, beberapa pendekatan dapat dipergunakan tetapi semuanya harus bersifat korologis, karena itu adalah ciri khas dari disiplin ilmu geografi. Geografi regional sangatlah memadai untuk hal tersebut. Geografi regional mengapresiasikan gejala secara total, dimana gejala itu memberikan ciri yang khas baik yang menyangkut kualitas maupun kuantitasnya sendiri.

Dalam mempelajari ilmu geografi, terdapat tiga pendekatan yang digunakan untuk mengkaji, yaitu :


1. Pendekatan Keruangan

Pendekatan ini digunakan untuk mengetahui persebaran dalam penggunaan ruang yang telah ada dan bagaimana penyediaan ruang akan dirancang. Dalam mengkaji fenomena geografi dapat menggunakan 3 subtopik dari pendekatan keruangan, yaitu :


  1. Pendekatan Topik

Pendekatan ini digunakan untuk mengkaji masalah/fenomena geografi dari topik tertentu yang menjadi pusat perhatian, misalnya tentang wabah penyakit di suatu wilayah dengan cara mengkaji :

  • penyebab wabah penyakit (misal : virus atau bakteri)
  • media penyebarannya
  • proses penyebaran
  • intensitasnya
  • interelasinya dengan gejala-gejala lain di sekitarnya.

Dengan pendekatan tersebut akan dapat diperoleh gambaran awal dari wabah penyakit yang terjadi.


  1. Pendekatan Aktivitas

Pendekatan ini mengkaji fenomena geografi yang terjadi dari berbagai aktivitas yang terjadi. Misalnya hubungan mata pencaharian penduduk dengan persebaran dan interelasinya dengan gejala-gejala geosfer.


  1. Pendekatan Regional

Pendekatan ini mengkaji suatu gejala geografi dan menekankan pada region sebagai ruang tempat gejala itu terjadi. Region adalah suatu wilayah di permukaan bumi yang memiliki karakteristik tertentu yang khas.


2. Pendekatan Kelingkungan (Pendekatan Ekologis)

Digunakan untuk mengetahui keterkaitan dan hubungan antara unsur-unsur yang berada di lingkungan tertentu, yaitu :

  • hubungan antar makhluk hidup
  • hubungan antara makhluk hidup dengan lingkungan alamnya
Artikel Terkait:  Lapisan Atmosfer dan Fungsinya

Contoh dari keterkaitan antar unsur misalnya petani di daerah lahan miring pasti akan melakukan kegiatan pertanian dengan sistem terrassering.


3. Pendekatan Kewilayahan

Merupakan kombinasi antara pendekatan keruangan dan kelingkungan. Misalnya dalam mengkaji wilayah yang memiliki karakaterisitik wilayah yang khas yang dapat dibedakan satu sama lain (areal differentation), maka harus diperhatikan bagaimana persebarannya (analisis keruangan) dan bagaimana interaksi antara manusia dengan lingkungan alamnya (analisis ekologi). Pendekatan wilayah sangat penting untuk pendugaan wilayah (reginal forecasting) dan perencanaan wilayah (regional planning).


Ciri-Ciri Perwilayahan

Berikut ini terdapat beberapa ciri-ciri dari perwilayahan, yaitu sebagai berikut:


  1. Single Topic Region

Pewilayahan berciri tunggal disebut juga dengan single topic region merupakan suatu penetapan region atau wilayah yang didasarkan pada salah satu aspek geografi. Contohnya seperti tekanan pada udara dapat digunakan untuk membedakan antara wilayah dataran rendah serta juga wilayah dataran tinggi.


  1. Multi Topic Region

Pewilayahan yang berciri majemuk juga disebut multi topic region merupakan penetapan wilayah yang didasarkan pada faktor- faktor geografi. Contohnya yakni penetapan wilayah dengan berdasarkan kondisi iklim pada daerah tersebut. Dalam penetapan iklim tersebut pasti akan digunakan faktor- faktor geografi seperti misalnya angin, intensitas cahaya, suhu, curah hujan dan lain sebagainya.


  1. Total Region

Pewilayahan dengan bercirikan keseluruhan juga disebut total region merupakan penetapan wilayah yang didasarkan pada banyak sekali faktor menyangkut itu lingkungan alam, lingkungan manusia maupun juga lingkungan biotik. Contohnya dalam penetapan wilayah hutan pinus, hutan cemara, hutan jati dan lain  sebagainya.


Tujuan Wilayah dan Perwilayahan

Berikut ini terdapat beberapa tujuan dari wilayah dan perwilayahan, yaitu sebagai berikut:


  • Meratakan Pembangunan

Fungsi utamanya dari ciri-ciri wilayah dan perwilayahan adalah dapat memertakan pembangunan di semua wilayah yang secara de facto dan de jure menjadi kekuasaan NKRI. Dengan kondisi ini sehingga dapat mengurangi kesenjangan pembangunan yang selama ini terjadi di semua wilayah-wilayah di Indonesia.


  • Kordinasi

Peranan yang diberikan lainnya tentang konsep wilayah dan perwilayahan ini adalah mampu untuk memberikan koordinasi dari berbagai jenis-jenis program pembangunan di setiap daerah. Kondisi inilah setidaknya dikemudian hari tidak ada ketimpangan kepentingan antara pemerintah di daerah satu dengan yang lainnya.


  • Sosialisasi

Tujuan lainnya yang dapat dikejelaskan adalah mampu untuk menyosialisasikan berbagai program pembangunan kepada aparatur pemerintah, kepada masyarakat, dan pengusaha yang beradal dalam semua sektor pembengunan yang telah direncanakan.


Daftar Pustaka:

  1. I Made Sandy, 1996. Republik Indonesia Geografi Regional. Jakarta: Penerbit Jurusan Geografi FMIPA Universitas Indonesia-PT. Indograph Bakti.
  2. Burgess, E.W. (1925) ”The Geography of city” dalam R.E. Park et. Al. The City, Chicago: Chacago University Press.

Demikian Penjelasan Pelajaran IPS-Geografi Tentang Wilayah dan Perwilayahan: Pengertian, Ciri, Tujuan, Konsep, Manfaat & Pendekatan

Semoga Materi Pada Hari ini Bermanfaat Bagi Siswa-Siswi, Terima Kasih !!!


Baca Artikel Lainnya: